
Keduanya duduk di meja makan bersama. Nadia memilih diam sesekali mengecek ponselnya.
"Mama mengajak kita makan malam bersama," Rangga membuka percakapan.
"Kapan?" tanpa menatap.
"Jika kau tidak sibuk, malam ini."
"Baiklah, aku akan menyempatkan waktuku!" Nadia menyelesaikan sarapannya, ia berdiri.
"Aku akan mengantarmu ke kantor," tawar Rangga.
"Tidak perlu!" tolak Nadia. Ia meraih tasnya dan berlalu.
Rangga hanya bisa menghela nafasnya.
-
-
Rangga menunggu di ruang tamu, istrinya lagi berdandan. Ia melihat arlojinya, sesekali menatap pintu kamar. "Lama sekali!"
Tak lama kemudian Nadia keluar, ia menghampiri suaminya. "Ayo!"
Rangga berjalan memunggungi istrinya. Mobil pun melesat ke kediaman Tio Mahendraya.
Sesampainya di sana Sarah begitu senang, ia memeluk Nadia sangat erat. "Mama rindu denganmu!"
"Mama tidak rindu padaku?" Protes Rangga.
Sarah pun mendekap tubuh putra pertamanya. "Mama juga merindukanmu!" ia mengecup kening Rangga.
__ADS_1
"Silahkan duduk, mari makan!" ajak Tio.
Hanya Rasya yang tak dapat menikmati makan malam bersama karena dirinya lagi di luar kota.
"Kemarin Mama menelepon Rangga untuk mengajak kamu ke sini. Katanya dirimu lagi sibuk di kantor," Sarah berbicara pada menantunya.
"Iya, Ma. Nadia memang lagi sibuk," Wanita muda itu terpaksa berbohong.
"Jangan terlalu sibuk, sempatkan waktu berdua," pinta Sarah.
"Iya, Ma." Jawab Rangga dan Nadia.
"Kapan kalian akan memberikan kami cucu?" tanya Tio melirik istrinya.
Nadia meraih gelas berisi air putih sementara itu Rangga menelan saliva mendengar pertanyaan dari papanya.
"Pa, mereka menikah belum juga sebulan," protes Sarah.
"Papa 'kan cuma nanya, apa salahnya?" Tio bersikap seperti tak menyesal.
"Apa Rangga tak memberikanmu uang belanja?" tanya Tio.
"Beri kok, Pa." Jawab Nadia padahal ia belum menerima sepeserpun dari suaminya kecuali tempat tinggal.
"Baguslah, kalau belum Papa akan memarahinya," janji Tio.
-
-
Setibanya di rumah, Rangga mencecar beberapa pertanyaan kepada istrinya. "Kenapa tadi kau berbohong?"
__ADS_1
"Karena aku tak mau mempermalukan suamiku."
"Lalu soal anak?" tanya Rangga.
"Aku belum siap."
"Kalau kau belum siap, kenapa kau mau menikah denganku?" menarik lengan istrinya yang hendak membuka pintu kamar.
"Karena aku tidak mencintaimu!"
"Kalau memang tidak mencintaiku, kenapa memaksa ingin menikah?"
"Semua karena Mama Sarah."
"Kau membuatku tersiksa, Nadia!"
"Tersiksa?" Nadia menatap suaminya.
"Untuk apa menikah kalau tidak ada cinta diantara kita?"
"Dari awal kita bertemu empat belas tahun yang lalu, aku mulai menyukaimu. Tapi, aku harus menguburnya dalam-dalam karena kau menjalin kasih dengan Anita," ungkap Nadia.
"Dan saat kita bertemu lagi, kau malah jatuh cinta pada Rania, aku tahu kita menikah karena terpaksa dan dijodohkan tapi ketika aku mulai membuka hati untuk hubungan ini kau malah menyuruhku untuk tidak mencampuri urusanmu!"
"Apa aku salah tidak menginginkan anak darimu?" Nadia bertanya dengan suara menahan tangis.
"Aku memang mencintai Rania tapi itu dulu," jawab Rangga lirih.
"Apa sekarang kau mulai mencintaiku?" Nadia menatap mata suaminya.
Rangga hanya diam.
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah tahu jawabanmu!" Nadia menghela nafas kasar. "Besok aku akan keluar kota, kemungkinan seminggu berada di sana!" ia bergegas ke kamar meninggalkan suaminya yang masih mematung.
Rangga memilih menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tamu, ia mengepalkan tangan kanannya lalu memukul pelan keningnya. "Mama Papa dulu saja menikah juga dijodohkan, kenapa mereka sekarang bisa bahagia?"