
Seminggu ini Rangga selalu tidur di ruang tamu. Jam 10 malam Nadia tiba di apartemen. Rangga segera mematikan siaran televisi. Ia berjalan menghampiri istrinya.
"Apa pekerjaanmu di Kota E telah selesai?"
Pertanyaan Rangga membuat Nadia menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah suaminya. "Sudah!"
"Kau tidak akan pergi ke sana lagi, kan?"
"Kemungkinan dua hari lagi aku akan ke sana."
"Kau ingin bertemu dengannya lagi?" tanya Rangga menaruh curiga.
Nadia mengerutkan keningnya.
"Kenapa diam? Kau bertemu dengan pria itu 'kan di sana?"
"Pria yang mana?" Nadia tampak bingung.
Rangga menunjukkan foto di ponselnya kepada istrinya.
"Kau mengikuti aku?" Nadia mulai kecewa.
"Apa dia kekasihmu?" Rangga mulai meninggikan suaranya.
"Iya," jawab Nadia lantang.
Rangga mengeraskan rahangnya, ia mencengkram lengan Nadia. "Kalau kau punya kekasih, kenapa kau mau menikah denganku?"
"Aku baru saja mengenalnya dan aku jatuh cinta padanya!"
Refleks, Rangga melepaskan genggamannya secara kasar membuat Nadia meringis kesakitan.
"Kenapa kau marah? Bukankah kau tidak mencintaiku?" Nadia menatap sinis suaminya.
Rangga meraih tengkuk Nadia, ia membenamkan ciuman di bibir istrinya secara dalam.
__ADS_1
Nadia berusaha melepasnya, namun tenaga suaminya lebih kuat. Rangga melepaskan tautannya saat bibirnya digigit istrinya.
Dengan nafas tersengal, Nadia melihat Rangga memegang bibirnya yang tampak berdarah.
Rangga meraih tisu yang ada di meja tamu dan mengelap bibirnya yang luka. Ada perasaan marah dan kesal pada istrinya.
"Maaf!" Nadia menatap dengan pandangan kosong.
Rangga lantas ke kamar lalu ia mengambil kunci tanpa berpamitan ia pergi meninggalkan istrinya yang masih mematung.
Sementara Nadia berusaha menahan tangis, terduduk di lantai.
-
Pukul 3 pagi, Rangga kembali ke apartemennya. Seluruh ruangan lampu masih menyala, Nadia tidur di ruang tamu. Ia tampak begitu terlelap dengan mata sedikit membengkak.
"Apa dia habis menangis?" batin Rangga bertanya.
Rangga mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya ke dalam kamar. Ia membaringkan Nadia di ranjang dan memperbaiki selimutnya.
Rangga hendak keluar, membalikkan tubuhnya dan mendekati istrinya yang mengigau.
"Tolong, jangan bawa dia!" Nadia kembali mengoceh dalam tidurnya.
Rangga menepuk pelan pipi istrinya, "Nadia!"
Perlahan Nadia membuka matanya lalu terbangun. Ia menatap heran suaminya yang kini berhadapan dengannya.
Rangga meraih gelas berisi air putih lalu menyodorkannya, "Minumlah!"
Nadia meraih gelas itu lalu meminumkan isinya. "Terima kasih!" ucapnya lirih.
"Kau sangat lelah akhir-akhir ini hingga tidur sambil mengoceh."
"Memang aku mengoceh apa?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Jangan sakiti Bibiku dan jangan bawa dia," jawab Rangga.
"Benarkah?" Nadia tak percaya.
"Apa aku harus merekam suaramu agar kau percaya?"
tanya Rangga.
Nadia menggelengkan kepalanya, "Tidak!"
"Siapa Bibi?"
"Tidak ada," Nadia menyibakkan selimutnya dan ingin menghindar dari suaminya.
"Mau ke mana?" Rangga menahan tangan istrinya.
"Aku tidur di ruang tamu saja, ini apartemen milikmu."
"Kau belum menjawab pertanyaan aku, siapa Bibi?"
"Bukan siapa-siapa," Nadia berusaha menutupi.
"Apa dia wanita yang ada di rumah sakit itu?"
Pertanyaan Rangga membuat Nadia mengarahkan pandangannya kepada suaminya.
"Ya," akhirnya Nadia menjawab jujur.
"Kenapa kau tidak memberitahuku tentang bibimu itu?"
"Aku terpaksa menyembunyikannya," Nadia menundukkan kepalanya berusaha menahan tangis.
Rangga mengangkat dagu Nadia, "Bicaralah jika kau ingin!"
"Maafkan aku, Rangga!" tak terasa air matanya mulai menetes.
__ADS_1
Rangga meraih tubuh istrinya dan mendekapnya, Nadia tak menolaknya.