
Arya mendatangi kantor HK Grup seorang diri, ia ingin bertemu dengan Rania dan menanyakan perihal yang menimpa Aksa Grup.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Rania, bisakah anda menunjukkan ruangannya?" pintanya pada resepsionis.
Karyawan wanita itu mendongakkan kepalanya. "Tuan Arya!"
"Dari mana anda tahu namaku?" Arya mengerutkan keningnya.
"Maaf, Tuan. Biasanya anda langsung ke ruangan Nona Rania," jawab karyawan wanita itu.
"Saya baru sekali ke sini, anda jangan bercanda!" sentak Arya.
"Maaf, Tuan!" ucapnya terbata.
"Cepat antar saya ke ruangannya!" titah Arya.
"Mari, Tuan. Saya antar."
Karyawan wanita itu mengantarkan Arya ke lantai ruang kerja wakil Presdir, sebelumnya ia meminta izin pada sekretaris Rania untuk menyampaikannya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Rania akhirnya Arya bisa bertemu.
"Ada apa suamiku ke sini?" Rania tersenyum kepada Arya.
"Aku bukan suamimu!" jawabnya tegas.
"Baiklah, jika memang kau bukan suamiku. Untuk apa datang kemari?"
"Kau pasti yang sudah menyuruh beberapa perusahaan untuk tidak bekerja sama dengan Aksa Grup."
Rania hanya menarik sudut bibirnya. "Aku tidak punya kuasa untuk memerintahkan mereka," ucapnya santai.
"Keluargamu adalah orang yang kaya raya dan cukup berpengaruh di dunia bisnis jadi tak mungkin kalau tak ada campur tangan dirimu atas pembatalan itu," ungkap Arya.
"Bukan aku yang melakukannya."
Arya mendekati Rania dan mencengkeram kuat lengan wanita itu. "Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau buat terhadap perusahaan ku!"
"Aku rela kau sakiti jika itu membuatmu senang," Rania malah tersenyum.
__ADS_1
"Aku yakin kau di balik semua ini!"
"Bukan aku, Arya!" Rania menyangkal.
"Lalu siapa?" Arya semakin kuat mencengkram.
"Auww!" Rania memegang perutnya dan meringis kesakitan.
Arya melepaskan genggamannya secara kasar.
"Kau telah menyakiti ibunya!" Rania menatap suaminya masih memegang perutnya.
"Omong kosong apa lagi yang kau ucapkan?"
"Aku hamil anakmu, Arya!" ucap Rania.
"Wanita sepertimu pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tujuannya," Arya menatap sinis.
"Aku tidak berbohong, Arya. Ini anakmu, kau menikahiku tiga bulan yang lalu!"
"Kau pasti berbohong!" bentak Arya.
Arya memundurkan langkahnya dan sedikit terhuyung. Rania mendekati suaminya dan hendak memegangnya. "Jangan sentuh aku!" teriaknya.
"Arya, kamu tidak apa-apa 'kan?" Rania mulai khawatir.
Tanpa menjawab, Arya segera keluar dari ruangan Rania
Sementara itu Rania, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan menahan rasa sakit di perut serta hatinya. Air matanya mulai menetes.
-
Di dalam mobil Arya, memegang kepalanya. Ia menghidupkan mesin kendaraannya dan meninggalkan gedung HK Grup.
Sesampainya di rumah, ia segera ke kamar. Arya tak menghiraukan panggilan Rita.
Arya mengambil obat dan memakannya setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang terus memijit keningnya.
"Kenapa sulit sekali mengingatnya?" gumamnya.
__ADS_1
Rita tahu sesuatu terjadi pada putranya, ia menghampiri ke kamarnya dan tak lupa mengetuk pintu. "Apa Mama boleh masuk?"
"Ya, Ma!"
Rita mendekati Arya yang terbaring di ranjang. "Apa yang terjadi?"
"Ma, apa aku sudah menikah?" Arya lalu duduk di samping mamanya.
"Sudah."
"Siapa istriku?"
"Rania."
"Apa benar aku menikahinya tiga bulan yang lalu?"
"Ya."
"Tadi dia mengatakan kalau hamil anakku!"
"Rania hamil?"
"Iya, Ma."
"Syukurlah, selamat putraku!" Rita memeluk erat tubuh Arya.
"Apa Mama yakin dia mengandung anakku?" Arya menatap wajah Mama Rita.
"Mama yakin dia anakmu!"
"Wanita itu pembohong, Arya!" ucap Gunadi yang sedari tadi mendengarkan penjelasan ibu dan anak tersebut.
"Papa!" Rita berjengit kaget suaminya tiba-tiba muncul.
"Ini salah satu cara mereka untuk menghancurkan perusahaan kita," ujar Gunadi.
"Itu tidak benar, Arya!" ucap Rita.
"Cukup!" teriak Arya kesakitan. "Mama dan Papa lebih baik keluar," ucapnya.
__ADS_1
Rita dan Gunadi mengikuti permintaan putranya.