
Pagi ini Arya sudah kembali ke rumah, kabar dirinya masuk rumah sakit tak di beri tahu Rania. Karena istrinya itu tak mau keluarganya terutama Mama Rita khawatir.
Arya merebahkan dirinya di atas ranjang. Rania sibuk menyediakan obat yang akan dikonsumsi suaminya itu.
Arya memegang tangan istrinya yang hendak pergi. "Mau ke mana?" tanyanya lembut.
"Aku mau ke dapur untuk membuatkan makan siang untukmu," jawab Rania.
"Di sini saja temani aku," pinta Arya.
Rania tersenyum, "Aku akan suruh pelayan masak makan siang!"
...-...
Restoran Mischa
"Maaf membuatmu menunggu," ucap wanita rambut warna coklat sebahu.
"Aku juga baru sampai."
"Apa kau sudah pesan makanan?"
"Belum, aku takut kau tidak datang. Siapa yang akan bayar makananku nanti," ucap Aryo bercanda.
"Hei, aku tak pernah berbohong cuma kalau tiba-tiba membatalkan janji mungkin ada sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan."
Aryo memanggil pelayan dan memesan makanan begitu juga dengan Irma.
"Kau sudah lama berteman dengan Rania?" tanya Aryo.
"Dari sekolah menengah pertama," jawab Irma.
"Oh, begitu."
"Aku dengar Arya kembali ke rumah Rania, ya?"
"Ya, sudah seminggu ini ia tak tinggal bersama kami."
__ADS_1
"Aku merasa sedih dan kasihan pada Rania saat tahu suaminya tak mengenalnya," tutur Irma.
"Tapi mereka juga menikah karena terpaksa," celetuk Aryo.
"Ya, memang tapi selama aku mengenal mereka berdua. Sepertinya Arya sangat menyayangi Rania," ujar Irma. "Aku dengar kau juga sudah bertunangan," ucapnya.
"Ya, tapi aku tidak yakin untuk menikah dengannya," ujar Aryo.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu, perasaan itu tidak ada."
"Kau berkata begini bukan karena mencari simpati dari ku, kan?" sindir Irma.
Aryo tertawa kecil lalu berucap, "Aku bukan pria seperti itu."
"Lalu kau seperti apa?" Irma menaiki matanya.
Obrolan mereka terhenti saat pelayan menyajikan hidangannya dan keduanya mengucapkan terima kasih lalu mulai menyantapnya.
"Aku lelaki yang setia dan tentunya bukan pembohong," jawabnya sembari tersenyum.
Sementara itu sepasang mata tampak kesal melihat kedekatan keduanya yang saling tertawa. "Aku akan beri pelajaran untukmu, wanita murahan!"
-
Nadia menelepon Aryo, "Kamu di mana?"
"Masih di kantor, ada apa?"
"Bisa ketemu hari ini?"
"Bisa, nanti aku akan menjemputmu!"
"Baiklah," jawab Nadia.
Sesuai janjinya, sepulang kerja Aryo menjemput Nadia di kantor tempatnya bekerja. Di dalam perjalanan ke suatu tempat mereka mulai berbicara.
__ADS_1
"Tadi siang makan dengan siapa?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Ya, tak apa kebetulan aku melihat kamu berada di restoran Mischa," ujar Nadia.
"Aku hanya makan siang bersama Irma saja," ucap Aryo jujur.
"Kenapa bisa bersama wanita itu?"
"Beberapa hari yang lalu, aku membantunya. Mobilnya mogok saat itu kebetulan aku lewat selepas mengantarmu pulang," jawab Aryo.
"Lalu dia mengajakmu makan?"
"Ya, sebagai ucapan terima kasih saja."
"Aku berharap wanita tidak menginginkan lebih," celetuk Nadia.
"Memangnya kenapa kalau dia meminta lebih?" Aryo sengaja memancing.
Nadia menatap Aryo tajam.
"Nadia, aku tahu kau masih mencintai Arya," tuding Aryo.
"Aku hanya menyukaimu, Aryo!" ucap Nadia tegas.
"Oh, ya. Kau mendekati aku karena jabatan yang ada pada ku, kan?"
"Kamu bicara apa?"
"Aku memang dulu mengejarmu, tapi saat ku tahu kau menemui Arya di tempat gym secara diam-diam," jelas Aryo.
"Aku dan Arya tidak memiliki hubungan apa-apa," Nadia menyangkal.
"Kau juga yang menyuruh temanmu menyenggol Rania hingga ia jatuh ke kolam renang," ungkap Aryo membuat Nadia tak dapat berkata apa-apa lagi.
...ΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sambil menunggu cerita ini update kalian bisa mampir ke karyaku yang lainnya berjudul 'Mengejar Cinta si Tampan'.