Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Calon Pengantin Pria Tak Datang


__ADS_3

Janji suci pernikahan akan dilakukan tiga jam lagi, namun Rangga tak kunjung datang. Sarah sudah menelepon putranya itu dan mengatakan akan hadir.


Bukan hanya kedua orang tua Rangga yang cemas, calon pengantin wanita juga merasakan hal yang sama.


Nadia memandangi layar cermin, kini dirinya tampak cantik dengan balutan gaun pengantin mewah dan riasan wajah yang sangat mempesona. Ia tersenyum kecut, karena hari ini ia akan menikah dengan remaja yang ia sukai ketika masa sekolah. Ya, Rangga adalah kakak kelasnya.


Nadia sempat menganggumi anak laki-laki itu dalam diamnya, dirinya bukan siswa yang cukup populer di sekolahnya. Setelah beranjak dewasa ia perlahan melupakan Rangga dengan bertemu Arya.


Lagi-lagi karena ingin balas dendam ia menjauhi pria yang kini menjadi suami Rania, ia mengejar Aryo yang jabatannya di Aska Grup cukup tinggi. Hingga dengan begitu ia mampu menghancurkannya dan dendam itu telah dibayar dengan dihukumnya Gunadi. Kini takdir berkata lain, ia akan segera menjadi Nyonya Rangga.


Nadia melihat jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi, tapi kabar yang ia terima calon suaminya itu belum juga datang.


"Pa, setengah jam lagi acara akan dimulai," Sarah tampak panik dan khawatir.


"Mama tenang, ya. Rangga sebentar lagi sampai, dia lagi di jalan," Tio berusaha tetap santai agar istrinya tidak semakin cemas.


Tio menghubungi ponsel putranya itu namun tak ada jawaban. Ia berkali-kali melihat arloji di tangannya.


Para tamu mulai saling bertanya, calon pengantin pria tidak kunjung datang.


Setengah jam berlalu, Rangga juga belum menunjukkan batang hidungnya.

__ADS_1


"Tuan, acara akan dimulai tapi Tuan Rangga belum juga datang," ujar panitia pernikahan.


"Tunggu sejam lagi," mohon Tio.


Rania yang hadir bersama suaminya mulai gelisah. "Kemana dia sebenarnya?"


"Siapa?" tanya Arya.


Rania menoleh ke arah suaminya yang duduk disampingnya. " Ini sudah lewat lima belas menit tapi Rangga belum juga muncul."


"Mungkin dia tak mau menikah dengan wanita itu," tebak Arya.


"Ya, mungkin terpaksa," jawab Arya asal.


"Kasihan Nadia, pasti dia sangat khawatir," ungkap Rania.


"Sudahlah tenang, mungkin Rangga lagi terkena macet . Apa lagi dia dari luar kota," Arya menenangkan istrinya.


Sementara itu, Nadia berjalan mondar-mandir di ruangannya. Sesekali menatap jalanan dai jendela kamar hotel. Matanya tampak berkaca-kaca, calon suaminya belum juga datang.


Mungkin hari ini akan menjadi hari yang paling memalukan buat dirinya karena gagal menikah.

__ADS_1


"Jika saja dia berani membatalkan pernikahannya ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" batinnya.


Sedangkan, Sarah terduduk lemas di sofa tamu. Ponsel putranya tak bisa dihubungi oleh suaminya.


"Ma, minumlah!" Rasya menyodorkan segelas air putih. "Kak Rangga pasti akan datang," menenangkan ibunya.


"Mama tidak akan pernah mau menemuinya, jika sampai dia mempermalukan keluarga kita," ungkap Sarah.


"Kak Rangga tak akan mengecewakan Mama," Rasya menyakinkannya.


"Ini sudah lewat setengah jam dari jadwal, bagaimana Mama tidak khawatir," Sarah memijit keningnya.


"Papa sudah menyuruh pengawal untuk menjemput Kak Rangga," jelas Rasya.


"Apa mereka sudah bertemu dengannya?" Sarah menatap wajah putra keduanya.


"Para pengawal terjebak macet, jadi mereka belum bertemu," jawab Rasya.


Jawaban Rasya membuat Sarah semakin tambah panik dan khawatir.


"Mama sudah melarangnya untuk tidak berangkat, tapi dia tetap memaksa," Sarah berucap kesal.

__ADS_1


__ADS_2