
"Bagaimana kabarmu hari ini?" Arya bertanya sambil menyetir.
"Aku baik, kalau kau?" Rania balik tanya.
"Baik juga."
"Kenapa kau ingin mengantarku?"
"Kau bilang sedang hamil anakku, jadi ku hanya ingin pastikan janin itu sehat."
"Apa kau sudah mau mengakuinya?" Rania menatap wajah samping suaminya.
"Aku melakukannya karena belum tahu kebenarannya, kau benar hamil anakku atau cuma pura-pura saja," jawab Arya.
Rania menarik sudut bibirnya. "Seperti tidak ada pekerjaan saja, aku harus berpura-pura!"
Arya melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, tanpa ia ketahui mereka melewati jalan berlobang hingga ban sebelah kiri sedikit oleng.
"Auww!" Rania memegang perutnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Kau bisa tidak hati-hati!" sentak Rania.
"Iya, maaf. Tapi dia tak apa, kan?" Arya memegang perut Rania membuat wanita itu tersenyum.
"Tidak apa," ucap Rania menyingkirkan tangan Arya dari perutnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud!" Arya jadi salah tingkah.
"Kau calon ayahnya jadi tak masalah menyentuhnya," ucap Rania.
-
Sesampainya di HK Grup, Arya membuka pintu mobil untuk Rania. Wanita itu turun dan mengucapkan terima kasih.
Arya kembali ke mobilnya dan pulang ke rumahnya karena hanya itu pekerjaannya sejak keluar dari rumah sakit.
Nadia dan Lita masih berada di rumah, Arya tak menghiraukan kedua wanita dan memilih ke kamarnya.
"Tadi Sasha mengirimkan pesan jika kamu mengantar Rania ke kantor," ucap Rita menghentikan langkahnya ke kamar.
"Iya, Ma. Tadi tak sengaja bertemu dengannya."
"Jadi Sasha dengan siapa?" tanya Rita.
"Dia di antar adiknya Rania."
"Oh, Mama senang kamu kembali dekat dengan istrimu apa lagi dia mengandung anakmu," ujar Rita.
"Ma, dua wanita yang di bawah itu usir saja. Lagian Kak Aryo juga sudah pergi kerja," ucap Arya.
"Mama tak bisa, Nak. Apa lagi Lita akan dijodohkan kepadamu," jelas Rita.
"Aku tidak mau dijodohkan," tolak Arya.
"Mama pun tak mau, kamu sudah menikah dan milik Rania. Jadi, Mama tak mau kalau menantuku itu di duakan," tutur Rita.
"Ma, ada yang ingin aku tanyakan?" Arya melihat ke kanan dan kiri. "Kita bicara di kamar saja," ajaknya dan diiyakan Rita.
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Rita duduk di kursi kerja putranya.
"Apa benar aku dan Rania menikah karena terpaksa?"
__ADS_1
"Soal itu Mama tak tahu, kamu pernah membawa dia saat pertunangan Aryo dan Nadia. Beberapa hari kemudian dia datang ke sini dan tak lama kamu tiba-tiba mengatakan akan melamarnya."
Arya memegang kepalanya lalu mengambil minumnya.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?"
"Bu, saat aku di dekat Rania merasa nyaman. Aku seperti ingin melindunginya," ujar Arya.
"Karena kalian memiliki ikatan batin. Nak, kamu harus kembali pada istrimu. Kamu harus berusaha mengingatnya, Mama yakin kamu pasti bisa sembuh," harap Rita.
"Bantu aku, Ma. Agar kembali pada Rania," pinta Arya.
"Mama akan membantumu, bersiaplah. Kamu harus tinggal dengan Rania agar ingatanmu kembali," ujar Rita.
"Tapi bagaimana dengan Papa?"
"Biar Mama yang bicara," jawab Rita.
-
Sore harinya Rania pulang kerja segera ke kamar, ia mengambil handuk hendak mandi. Namun, matanya tertuju pada cermin ia melihat sprei ranjangnya bergerak.
Rania membalikkan badannya dan berjalan pelan mendekati ranjang. Ia pun menyingkap selimut dan berteriak.
"Rania!" Arya bergegas berdiri dan membengkap mulut istrinya.
Rania mendelikkan matanya tak percaya jika suaminya kini ada di dalam kamar bersamanya.
