
Memakai kacamata hitam dan menenteng tas, Nadia membesuk Gunadi seorang diri. Kini ia duduk dihadapan pria paruh baya dengan tersenyum.
"Nadia, kau datang seorang diri?"
"Iya, Paman mau aku datang dengan siapa?" Nadia balik bertanya dengan membuka kacamata.
"Di mana Aryo?"
"Aku dan Aryo tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."
"Paman akan bicara padanya nanti," Gunadi menawarkan untuk membantu Nadia kembali pada Aryo.
"Tidak perlu, Paman. Aku ke sini hanya ingin mengucapkan selamat bahagia di tempat ini," Nadia menarik kedua sudut bibirnya.
"Maksudnya apa?"
"Paman pura-pura lupa, ya!"
"Paman tidak mengerti," Gunadi tampak bingung.
"Apa Paman mengenal Della Lestari?" Nadia menatap sinis.
"Dari mana kau tahu nama itu?" seketika wajah Gunadi pucat.
"Tentunya sangat mengenalnya karena aku keponakannya," Nadia memberikan senyuman yang mematikan.
"Jadi selama ini..."
"Ya, aku sengaja masuk ke keluarga kalian untuk menghancurkan dirimu."
"Jadi kau yang melaporkan Paman?"
"Tepat sekali."
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Kenapa? Aku melakukan ini karena Bibi Della yang sudah Paman hancurkan hidupnya, anda adalah orang yang serakah!"
"Nadia, tolong jangan katakan ini pada Tante Rita atau Aryo!" mohon Gunadi.
"Aku tidak akan mengatakan pada mereka dengan syarat, jangan beri tahu siapa yang menjebloskan Paman ke sini. Satu lagi tetaplah seperti ini, karena aku ingin anda mendapatkan hukuman yang pantas!"
__ADS_1
"Baiklah, Paman memenuhi syaratmu!"
"Bagus," Nadia beranjak berdiri dan memakai kacamata hitamnya kembali lalu berlalu.
Nadia berjalan menuju parkiran, Aryo melihat mantan tunangannya baru saja keluar dari kantor pihak berwajib.
Aryo mempercepat langkahnya bertemu dengan Papanya.
"Nadia tadi ke sini ya, Pa?"
"Ya."
"Mau apa di kesini?"
"Sekedar membesuk Papa," jawab Gunadi berbohong.
"Aku pikir dia akan mempengaruhi Papa tentang hubungan kami," tudingnya.
"Kenapa kau memutuskan hubungan dengannya?"
"Kami tidak cocok lagi, Pa."
"Oh," jawab Gunadi singkat.
-
-
Ia menikmati makan siang bersama dengan seorang pria. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu.
Di tengah obrolan keduanya, Rania dan suaminya datang.
Nadia mengirimkan pesan kepada pria yang dihadapannya dan pria itu menoleh kepada sepasang suami istri yang baru saja memasuki restoran.
Nadia lantas berdiri dari kursinya dan berjalan melewati suami istri dengan wajah congkak dan angkuh. Walau Rania melemparkan senyuman kepadanya, Nadia tetap cuek.
"Kenapa dia?" Rania bertanya pada suaminya.
"Biarkan saja," jawab Arya.
"Sepertinya dia merencanakan sesuatu," tebak Rania.
__ADS_1
"Aku juga curiga," hal yang sama dirasakan Arya.
"Kita harus lebih berhati-hati dengannya," Rania mengingatkan.
...----------------...
Beberapa hari kemudian....
Pesta yang diadakan setahun sekali ini dihadiri para pengusaha muda. Rania datang bersama suaminya dan Aryo dengan Irma.
Nadia dengan santai memasuki gedung seorang diri. Ia menyapa beberapa rekan kerjanya.
"Aku tidak menyangka kalau Nadia Maharani adalah CEO Lestari Grup," celetuk Dina.
"Benarkah?" Rania menoleh ke arah wanita yang tampak anggun dengan gaun selutut berwarna ungu.
Aryo dan Arya saling pandang, mereka hanya tahu jika Nadia hanya karyawan biasa di perusahaan itu.
Wanita itu mendekati keempatnya dan tersenyum. "Hai!" sapanya.
"Hai, juga!" Rania tersenyum kepadanya.
"Aku tidak menyangka kalau selama ini kau membohongiku," Aryo menyindir.
"Aku membohongi apa?" Nadia bersikap santai.
"Selama ini kau adalah CEO tempatmu bekerja," jawab Aryo.
"Aku sengaja melakukan itu, agar ku bisa tahu mana yang tulus atau tidak," Nadia melirik wanita yang ada di samping Aryo.
"Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Arya.
"Oh ya Rania, kau mau aku ambilkan minum," tawar Nadia tanpa menjawab pertanyaan Arya.
"Tidak usah!" tolak suami Rania. "Aku bisa mengambil untuknya," lanjutnya.
"Biar aku saja, jaga istrimu aku takut terjadi apa-apa dengannya apalagi dirinya sedang hamil anak kalian, kan?" Nadia tetap memaksa.
"Biarkan saja Nadia yang mengambil untukku," Rania menyetujuinya.
Nadia tersenyum lalu ia mengarahkan kakinya ke meja yang tersedia berbagai jenis minuman. Ia membuka tasnya lalu meletakkan sebuah pil ke dalam minuman.
__ADS_1
Saat akan mengangkat gelas tangannya di tahan seseorang. " Apa yang kau lakukan?"