Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Terbongkar


__ADS_3

Selesai makan siang, Nadia dan suaminya mengunjungi Della di rumah sakit. Sesampainya di sana, ia melihat Sasha sedang asyik berbincang dengan bibinya.


"Bibi, Sasha!" sapa Nadia.


"Kakak!" Sasha tersenyum pada sepasang suami istri itu.


"Dengan siapa ke sini?" tanya Nadia.


"Tadi aku minta Kak Aryo ke sini," jawabnya.


"Apa Tante Rita tahu kalau Sasha ke sini?" Nadia bertanya lagi.


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


Nadia menghela nafas, ia tahu siapa yang menyuruhnya ke rumah sakit bertemu dengan Della.


"Apa Kak Nadia tahu siapa ayah kandungku?" Sasha bertanya dengan wajah polosnya.


"Kakak tahu, tapi pria itu yang berhak memberitahu dirimu," jawab Nadia.


"Apakah dia Papa Gunadi?" Sasha menebak.


Nadia dan Rangga terdiam sejenak lalu sekilas memandang.


"Apa Papa sebenarnya ayah kandungku?" desak Sasha. "Ibu bilang aku persis seperti Papa Gunadi," ujarnya.


"Eh.. Sasha, apa Bibiku sudah minum obat?" Nadia mengalihkan pertanyaan adiknya Aryo.


"Kak, jawab pertanyaan ku!" Sasha terus memaksa.


"Sasha, lebih baik tanyakan ini kepada papamu. Karena dia yang pertama kali membawamu kepada keluarga Gunadi Aksa," Rangga akhirnya ikutan berbicara.


"Baiklah, aku akan bertanya pada papa," Sasha lalu mengarahkan pandangannya ke arah Della yang masih terduduk diam dan mendekatinya. "Ibu, aku mau pulang. Cepat sembuh!" pamitnya. Kemudian ia berpamitan pada suami istri itu.


Rangga yang tahu kekhawatiran istrinya berkata, "Cepat atau lambat mereka juga akan tahu!"


"Aku takut jika pria tua itu melakukan hal yang buruk kepada Bibi Della."


"Semoga saja tidak!" harap Rangga.


-


-


Sasha sesampainya di rumah segera menghampiri sang papa yang sedang bersantai di halaman belakang rumah. "Siapa ayah kandungku, Pa?"


Pertanyaan itu membuat Rita dan kedua putranya menoleh ke arah Sasha


"Dia suaminya Della," jawab Gunadi.


"Tapi siapa pria itu?" desak Sasha.


"Eh, dia tidak di sini."


"Tapi Papa tahu 'kan siapa namanya?"


"Tahu," jawab Gunadi terbata.


"Siapa namanya?" Sasha menatap mata Gunadi.


Pria paruh baya terdiam.


"Ibu dan Kak Nadia menyuruhku untuk bertanya Papa. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?" cecar Sasha.


"Siapa nama ayah kandung Sasha, Pa?" Rita juga penasaran.

__ADS_1


"Papa sangat lelah," Gunadi berusaha menghindari putrinya itu.


"Apa mungkin ayah kandung Sasha itu Papa sendiri?" tebak Arya.


Wajah Gunadi mendadak pucat.


"Kenapa diam, Pa?" Aryo juga mendesak.


"Kalian ini bicara apa?" Gunadi berusaha tersenyum.


"Kalau Papa tahu siapa ayah kandung Sasha, pertemukan dia dengan ayahnya!" Arya melirik adiknya.


"Papa tidak akan mempertemukannya," Gunadi mengatakannya dengan tegas.


"Kenapa?" tanya Aryo.


"Jika memang Papa mengenal ayah kandung Sasha, kenapa tidak memperbolehkannya bertemu atau sekedar tahu saja?" Rita menatap suaminya.


"Kenapa kalian memojokkan Papa?" Gunadi merasa tak senang.


"Karena aku dan Aryo bertemu dengan Nadia, wanita itu mengatakan jika ingin tahu siapa ayah kandung Sasha bertanya saja kepada Papa," jelas Arya.


"Pasti ada sesuatu yang Papa simpan, sampai Nadia berkata begitu," tuding Rita.


"Mama, kenapa ikutan seperti mereka?" Gunadi melihat istrinya.


"Katakan saja yang sejujurnya, Pa!" desak Rita.


Karena sudah terpojok, Gunadi akhirnya berkata, "Sasha memang putri kandungku!"


Semua yang mendengarnya merasa terkejut, seketika tubuh Rita lemas dan hampir terjatuh beruntung Aryo yang berada di belakangnya berhasil menahannya.


Gunadi mendekati istrinya.


"Jangan dekat!" hardik Rita. "Pembohong!" teriaknya.