Arya melepaskan tangannya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Rania.
"A..aku pun juga tidak tahu."
"Apa kau sudah ingat?" tanya Rania lagi.
"Benarkah?" Rania tak percaya.
Arya mengangguk.
Rania mendekap tubuh atletis itu dengan senyuman. "Aku senang kau kembali, aku sangat merindukanmu!"
"Apa dulu kau juga seperti ini?" Arya mendorong pelan tubuh istrinya dan menatapnya.
Rania menggelengkan kepalanya. "Saat kau kecelakaan, aku baru sadar kalau diriku membutuhkanmu."
"Kepalaku sedikit pusing," Arya memegang kepalanya.
"Tidurlah, aku akan ke dapur mengambil minuman untukmu!" Rania hendak melangkah namun tangannya di tahan Arya.
"Tidak usah, kau di sini saja temani aku!"
"Baiklah, kalau begitu. Aku mau mandi dan aku juga akan menyuruh pelayan mengantarkan makanan di sini!"
"Nanti kita makan bersama dengan ayahmu," ucap Arya.
"Kau ingat kalau kita selalu makan bersama ayah?"
"Tadi Ayah Reno memberi tahu aku."
"Oh."
Sepuluh menit berlalu, Rania selesai mandi. Ia tak segan memakai pakaiannya di depan suaminya yang lupa ingatan.
__ADS_1
Arya yang melihat lekuk tubuh Rania hanya menelan saliva. "Apa kau selalu begini di depanku?"
"Iya, karena kau suka menggodaku saat aku selesai mandi."
"Berapa usia kandunganmu?"
"Kata Dokter jalan enam minggu," jawabnya.
"Berapa kali kita melakukan itu?"
Rania mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan suaminya. "Aku tak mengerti maksud dari pertanyanmu."
"Ya, berapa kali kita melakukan itu sehingga kau hamil?"
"Hah!"
"Pertanyaan aku apa salah?"
"Tidak, apa kau ingin kita mengulangnya?" Rania mendekati suaminya dengan sangat menggoda.
Arya mulai berkeringat, berkali-kali menelan saliva. "Aku belum siap!"
"Jadi, kapan kita akan melakukannya?" Rania sengaja berbicara genit, ia meraba wajah suaminya dengan jemari halusnya.
"Cepatlah berpakaian, aku ingin mengobrol dengan ayah." Arya berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Nanti malam aku tunjukkan padamu, caramu menggodaku!" bisiknya manja di telinga suaminya.
Arya bergegas keluar dari kamar, ia tak bisa menahan dirinya jika terus berdekatan dengan istrinya.
Rania tertawa puas melihat ekspresi suaminya yang gugup dan salah tingkah.
-
"Kenapa Mama membiarkan Arya di rumah mertuanya?" Gunadi tampak kecewa dengan istrinya.
"Biar ingatan Arya cepat pulih jika bersama istrinya," jawab Rita.
"Bagaimana jika kepalanya sakit lagi?" Gunadi sengaja memberikan alasan itu agar istrinya iba.
"Papa tenang saja, Rania pasti bisa mengatasinya," Rita menyendokkan nasi ke piring suaminya.
"Bagaimana jika Arya kembali menjadi anak pembangkang seperti sebelum kecelakaan?"
"Itu semua karena Papa, jika mau menuruti keinginan Arya pasti itu anak tidak akan membangkang," jawab Rita ketus.
"Mama kenapa ketus sekali sama Papa?"
"Mama tak suka cara Papa menjodohkan Arya, anak kita sudah menikah dan istrinya lagi hamil. Bagaimana jika itu terjadi pada Sasha, apa Papa mau kalau suaminya menikah lagi?"
"Mama kenapa berkata begitu?"
"Karena Mama tak suka dengan cara Papa itu, apa salahnya Rania?" tanya Rita dan Gunadi hanya terdiam.
Rita menyelesaikan makan malamnya lebih cepat membuat suaminya bertanya, "Mama mau ke mana?"
"Mama mau menelepon Sasha setelah itu tidur."
"Tapi Mama belum selesai makannya," ucap Gunadi.
"Mama sudah kenyang," Rita pun berlalu.
Gunadi menghela nafasnya dan meletakkan sendoknya, baru hari ini ia melihat istrinya begitu kecewa dan marah padanya.
__ADS_1
...ΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak