
Keesokan paginya, Arya pergi ke Aksa Grup untuk bertemu dengan Aryo. Ia akan memutuskan bekerja sama dengan siapa untuk mempromosikan properti ada di kota L.
"Aku yakin kamu pasti datang untuk setuju bekerja sama," ucap Aryo.
"Aku ke sini untuk menolak kerja sama," ujar Arya.
"Kenapa kamu tidak mau bekerja sama dengan perusahaan keluargamu sendiri?" protes Aryo.
"Aku tidak mau saja," jawab Arya santai.
"Arya, aku tahu kamu sekarang memiliki wewenang atas HK Grup. Bisakah dipikirkan lagi?"
"Tidak ada, Kak. Keputusan ku sudah bulat," Arya bersikap santai. "Kalau begitu, aku permisi pulang!"
Aryo menatap geram punggung adiknya yang berjalan meninggalkan ruangannya. Setelah kepergian Arya, ia mendatangi ruangan kerja Gunadi.
"Ada apa?" tanya Pria paruh baya yang berusia 55 tahun.
"Arya menolak bekerja sama dengan perusahaan kita," jawab Aryo.
"Apa mau anak itu? Seharusnya dia berpihak pada kita," ujar Gunadi.
"Aku juga tidak tahu, Pa."
"Biar nanti aku yang bicara padanya," ucap Gunadi.
-
__ADS_1
Sebelum makan siang, ia bertemu dengan putranya itu. Karena Arya menolak bertemu saat jam makan siang.
"Sepertinya ada hal yang penting yang ingin Papa katakan," ucap Arya menarik kursi lalu mengisyaratkan tangannya memanggil pelayan kafe.
"Ada!" ucap Gunadi, pembicaraan mereka terhenti saat pelayan menanyakan pesanan kepada Arya.
"Apa itu, Pa?" Arya kembali bertanya ketika pelayan pergi.
"Kenapa kau menolak Aksa Grup bekerja sama dengan HK Grup?"
"Karena aku tak suka dengan perusahaan Papa," jawab Arya santai.
"Arya, perusahaan ini milik keluarga kau juga. Biaya hidup Mama dan adikmu juga dari Aksa Grup," jelas Gunadi.
"Aku tahu, Pa. Aksa Grup adalah perusahaan milik keluarga tapi kenapa aku sebagai salah satu pewaris perusahaan tidak bekerja di dalamnya," ujar Arya sambil tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan minumannya.
"Memangnya kenapa aku meminta posisinya? Ku berhak juga, Pa.
"Kau belum pantas mendudukinya!"
"Belum pantas? Ayah Rania yang baru mengenalku saja, berani memberikan kepercayaan memegang tiga usaha sekaligus, bahkan putrinya mempercayaiku untuk menangani promosi properti."
"Papa tidak mau saja perusahaan yang berpuluh-puluh tahun hancur di tangan orang yang salah," jelas Gunadi.
"Apa Paman Reno tidak takut jika perusahaanya hancur di tanganku?" Arya menyandarkan punggungnya di kursi sambil menyesap tehnya.
"Arya, kenapa kau menjadi anak yang membangkang?"
__ADS_1
Gunadi mulai kesal dengan putra sambungnya itu.
"Aku begini juga karena Papa yang tidak pernah berlaku adil padaku."
"Bukan begitu," Gunadi mencari alasan.
"Orang yang aku anggap musuh, malah menjadi penolongku," Arya menarik sudut bibirnya. "Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku mau pergi menjemput istriku. Sampaikan salam rinduku pada Mama dan Sasha," lanjutnya lagi.
Gunadi mengepalkan tangannya, ia merasa dihina. Harusnya putranya itu mampu menekan HK Grup namun kebalikannya. Arya berpihak pada mertuanya.
Setelah dari kafe, Arya menjemput istrinya untuk makan siang. Mereka akan makan di rumah Rayyan karena pria itu yang memintanya.
"Apa kau sudah bertemu dengan Kak Aryo?" tanya Rania berada di dalam mobil saat menggunakan sabuk pengaman.
"Aku sudah memutuskan tidak memakai jasa perusahaannya," jawab Arya.
"Kenapa?"
"Karena aku tak suka!"
"Tapi itu perusahaan milik keluargamu," ujar Rania.
"Iya aku tahu. Tapi ku malas saja, takut tak sesuai yang kau harapkan," Arya menatap sekilas ke arah istrinya.
"Kau melakukan ini karena masih sakit hati kepada Papa?"
"Salah satunya itu, sudah jangan bahas itu lagi. Setelah makan siang aku akan ke perusahaan Tante Mayang."
__ADS_1
"Ya, aku ikut katamu saja."