Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Hukuman Untuk Gunadi


__ADS_3

Aryo mendatangi kediaman Reno, ia ingin berbicara kepada adiknya.


"Kenapa kau menjebloskan Papa ke tahanan?" tampak wajah Aryo menyimpan kemarahan.


"Semua karena kesalahannya, Kak. Dia mencoba melenyapkan aku," jelas Arya. "Dan kasus penipuan bukan aku yang melaporkannya," lanjutnya lagi.


"Tidak mungkin Papa ingin mencelakakan kamu," Aryo tak percaya.


"Ada bukti rekaman kamera pengawas," ungkap Arya. "Semua bukti mengarah pada Papa dan pengakuan pria yang membantunya," lanjutnya lagi.


"Penipuan apa yang Papa lakukan?"


"Pemalsuan dokumen perusahaan, kejadian ini terjadi sepuluh tahun yang lalu," jawab Arya.


"Kejadian itu sudah cukup lama," ujar Aryo. "Tapi siapa pelapornya?" ia penasaran.


"Aku juga tidak tahu," Arya menaikkan bahunya.


...----------------...


Rita membesuk suaminya, ia sangat kecewa dengan Gunadi karena mencoba mencelakakan putra kandungnya.


"Kenapa Papa melakukan ini pada Arya?" mata Rita tampak berkaca-kaca.


"Aku minta maaf karena keegoisan, aku kehilangan kepercayaan dirimu."


"Aku juga tidak menyangka Papa bisa memalsukan dokumen orang lain."


"Sekali lagi aku minta maaf, Rita."


"Semoga hukuman ini mampu membuat Papa jera," Rita pun berlalu.


-


Arya pergi ke rumah mamanya, untuk menghibur wanita yang sudah melahirkannya itu lagi.


"Mama!" Arya memeluk Rita.


"Maafkan Papa kamu, Nak!"

__ADS_1


"Aku sudah memaafkannya, Ma. Tapi dia harus mendapatkan hukuman," tutur Arya.


"Perusahaan siapa yang ditipu Papamu?"


"Aku dan Kak Aryo akan mencari tahu, Ma."


"Mama tak menyangka Papamu bisa sejahat itu kepada kita," Rita masih sendu.


"Mama harus kuat!"


-


"Bagaimana keadaan Mama?" Rania bertanya pada Arya sesampainya suaminya itu di rumah.


"Mama baik-baik saja, dia hanya sedikit syok karena Papa tega melakukan itu padaku," Arya menjelaskan pada istrinya.


"Kalau Papa bagaimana kabarnya?"


"Dia sehat walau sekarang ia menyesal melakukan itu."


"Apa kalian sudah tahu perusahaan siapa yang telah Papa tipu?"


"Belum."


"Semoga saja!"


...----------------...


Di sebuah rumah sakit gangguan jiwa, Nadia mendorong kursi roda sambil mengobrol di taman.


"Bibi, aku sudah membalasnya. Dia sudah mendapatkan apa yang kau rasakan selama ini."


"Aku akan berusaha mengambil sesuatu yang telah ia ambil dari dirimu," janji Nadia.


"Nona, Ibu Della waktunya makan siang," seorang perawat membawakan sepiring nasi dan lauk.


"Biar saya yang memberikannya," Nadia mengambil piring dari tangan perawat.


"Baiklah, Nona. Kalau begitu saya permisi," perawat pun pamit.

__ADS_1


Nadia duduk di bangku taman berhadapan dengan Della di kursi roda. "Bibi, makanlah!" ia menyodorkan sendok ke dalam mulut wanita paruh baya.


"Dia sudah jahat, Nadia!" wanita itu mulai mengoceh.


"Bibi harus sehat, tak ada keluargaku selain dirimu," pinta Nadia. "Aku akan melakukan apapun demi kesehatan Bibi," janjinya.


Della kembali diam, ia menikmati makanan yang di suapkan Nadia.


-


-


Nadia datang ke rumah Gunadi, ia sengaja berpura-pura bersedih atas apa yang menimpa mantan calon mertuanya.


"Tante, maaf baru sempat ke sini. Aku turut prihatin dengan kejadian ini," Nadia memeluk tubuh Rita dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Nadia. Terima kasih sudah mau menghibur Tante."


"Sama-sama, Tante. Walaupun aku dan Aryo tidak bisa bersatu," Nadia menunjukkan wajah sendunya.


"Tante berdoa semoga kamu menemukan pria yang lebih baik dari Aryo," Rita mengelus rambut mantan calon menantunya.


"Semoga saja, Tante."


Sasha dan Aryo baru saja sampai rumah, mereka tadi pergi membesuk Gunadi.


"Kak Nadia, apa kabar?" Sasha memeluk wanita itu.


Aryo memilih tidak menyapa Nadia dan berlalu meninggalkan ketiganya.


"Baik," jawabnya. "Maaf Kakak baru sempat datang," pura-pura menyesal.


"Tidak apa, Kak."


"Kalian dari mana?" tanya Nadia.


"Lihat Papa," jawab Sasha.


"Terus langkah yang kalian apa selanjutnya?" Nadia begitu penasaran.

__ADS_1


"Kak Aryo akan menyewa pengacara untuk meringankan hukuman Papa," jelas Sasha.


"Begitu ya," Nadia menarik sudut bibirnya. "Jangan harap kau bisa keluar!" batinnya tersenyum jahat.


__ADS_2