Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Jawab Yang Kau Ketahui Saja


__ADS_3

Tiga malam ini, Nadia tak pulang ke apartemen. Rangga tidak pernah meniduri ranjang istrinya itu.


Setiap terbangun di tengah malam ia selalu memandangi ranjang. "Ke mana dia sebenarnya?"


Rangga berjalan menuju ruang tamu menikmati siaran televisi sambil meminum kopi. Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua pagi, tapi matanya tak dapat terpejam.


Ia mengambil ponselnya, tak ada satu pesan yang dikirimkan istrinya. Rangga membuka aplikasi pesan berwarna hijau, ia mencari nama istrinya namun ia urungkan untuk mengirimkan pesan. Ia dapat melihat jika istrinya baru saja aktif sejam yang lalu.


Rangga melanjutkan menonton siaran televisi, terdengar suara pintu terbuka. Nadia menggeret kopernya seorang diri, ia tak menyapa suaminya yang ada di ruang tamu dan memilih cuek.


Mata Rangga mengikuti langkah istrinya menuju kamarnya, ia bergegas mematikan televisi dan menyusul Nadia.


"Kenapa baru pulang?" Pertanyaan Rangga menghentikan gerakan tangan Nadia yang hendak mengambil handuk di lemari.


"Mobilku tadi mogok, beruntung ada orang baik yang menolong," jawab Nadia tanpa menatap suaminya.


"Kenapa tidak memberitahuku?"


"Apa kau sudah membuka hati untukku?"


"Nadia, sekarang kita sudah menikah. Ya, aku harus tahu keberadaan dirimu. Bagaimana jika suatu waktu orang tuaku datang dan menanyakan dirimu?"


"Jawab yang kau ketahui saja!" Nadia bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


...****************...


Suara berisik terdengar dari arah dapur, Nadia berkutat dengan aktivitas memasaknya. Pagi ini membuat nasi goreng dengan telur ceplok. Ia menghidangkan dua piring di meja makan.


Rangga yang bersiap akan ke kantor, mendekati meja makan dan melihat menu yang dibuat Nadia. Dua piring nasi goreng dan dua gelas jus jeruk.


"Aku lihat di penanak masih tersisa nasi, jadi aku buat nasi goreng untuk sarapan pagi kita," Nadia menatap makanan di meja. "Kalau kau tidak ingin memakannya, tak menjadi masalah. Aku bisa buatkan sarapan yang lain untukmu," tawarnya.


"Aku makan yang ini saja," Rangga menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya. Ia mulai menikmati sarapan pagi buatan istrinya.


"Maaf, kalau rasanya tidak enak!" Nadia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Cukup enak!" puji Rangga.


-


"Mari sarapan, Nak!" Reno memanggil Rania.


"Sebentar lagi, Yah. Botol susu Anira belum ada," teriak Rania dari kejauhan.


"Arya, suruh istrimu sarapan. Ayah tidak mau dia sakit," titah Reno pada menantunya.


"Baik, Yah." Arya menyerahkan urusan Anira kepada pengasuh lalu memanggil istrinya.

__ADS_1


Rania dan Arya datang bersamaan, keduanya bergabung dengan Reno.


"Jangan terlalu sibuk, sempatkan untuk mengisi perut," nasehatnya pada putrinya.


"Iya, Yah." Rania mengambil nasi untuk ayah dan suaminya.


"Ayah dengar Papa kamu akan segera bebas?" tanya Reno.


"Iya, Yah. Minggu depan ia selesai menjalani hukuman," jawab Arya.


"Apa kalian sudah tahu, perusahaan mana yang melaporkan Gunadi?"


"Sampai sekarang kami belum tahu, Papa Gunadi melarang kami hadir di sidang kasus penipuan itu," jelas Arya.


"Cukup aneh," ujar Reno.


"Ya, kami juga sempat curiga. Kenapa Papa melarang keluarganya bertanya tentang kasus penipuan itu, dia menyerahkannya kepada kuasa hukumnya saja," ungkap Arya.


"Semoga saja hukuman yang didapatkan Gunadi bisa membuatnya berubah," harap Reno.


"Semoga saja, Yah!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen 🌹


Selamat Membaca


__ADS_2