Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Kesedihan Reno


__ADS_3

Arya belum sadar juga, Rania dengan setia menunggu di samping suaminya. Rita yang juga datang menjenguk, ia berkali-kali menyuruh Rania untuk pulang.


"Aku mau menunggu Arya sadar, Ma."


"Kamu sudah di sini dari semalam, beristirahat pikirkan juga kondisi kesehatanmu. Jika Arya sadar, Mama akan menghubungimu."


"Baiklah, Ma." Dengan langkah malas ia meninggalkan ruangan kamar Arya.


Dua jam berada di rumah, Rania mendapatkan telepon dari rumah sakit jika suaminya telah sadar. Seluruh keluarga hadir, termasuk Nadia.


Rania datang ditemani Irma. Ia ikut menunggu bersama keluarga Arya yang lainnya. Tampak raut bahagia terpancar dari wajah seorang istri Arya Gunadi Aksa.


Dokter pun memanggil keluarga untuk kembali masuk ke ruangan rawat inap. Dokter menunjukkan satu persatu keluarga dan menyuruh Arya menyebutnya.


Arya menyebut nama-nama keluarganya, namun saat Dokter menunjuk Rania ia menggelengkan kepalanya.


"Anda tidak ingat wanita ini, Tuan?"


Deg...ada pedih yang menjalar di hati Rania saat mendengar suaminya tak mengingatnya.


"Arya, dia istrimu!" ucap Rita.


Arya memegang kepalanya dan berteriak kesakitan.


"Maaf semua, sepertinya untuk sementara Tuan Arya harus beristirahat. Kemungkinan dia mengalami amnesia," ucap Dokter. "Bisakah para Tuan dan Nona untuk menunggu di luar?" lanjutnya.


Mereka semua menuruti perintah Dokter. Sementara itu tampak mata Rania berkaca-kaca dan ia berusaha agar air matanya tidak menetes.


"Sedih 'ya, suami sendiri tidak mengenali istrinya," sindir Nadia sengaja duduk di samping kanan Rania.


Irma ingin menjawabnya namun Rania memegang tangannya mengisyaratkan jangan di balas.


Dokter hanya menyuruh orang-orang yang di kenal untuk menjenguk Arya. Sedangkan Rania memilih pulang, ia melakukannya demi kebaikan suaminya.

__ADS_1


Reno yang tahu, putrinya bersedih lantas memeluknya. "Ayah yakin jika Arya jodohmu, dia akan kembali padamu!"


......................


Tiga hari setelah Arya sadar dari komanya selama seminggu, Rita masih rutin menjenguknya dan menjaga putranya itu.


"Apa kau tidak ingat sama sekali dengan Rania, Nak?" Rita menyuapkan bubur ke mulut putranya.


"Dia siapa, Ma?"


"Istrimu yang kamu nikahi dua bulan yang lalu."


"Aku tidak mengingatnya," ucap Arya.


"Dia selalu datang melihat dan menemani dirimu selama koma," jelas Rita.


"Cukup, Ma. Kepalaku sangat sakit untuk mengingatnya," ujar Arya.


-


-


Pagi ini Rania harus bolak-balik ke wastafel mengeluarkan isi perutnya. Reno yang mengetahui putrinya tidak sedang sehat mendekatinya.


"Ayo, Ayah temani ke rumah sakit?" ajak Reno.


"Untuk apa, Yah?"


"Dari tadi Ayah melihatmu selalu muntah, tidak seperti biasanya," jawabnya. "Ayah curiga kamu hamil?" tebaknya.


"Hah, hamil?"


"Cepat ganti pakaian, kita ke rumah sakit untuk memastikannya," titah Reno.

__ADS_1


"Baik, Yah.


Setibanya di rumah sakit, Rania memasuki ruangan dokter kandungan bersama dengan Reno.


"Sepertinya putri anda hamil, usia kandungan di prediksi 3 minggu," jelas Dokter sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Reno sendu.


"Iya, Tuan!"


Rania yang mendengar penjelasan Dokter tersenyum. Sementara itu Reno tampak bersedih. Mereka pun meninggalkan rumah sakit.


Di perjalanan pulang Reno hanya diam.


"Apa Ayah tak suka aku hamil?"


"Bukan, Nak."


"Lalu, kenapa Ayah bersedih?"


"Ayah jadi ingat pada ibumu. Saat hamil dirimu, Ayah tidak pernah tahu. Sekarang kamu hamil, suamimu tidak mengingat dirimu."


"Ayah, aku akan menjadikan kehamilan ini untuk mengingat dirinya. Kalau Arya mempunyai istri," ucap Rania.


"Apa kamu sudah menunjukkan foto dan buku pernikahan padanya?"


"Aku belum bisa bertemu dengannya," jawabnya.


"Sampai kapan kalian berpisah?" Ada perasaan kecewa di hati Reno saat menantunya itu tak mengingat Rania.


"Aku akan mencoba berbicara pada Mama Rita, semoga saja dia mau mempertemukan kami," harap Rania.


"Semoga saja, ingatan Arya segera pulih."

__ADS_1


__ADS_2