Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Tinggal Bersama


__ADS_3

Dua hari setelah menikah, Rangga kembali ke rumahnya ia ingin mempersiapkan kepindahannya ke apartemen miliknya.


Sebelum pindah, pasangan pengantin baru itu menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tua Rangga.


"Kalian tinggal di sini saja," pinta Sarah pada anak dan menantunya.


"Maaf, Ma. Tidak bisa, apartemen yang akan kami tempati berdekatan dengan kantor Nadia," jelas Rangga memberikan alasan.


"Benar, Ma." Nadia ikut menjelaskan.


"Tapi kalian akan sering main ke sini, kan?" Sarah menatap Rangga dan dijawab olehnya dengan anggukan.


Selesai sarapan, keduanya bergegas pergi ke apartemen milik Rangga. Sesampainya di sana, Nadia mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya. "Aku harus tidur di mana?"


"Kamar cuma ada satu, jadi kita tidur bersama. Aku akan membeli ranjang kecil untukmu," jelas Rangga.


"Kau hanya memberikan aku ranjang kecil, aku tidak mau!"


"Ini apartemen milikku, jadi kau tidak berhak untuk memilih!"


"Kalau begitu aku tinggal di apartemen ku saja," Nadia membalikkan badannya hendak keluar.


"Baiklah, kau boleh menempati ranjang milikku. Ini juga demi kedua orang tua ku!" Rangga mengangkat koper miliknya ke dalam kamarnya disusul oleh Nadia.


"Setelah ini apa yang akan kita lakukan?"

__ADS_1


"Kau mau kita melakukan apa?" Rangga menatap istrinya.


"Maksudku bukan yang itu?" Nadia tampak salah tingkah.


"Aku mau keluar sebentar, kau bebas melakukan apapun di sini. Tapi ingat, jangan sentuh barang-barang milikku," Rangga memperingatkan.


"Aku juga malas menyentuhnya," Nadia menyebikkan bibirnya.


...****************...


Nadia menggeliatkan tubuhnya ketika mentari menyinari ruang kamarnya. Sementara itu di sofa, Rangga tak nampak.


Nadia memeriksa seluruh isi kamar, mencari suaminya berada. Ia lalu keluar melihat pria tampan yang kini jadi suaminya itu sedang menikmati roti selai kacang dengan segelas susu.


Nadia mendekati meja makan, mengambil piring dan gelas kotor. Ia bawa ke tempat cucian piring lalu mencucinya. Ia membuka lemari es, hanya tersedia telur dan sosis. Ia memasak dua jenis bahan makanan tersebut, setelah itu ia memakannya.


Selesai mengisi perutnya, ia membersihkan seluruh ruangan apartemen Rangga. Setelah itu, dirinya bergegas mandi lalu berangkat ke kantor.


-


-


Jam 11 malam, Nadia baru pulang. Namun, suaminya juga belum menampakkan batang hidungnya. "Ke mana dia? Apa tadi dia pulang lalu pergi lagi?"


Pukul 2 pagi, Rangga masuk ke dalam kamar. Nadia melihat suaminya pulang, terbangun lalu duduk. "Dari mana?"

__ADS_1


"Tadi bertemu teman," Rangga melepaskan dasi dan kemejanya.


"Apa setiap hari seperti ini?"


"Kau tidak perlu khawatir dengan diriku, bersikaplah seperti kita tak memiliki hubungan apa-apa."


"Baiklah, jika itu memang keinginanmu." Nadia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Rangga bergegas membersihkan diri, setelah itu merebahkan tubuhnya di sofa. Walau terasa sakit tapi ia paksakan daripada seranjang dengan wanita yang menjadi musuhnya.


...****************...


Pagi harinya, Nadia memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper lalu menyeretnya keluar. Ia terpaksa melewati sarapan paginya.


"Mau ke mana?" Rangga melihat Nadia membawa koper.


Nadia tak menjawab, ia duduk lalu mengambil gelas yang ada di meja makan, menuangkan air putih dan meminumnya.


"Kau tidak ingin kabur, kan?" Rangga bertanya lagi.


Nadia tetap tak menjawabnya, ia memundurkan kursinya dan berdiri lalu menggeret kopernya.


"Nadia, aku bertanya padamu? Apa kau tidak punya mulut untuk menjawabnya?" Rangga mulai kesal.


"Bersikaplah seperti kita tak memiliki hubungan apa-apa," jawab Nadia membuat Rangga berhenti bertanya.

__ADS_1


__ADS_2