Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Akhirnya Rangga Datang


__ADS_3

Rangga harus berlari lebih dari lima kilometer menuju gedung pernikahan. Ia tak ingin membuat malu keluarganya, walaupun ia tak menginginkan menikah dengan Nadia.


Calon istrinya itu baginya adalah musuhnya, wanita itu pernah berniat menyakiti Rania. Apa lagi Mama Sarah sangat menyayanginya, membuat ia sangat membenci Nadia.


Dua jam yang lalu ia terjebak macet saat menuju gedung acara, baterai ponselnya habis. Pengawal yang menjemputnya juga terjebak macet hingga mobilnya tak bisa memutar balik.


Dengan menitip mobil yang ia kendarai kepada pengawal, ia di temani seorang pengawal berlari menuju gedung. Salah satu anak buah Tio juga sudah menelepon atasannya itu dan mengatakan kalau Rangga baik-baik saja.


"Ma, Kak Rangga sudah datang," Rasya mengatakan pada Sarah agar ibunya itu tenang.


Sarah tersenyum lega, ia bergegas ke ruangan acara berkumpul dengan para tamu.


Rania dan Arya beranjak berdiri hendak meninggalkan acara namun informasi dari panitia menghentikan langkahnya. Mereka kembali duduk dan mengikuti proses acara.


Rangga duduk di depan wali hakim sebagai perwakilan dari keluarga Nadia, karena kedua orang tua calon istrinya itu telah tiada.


Sedikit rasa gugup menyelimuti hati Rangga, ia mengungkapkan janji pernikahan dengan lancar. Kedua orang tuanya akhirnya bisa bernafas lega.


Nadia hadir dengan balutan gaun berwarna putih. Ia memaksakan tersenyum kepada tamu yang hadir. Entah kenapa jantungnya terus berdetak kencang. Padahal keduanya menikah karena terpaksa.


Nadia kini berdiri di samping suaminya dan kedua mertuanya. Tampak matanya berkaca-kaca, ia harus melalui pernikahan yang harusnya sekali seumur hidup tanpa kedua orang tuanya atau pun Bibi Della yang mengurus dan merawatnya dari kecil.

__ADS_1


Berkali-kali ia menyeka air matanya dengan tisu agar tidak jatuh. Rangga sesekali memperhatikan istrinya itu.


"Kau yang menerima pernikahan ini, jadi pastikan wajahmu harus tersenyum," Rangga membisikkannya di telinga istrinya.


Nadia memilih diam tanpa menjawab, ia tersenyum kepada tamu yang memberikan selamat kepadanya.


Rania memeluk tubuh Nadia, "Kau sangat cantik sekali!" pujinya.


"Terima kasih, Rania. Kau wanita yang baik dan tulus, maafkan aku!" Nadia membalas pujian Rania.


"Rania memang wanita yang baik dan luar biasa," Rangga memuji dalam hati.


Sementara itu Arya tak berbicara panjang, ia hanya mengucapkan satu kata saja kepada kedua pengantin yaitu selamat.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sedang cemburu?" Rangga menarik sudut bibirnya.


"Dari matamu memandang Rania, jelas kau menyukainya," tebak Nadia.


"Ternyata kau penebak yang handal," Rangga tertawa tipis. "Aku memang menyukainya, tapi pria itu memaksanya menikah," lanjutnya berucap dengan nada kecewa.


"Apa kau ingin merebutnya dari suaminya?"

__ADS_1


"Aku tidak sepicik dirimu," sindir Rangga.


Nadia tersenyum simpul mendengar sindiran dari suaminya.


-


Tepat pukul 11 malam acara selesai, Nadia dan Rangga memasuki kamar yang telah dihiasi.


"Aku akan tidur di sofa," Rangga membuka percakapan saat di kamar.


"Baiklah," Nadia mengiyakan.


"Setelah menikah kau harus tinggal bersama dengan ku di apartemen. Aku tidak akan memaksamu menjadi seorang istri."


"Aku akan mengikuti semua syaratmu. Kita menikah karena ku ingin membalas kebaikan Mama Sarah kepada keluargaku," Nadia mengungkapkan alasannya.


Rangga mengernyitkan keningnya, "Mama Sarah mengenal orang tuamu?"


"Ya, kedua orang tuaku teman Mama Sarah. Dia selalu menolong kami," jawab Nadia.


"Jadi kau merasa berutang pada Mama Sarah," tertawa tipis. "Kau sangat hebat, mengorbankan perasaan demi balas budi," Rangga membuka jas pengantin.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apapun itu demi mereka yang berjuang untuk kehidupan ku!" perkataan Nadia membuat Rangga terdiam.


__ADS_2