
Nadia datang bersama temannya Lita, hari ini ia akan mengenalkan wanita itu kepada Arya.
"Pagi semua!" sapa Nadia dan ikut bergabung dengan keluarga Aryo di meja makan.
"Dia siapa?" tanya Rita.
"Dia temanku, Tante. Aku akan mengenalkannya kepada Arya," jawab Nadia melirik Arya.
"Silahkan duduk!" ucap Gunadi.
Lita pun ikut duduk bersebelahan dengan Sasha.
"Apa kau sudah gila?" bisik Aryo di telinga Nadia.
"Arya sudah memiliki istri dan calon bayi untuk apa kamu membawa wanita lain ke rumah ini," tutur Rita.
"Apa Rania hamil?" tanya Aryo.
"Ya, sebentar lagi aku akan memiliki cucu," jawab Rita bangga.
"Wah, bagus. Tapi kenapa Arya tidak mengakui istrinya?" sindir Aryo melirik adiknya itu.
"Papa tidak yakin, janin yang dikandung Rania calon anak Arya," ucap Rita.
"Jadi, Papa menuduh Rania selingkuh," ujar Rita.
Arya menghentikan makannya dan meletakkan sendok, memundurkan kursinya lalu berdiri.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rita.
"Ayo, Sha. Biar Kakak antar ke kampus," ajak Arya.
"Iya, Kak." Sasha mengikuti langkah Arya meninggalkan meja makan.
-
__ADS_1
Diperjalanan menuju kampus, Arya melihat Rania sedang bersama dengan seorang pria muda sebaya dengan adiknya. Entah, kenapa ada rasa marah saat melihat kedekatannya.
Ia pun menghentikan laju kendaraannya dan turun, Arya mengikuti langkah Rania dan pria tersebut di sebuah minimarket.
"Kakak, kita mau ke mana?" Sasha ikut mengejar kakaknya.
"Kakak melihat Rania bersama dengan pria lain," jawab Arya.
"Kenapa Kakak harus marah? Bukankah Kak Arya tidak mengakuinya?"
"Kau dan Kak Aryo sama saja!" gerutunya.
"Kau lihat dia bersama pria yang lebih muda dari ku," tunjuknya ke arah keduanya.
"Biarkan saja, Kak Rania berhak bahagia!" Sasha menarik tangan Arya.
"Ini tidak bisa, Sha. Apa lagi wanita itu mengaku hamil anakku, bagaimana ku bisa percaya kalau dengan mata kepalaku dia jalan dengan pria lain."
"Salah Kakak sendiri tak mau mengakuinya," omel Sasha. "Kak, aku sudah terlambat!" ucapnya.
"Kakak mau menghampirinya," Arya berjalan mendekati Rania yang baru saja keluar dari mini market.
"Dari mana kau tahu?"
"Karena aku adik iparnya Kak Rania," jawab Sasha ketus.
"Tak usah berbohong, Sha. Kamu ingin menutupi kesalahannya, kan?"
Rania melihat suaminya bergegas menemuinya. "Arya, kau ada di sini?"
"Ya, memangnya tak boleh," jawab Arya ketus.
"Ya, boleh. Aku malah senang bertemu denganmu," ujar Rania tersenyum.
"Kak, mari ku antar ke kantor," ajak Aryan.
__ADS_1
"Tunggu!" ucap Arya.
"Ada apa?" Aryan menatap tak suka pria yang ada didepannya.
"Biar aku yang mengantar Rania ke kantor," tawar Arya.
"Tidak perlu!" tolak Aryan.
"Kita pergi saja dari sini, Kak!" bisik Sasha di telinga Arya.
"Dia istriku, aku berhak mengantarnya!" tiba-tiba mulut Arya mengakui Rania.
"Apa ingatanmu sudah pulih?" tanya Rania.
"Belum, tapi biarkan aku mengingat semuanya," jelas Arya.
"Aryan, biar Kakak di antarnya saja!" ucap Rania.
"Tapi, Paman Reno sudah menyuruhku untuk mengantar Kakak," ujar Aryan.
"Biar Kak Arya saja, aku merasa nyaman dan aman bersamanya," ucap Rania menatap wajah suaminya.
"Jadi, aku pergi ke kampus dengan siapa?" tanya Sasha.
"Aryan yang akan mengantarmu," sahut Rania dengan cepat.
"Aku tidak mau!" ucap serentak Aryan dan Sasha.
"Ayo, aku antar!" Arya mengajak Rania.
"Pegang aku!" Rania menggenggam tangan suaminya dan pria itu tak menolaknya.
Mobil Arya telah meninggalkan halaman parkiran.
"Apa kau tetap ingin di sini?" tanya Aryan ketus.
__ADS_1
"Kau ingin mengantarku?" Sasha balik bertanya.
"Jangan banyak bertanya, cepat naik!" titah Aryan.