Sasha mendekati Rita namun wanita paruh baya itu mendorongnya.


"Jangan sentuh aku!" sentak Rita. "Kau bukan putriku!" ia meluapkan amarahnya.


"Mama!" Bibir Sasha bergetar.


"Ma, Sasha tidak bersalah!" Aryo yang mendekapnya menenangkan ibu sambungnya.


"Mama tidak percaya lagi dengan Papa, sudah berapa kali dia membohongi kita!" Rita terus menangis.


"Ayo, Ma. Kita ke kamar!" Arya mengajak ibunya.


"Mama tak mau melihat wajah dia!" tunjuknya pada suaminya.


"Rita, aku minta maaf!" mohon Gunadi di kaki istrinya.


"Tinggalkan aku, sekarang juga!" usir Rita tanpa melihat suaminya.


"Mama!" Air mata Sasha terus mengalir. "Apa Mama akan mengusir juga?" tanyanya.


"Kau bukan putriku, ikutlah dengan ayahmu!" Rita menatap marah pada putri yang ia rawat dari bayi.


"Aku tidak mau, Ma!" Sasha menggeleng kepalanya.


Arya mendekati adiknya. "Biarkan Mama tenang," bujuknya dengan lembut.


"Kak Arya tetap kakak ku, kan?" Sasha menatap suami Rania dengan terisak.


"Aku dan Kak Aryo tetap menganggapmu adikku!" Pria itu memeluknya.

__ADS_1


-


Aryo membawa Rita ke kamar, sedangkan Gunadi termenung di ruang tamu. Sementara itu Sasha di bawa Arya ke rumah istrinya.


"Mama sedang tidur. Aku harap Papa tidak membuatnya bersedih lagi," pinta Aryo menghampiri ayahnya.


"Maafkan Papa, Nak!" Gunadi tetap dengan tatapan kosong.


"Papa harus bertanggung jawab dengan semua ini. Papa juga harus bersiap untuk memilih antara Mama atau Bibi Della," ujar Aryo.


"Papa akan tetap bersama Mama," berucap dengan nada sendu.


"Bagaimana jika Mama tidak mau? Bibi Della juga korban dari keserakahan Papa!" ungkap Aryo. "Pantas saja Nadia berani menjebloskan Papa ke penjara!" lanjutnya.


"Dari mana kau tahu?" Gunadi mengarahkan pandangannya pada Aryo.


"Aku dan Arya mencari tahu semuanya, ternyata perusahaan yang Papa tipu adalah Lestari Grup."


-


Kediaman Reno Hadinata Kusuma


Sasha masih menangis, Rania berusaha membujuknya. "Sha, makanlah sedikit. Mama Rita tidak mungkin membencimu."


"Aku bukan putrinya, Kak. Mama tak mau bertemu denganku!" Sasha terisak dipelukan kakak iparnya.


"Mama masih syok mengetahui semuanya. Kau harus memakluminya," nasehat Rania.


"Semua karena Papa. Aku sangat membenci dia, Kak!"


"Tenanglah, kau masih emosi," bujuknya lagi.


"Aku sayang Mama, Kak. Aku bisa jauh darinya!" Sasha kembali menangis.


"Kak Arya pasti akan membujuk Mama Rita, percayalah!"


"Benar, Kak?"


"Ya." Rania tersenyum.


Sasha menghapus air matanya.


"Kau mau makan di bawah atau di antar ke kamar?" tanya Rania.


"Di kamar saja, Kak!"


"Kalau begitu, Kakak akan menyuruh pelayan mengantarkan makanan ke sini!" Rania mengelus rambut iparnya.


"Terima kasih, Kak!"


"Ya, sama-sama. Kakak mau ke bawah mempersiapkan makan malam buat Ayah dan suamiku," Rania pamit meninggalkan kamar Sasha.


Wanita cantik itu turun menghampiri suaminya yang sedang bermain dengan Anira.


"Apa dia sudah berhenti menangis?"


"Sudah, besok bujuk Mama agar mau bertemu dengannya," pintanya pada suaminya.


"Besok aku usahain, Mama masih emosi jadi tanpa sadar memarahi Sasha. Padahal Mama sangat menyayangi, dari Sasha kecil tak pernah ia dimarahi selalu aku dan Aryo yang jadi sasaran kecerewetannya," ungkap Arya.


"Aku tahu, Sasha dirawat dari bayi dengan penuh kasih sayang dan sudah dianggap seperti anak kandung sendiri."


"Ya, kau benar. Mama tidak mungkin sepenuhnya membenci Sasha!" Arya tersenyum tipis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Like dan Komen


Terima Kasih Sudah Membaca😊


__ADS_2