Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Nadia melihat sesosok yang menahan tangannya, "Kau!"


"Obat apa yang kau masukkan itu?"


"Oh, ini hanya vitamin," jawab Nadia asal.


"Benarkah?" Rangga melipat tangannya di dada.


"Iya," jawab Nadia gugup.


"Aku tidak percaya, jangan-jangan itu minuman untuk Rania," tuding Rangga.


"Ya sudah kalau tidak percaya," Nadia lantas meminumnya sampai habis. "Kau lihat, tidak apa-apa 'kan?" ia menunjuk gelas kosong di depan Rangga.


Pandangan mata Nadia terasa mulai gelap, ia pun bergegas meninggalkan acara. Rangga yang melihat sesuatu tak beres mendekati wanita itu, ia merangkul pinggang Nadia agar tak jatuh lalu membawanya ke dalam mobil.


Rangga merebahkan Nadia di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman. Lalu ia duduk di bagian pengemudi. "Aku harus bawa dia ke man?" Ia buka tas Nadia, mencari sesuatu yang dapat menjadi petunjuk. Sebuah kartu nama ditemui dan ia membawanya ke sebuah apartemen.


Tak sampai setengah jam mereka tiba, lagi-lagi Rangga di buat bingung. Ia tak tahu nomor unit yang menjadi tempat tinggal Nadia.


Rangga melihat ada sebotol air mineral, ia tuangkan ke tangannya lalu ia percikan ke wajah Nadia dan wanita itu seketika terbangun mengucek matanya. "Silahkan turun!" perintahnya.


Dengan pandangan masih redup, Nadia turun dari mobil. Rangga memperhatikannya dari dalam mobil, ia melihat wanita itu berjalan sempoyongan. Akhirnya ia turun dan membantunya ke dalam apartemen.


Tatapan mata penjaga keamanan tertuju kepada keduanya, Rangga menjelaskan bahwa ingin mengantarkan temannya dan sekaligus menanyakan nomor unitnya.


Masih memapah tubuh Nadia yang lemas, Rangga memasuki apartemen yang cukup mewah. Sesampainya ia merebahkan tubuh Nadia yang matanya terpejam di atas sofa.


Rangga hendak meninggalkan ruangan, namun tangannya di pegang Nadia. Ia memperhatikan sentuhan itu, tak lama kemudian wanita itu melepaskan genggamannya.


Sementara itu Rania mengedarkan pandangannya mencari Nadia.

__ADS_1


"Cari siapa?" tanya Arya.


"Nadia, tadi dia mau memberikanku minuman."


"Tadi aku melihat dia dipapah dengan seorang pria," jelas Arya.


"Kau tidak tahu siapa pria itu?" Rania tampak khawatir.


Arya menggelengkan kepalanya.


"Harusnya kau cegah dia bersama pria itu," protes Rania.


"Aku tak peduli dia dengan siapa," Arya terlihat cuek.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"


"Bukan urusan kita, jika terjadi sesuatu padamu. Aku baru khawatir," jawab Arya.


Suara ponsel berdering membangunkan Nadia, ia menggeliatkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya. Seketika tubuhnya tersentak bangun. Ia melihat pakaian yang ia pakai masih sama saat acara pesta semalam.


Ia berusaha mengingatnya, saat itu ia berbicara dengan Rangga setelah itu pandangannya gelap.


"Sial!" Nadia memijit keningnya. "Harusnya Rania yang meminumnya bukan aku, ini semua karena pria itu. Awas saja!" geramnya mengepalkan tangannya.


Selesai membersihkan diri, Nadia berangkat ke kantor. Di lantai bawah penjaga keamanan menghampirinya. "Nona, anda baik-baik saja 'kan?"


"Iya."


"Syukurlah, Nona. Pria yang mengantar anda semalam berpesan untuk memantau diri Nona," tutur penjaga keamanan.


"Ciih, sok perhatian sekali dia," gumamnya.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, terima kasih!" Nadia tersenyum.


Setelah berbincang dengan penjaga keamanan, Nadia pergi ke kantornya. Sekretarisnya menghampirinya, "Nona ada yang ingin bertemu dengan anda!"


"Siapa?"


"Tuan Tio Mahendraya."


"Saya akan menemui beliau," Nadia menghampiri tamu yang dimaksud.


Tio sudah menunggu di ruang kerja Nadia. Wanita itu pun segera menyapa dan meminta maaf telah membuat pria paruh baya itu menunggu.


"Saya maklum pasti pesta semalam sangat lama hingga membuatmu mengantuk," tutur Tio.


"Ya, memang saya memang sangat mengantuk sekali, Paman," Nadia terpaksa berbohong.


"Pantas saja, Rangga sampai pulang jam 2 pagi," ungkap Tio.


"Acaranya tidak sampai jam segitu, Paman."


"Ya, tapi dia pulang lebih awal karena mengantar temannya," jelas Tio.


"Temannya wanita atau pria, Paman?"


"Wanita."


"Hah!"


"Tapi Paman tidak tahu siapa temannya itu," ujar Tio lagi.


"Oh," jawab Nadia singkat. "Syukurlah," batinnya merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2