Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Jadi Itu Kau?


__ADS_3

Nadia bersiap menaiki ranjang, matanya melihat suaminya mengambil bantal dan selimut. "Mau ke mana?"


"Aku tidur di ruang tamu," jawab Rangga.


"Kau ingin Bibi bertanya?"


"Lalu aku harus tidur di mana?" tanya Rangga.


"Di sebelahku!" Nadia menepuk kasur di sisi kirinya.


"Kau yakin?" Rangga menaikkan alisnya.


"Kamar ini sempit dan ada hanya satu ranjang. Apa kau mau tidur di lantai?" Nadia memandangi suaminya.


Rangga menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, tidurlah di sini!" Nadia lalu merebahkan tubuhnya dan memakai selimutnya.


Rangga pun naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah istrinya.


Nadia memiringkan tubuhnya menghadap suaminya "Apa yang kau katakan pada Bibi itu benar?"


"Yang mana?" pura-pura lupa.


"Kau mengatakan ingin menjagaku dan tidak akan menyakitiku," Nadia mengingatkannya.


"Oh yang itu, aku cuma ingin bibimu tersenyum!" Rangga menatap langit-langit kamar.


Nadia menghela nafas kecewa, harapannya tidak sesuai keinginannya. Ia membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya.


Rangga melirik istrinya yang kini membelakanginya, ia mengulum senyum. Lalu mengalungkan tangannya di perut sang istri. Mencium rambut Nadia dari belakang.


Membuat wanita itu membalikkan tubuhnya lagi dan saling memandang.


"Apa kau ingin aku benar-benar menjagamu?" Rangga menatap wajah istrinya.


Nadia mengangguk pelan, dadanya berdegup kencang saat jemari suaminya menyentuh bibirnya.


Perlahan Rangga mendekati wajah istrinya yang sudah memejamkan mata.


Took..


Took..


Nadia membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu begitu juga dengan suaminya.

__ADS_1


"Nadia!" panggil Della dari luar kamar.


Dengan cepat Nadia dan suaminya turun dari ranjang lalu bergegas membuka pintu.


"Bibi mau tidur denganmu," pinta Della membuat kedua pasangan suami istri saling menatap.


"Biar aku tidur di ruang tamu saja," Rangga berjalan keluar.


"Silahkan masuk, Bi!" Nadia mengajak Della ke dalam kamar.


...****************...


Pagi harinya Nadia dan Rangga bersiap akan kembali ke kota asal.


"Titip jaga Bibiku, jika ada orang yang ingin bertemu dengannya. Kabari aku secepatnya," Nadia berkata pada dua asisten rumah tangga sekaligus yang mengurus Della.


"Siap, Nona!"


-


Diperjalanan menuju pulang, Nadia tertidur. Tangan kiri Rangga menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya. "Cantik!" gumamnya.


Sampai di apartemen Nadia masih tertidur pulas, dengan lembut Rangga membangunkannya. "Kita sudah sampai!" menepuk pelan pipi istrinya.


"Ya."


"Maaf, aku ketiduran!"


"Apa semalam kau tidak tidur?" tanya Rangga.


Nadia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Aku harus bolak balik memastikan dirimu semalam tidur dengan nyenyak."


Rangga tertawa terkekeh, "Memangnya aku anak kecil?"


"Rumah yang kita tempati itu tidak semewah apartemen milikmu. Aku takut saja kau tak bisa tidur," jawab Nadia.


"Kalau aku tidak bisa tidur, memangnya apa yang kau lakukan?" Rangga tersenyum menatap istrinya.


"Eh...."


"Terima kasih!" Rangga mengecup kening istrinya membuat wanita itu salah tingkah.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apa-apa," Nadia gugup.


"Kau begitu perhatian padaku, mari kita mulai hubungan ini dengan baik," Rangga membuka telapak tangan kanannya dihadapan istrinya.


"Kau.... menerimaku?" Nadia terbata dan tak percaya.


"Apa salahnya mencoba? Kau tidak terlalu buruk," ungkap Rangga.


Nadia lantas memeluk dan membenamkan wajahnya di dada suaminya. "Aku mencintaimu, bola basket!"


"Hei, dari mana kau tahu aku punya julukan seperti itu?" Rangga merenggangkan pelukannya.


"Karena aku penggemarmu," Nadia tersenyum malu.


"Jadi, kau gadis berponi berkacamata yang hobinya nonton kami bermain di bangku seorang diri?"


"Ya."


"Astaga, jadi itu kau!" Rangga tak percaya.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu, beberapa tahun yang lalu sempat menyukaimu," jelas Nadia.


"Aku tidak berpikiran kalau kau gadis itu."


"Ternyata keinginanmu sekarang terwujud," Rangga mulai meledek.


"Apa kau bilang?" Nadia mencubit pelan perut suaminya. "Itu artinya kita berjodoh!" memanyunkan bibirnya.


"Ya, tapi sekarang kau makin cantik."


"Berarti dulu aku jelek, ya?" Nadia menatap wajah suaminya.


"Tidak," jawab Rangga.


"Tapi kenapa kau menjauhiku?"


"Aku sudah memiliki kekasih, jadi tidak mungkin aku berpaling darinya."


"Kalau sekarang?" Nadia tersenyum mengintrogasi.


"Apa kau mau?" tantang Rangga.


Nadia menggelengkan kepalanya.


"Jangan bertanya itu lagi!" Rangga mendekap erat istrinya.

__ADS_1


__ADS_2