
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Sasha masih berdiri di depan pintu kampus. Aryan juga baru keluar dari gedung yang sama. Pria itu pun menghampirinya, "Kenapa belum pulang?"
"Baterai ponselku mati, jadi aku tak bisa menghubungi keluarga di rumah," jawab Sasha.
"Jadi kau pulang mau naik apa?"
"Taksi."
"Ayo, aku antar pulang!" tawar Aryan.
"Memangnya boleh?"
"Kalau aku sudah menawarkan berarti boleh, jangan bertanya!" jawab Aryan ketus.
"Baiklah kalau begitu," Sasha mengikuti langkah Aryan ke parkiran kampus.
Di perjalanan pulang keduanya saling diam, sesekali Sasha melirik pria yang ada disampingnya itu.
"Aku lapar, apa kau mau makan?" Aryan lagi-lagi menawarkan.
Dengan cepat Sasha mengiyakan.
"Kita makan di warung pinggir jalan saja 'ya. Mau di restoran aku tak punya uang," ucap Aryan.
"Tidak masalah," sahut Sasha.
Aryan menghentikan kendaraannya tepat di warung mie ayam, mereka pun turun kebetulan tidak terlalu ramai.
Aryan mulai menyantap mie kesukaannya itu. Dia melihat Sasha hanya memandangi mangkok mie. "Kenapa tidak dimakan?"
__ADS_1
"Ini mau ku makan," Sasha membuka bungkus sumpit lalu menyantap mienya.
Tanpa berbicara, Aryan lebih cepat menghabiskannya. Sasha makan sangat lambat membuat pria itu bosan dan memilih memainkan ponselnya.
Akhirnya Sasha selesai menghabiskan mie ayamnya. "Ayo, kita pulang!" ajaknya.
"Mienya kamu yang bayar, ya!" ucap Aryan.
"Kok aku, bukannya kau yang mengajak?"
"Nona, aku sudah mengantarmu. Apa salahnya kau membayar makan ku?"
Sasha mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu tadi aku tak mau menerima tawaranmu," protesnya.
"Sudah cepat bayar, kau mau di sini sampai besok pagi!"
"Iya, aku bayar!" Sasha berdiri dengan wajah kesal, ia pun membayar mie ayam. Setelah membayar, Sasha masuk ke dalam mobil.
"Iya, aku ikhlas. Sudah cepat jalan!" perintah Sasha.
-
Aryo malam ini juga terlambat pulang karena harus mengantar Nadia ke rumahnya setelah mereka selesai berkencan.
Di perjalanan menuju rumah, ia melihat seorang wanita sendirian berdiri dekat mobil kelihatan bingung. Aryo meminggirkan kendaraannya lalu turun menghampiri wanita tersebut. "Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita menoleh ke arah suara, "Kau!"
"Kita jumpa lagi, ternyata dunia ini sempit 'ya!" ucap Aryo menyindir.
__ADS_1
"Mending pergi saja!"
"Benarkah? Tidak perlu aku bantu," ujar Aryo.
"Memangnya kau bisa memperbaiki mobilku?" tanya Irma.
"Coba aku periksa," Aryo membuka kap mobil dan memeriksanya.
"Bagaimana?"
"Aku akan coba memperbaikinya," jawab Aryo. Ia mengambil peralatan montir dari dalam mobil miliknya.
Lima belas menit berlalu, Aryo belum juga selesai memperbaikinya. Dia mulai keringat, Irma mengelapnya membuat Aryo terdiam dan menatap wanita itu.
"Aku melakukan ini karena kau lagi berusaha menolongku," ucap Irma ketus.
"Ya, aku tahu setelah ini selesai kau harus mentraktirku." Aryo kembali memperbaikinya.
"Baiklah itu tidak masalah."
Sejam kemudian, akhirnya selesai. Irma menyodorkan tisu dan air mineral botol lalu Aryo meminumnya. "Silahkan coba!"
Irma mencoba menghidupkan mesin mobil lalu ia kembali turun dan menghampiri Aryo. "Terima kasih, ini kartu namaku. Kau bisa menghubungi ku untuk menagih janjiku kapanpun."
"Baiklah, aku pegang janjimu!"
"Aku tidak pernah mengingkari janji tapi jangan mengajakku saat jam kerja kantor."
"Baiklah!"
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, sampai jumpa!" Irma berlalu meninggalkan Aryo.
Ponsel Aryo berdering tertera nama Nadia, namun ia enggan mengangkatnya dan membiarkannya.