
Hari ini tepat dua minggu, Rangga berumah tangga. Tak ada obrolan serius maupun bercanda antara dia dan istrinya. Mereka hanya bertemu di kamar dan di meja makan saat pagi hari dan menjelang tidur.
Selama 14 hari, mungkin keduanya bertemu dan berbicara bisa dihitung dengan jari. Nadia pernah 5 hari tidak pulang begitu juga dengan Rangga 2 hari harus berada di luar kota.
Hari ini, Rangga pergi ke kantor istrinya. Ia berencana mengajak Nadia bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia sudah menelepon istrinya itu namun nomor yang dihubunginya tidak aktif.
Ia berjalan menghampiri sekretaris Nadia. "Apa saya bisa bertemu dengan Nona Nadia?"
"Sudah dua hari ini Nona Nadia tidak datang ke kantor, Tuan."
"Tapi tiap hari dia selalu berpamitan ke kantor. Apa mungkin ada urusan pekerjaan di luar?" Rangga begitu penasaran ke mana istrinya pergi.
"Seminggu ini tak ada jadwal pertemuan dengan siapa pun, Tuan."
"Apa dia ada bilang mau pergi ke mana?"
Sekretaris Nadia menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.
-
Di dalam mobil Rangga terus berpikir. "Apa yang sebenarnya dirahasiakan Nadia dariku?"
Sambil mengendarai kendaraannya, ia berusaha mengingat tempat di mana mereka selalu bertemu. Rangga berpikiran dengan rumah sakit gangguan jiwa.
Ia melesat menuju tempat tersebut.
__ADS_1
Rangga bertanya pada salah satu perawat. "Apa wanita ini sering ke sini?" menunjukkan foto Nadia di ponselnya.
"Hampir sering, Tuan. Dalam seminggu bisa dua atau tiga kali ke sini."
"Kalau boleh tahu dia ke sini menemui siapa, ya?"
"Salah satu keluarganya di rawat di sini."
"Oh begitu, apa dia hari ini datang ke sini?"
"Kemungkinan tidak datang lagi, Tuan. Karena keluarganya itu sudah dinyatakan sembuh," jelas perawat.
"Kalau boleh saya tahu siapa nama keluarganya?"
Rangga tersenyum tipis, Tidak apa!"
"Saya permisi, Tuan!" pamit perawat.
Rangga melangkahkan kakinya ke arah parkiran, ia mengendarai mobilnya ke apartemen. Ia terpaksa berbohong kepada Mama Sarah agar ibunya itu tidak curiga.
Rangga sengaja menunggu Nadia pulang, ia ingin menanyakan kenapa dia tak masuk kantor. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, istrinya itu juga belum pulang.
Sejam menunggu, akhirnya ia tertidur di sofa tamu dengan televisi masih menyala.
Pukul 12 malam, Nadia pulang. Masing-masing dari mereka memegang kunci apartemen jadi kapan pun pulang tak mengganggu waktu istirahat yang lainnya.
__ADS_1
Lampu masih terang di seluruh ruangan, televisi menyala. Ia tersenyum kecil melihat suaminya tertidur pulas di sofa. Ia pergi ke kamar mengambil selimut dan menyelimutkannya di tubuh Rangga lalu mematikan televisi.
Sebagian penerangan di dalam ia padamkan, meletakkan beberapa piring dan gelas kotor yang berserakan di beberapa meja ke tempat pencucian.
Setelah itu, ia membersihkan diri lalu pergi tidur.
...****************...
Rangga terbangun ketika mendengar suara dari dapur. Ia terduduk di sofa melihat ke arah sekelilingnya. Ia menyibakkan selimutnya berjalan menghampiri istrinya.
"Jam berapa kau pulang semalam?"
"Mandilah, aku lagi membuatkan sarapan untukmu," Nadia menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan suaminya.
"Kemarin pagi, aku ke kantormu kata sekretarismu kau tidak datang ke kantor selama dua hari ini."
"Aku ada urusan di luar kantor," jelas Nadia.
"Urusan apa?" Rangga penasaran.
Nadia tak menjawab, ia malah sibuk menyajikan makanan di meja. Lalu ia meletakkan apron di gantungan yang ada di dapur. Ia berjalan ke kamarnya memilih meninggalkan suaminya.
Rangga menyusul Nadia ke kamar. "Aku pergi ke rumah sakit, siapa keluargamu yang di rawat di sana?"
Nadia membalikkan badannya dan menatap suaminya. "Apa kau perlu tahu semua urusanku?"
__ADS_1