Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Memindahkan Della


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Rangga bersiap akan ke kantor karena hari ini ada rapat. Nadia yang melihat wajah lelah suaminya merasa kasihan. Perjalanan yang mereka lakukan menghabiskan waktu selama 2 jam belum lagi jam tidur Rangga yang tidak nyaman selama menginap di rumah Bibi Della.


"Apa rapatnya harus hari ini?" Nadia menyediakan secangkir kopi dihadapan suaminya.


"Ya, rapat ini sangat penting. Aku sudah memundurkan jadwalnya sejam," Rangga melihat arlojinya.


"Selesai rapat segera pulang," pinta Nadia.


Rangga melihat sekilas istrinya lalu menyesap kopinya. "Kenapa?"


"Biar kau bisa beristirahat," jawab Nadia.


"Baiklah, aku akan pulang selesai rapat. Apa kau hari ini tidak ke kantor?" balik bertanya.


"Tidak, aku sangat letih sekali hari ini."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku pergi kerja," pamit Rangga.


"Hati-hati!" Nadia mencium punggung tangan suaminya.


Rangga tersenyum lalu ia mengecup kening istrinya.


-

__ADS_1


Nadia baru saja selesai membersihkan rumah, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan tersebut. Mendadak wajahnya cemas dan panik.


Asisten rumah tangga Bibi Della melaporkan bahwa ada dua orang pria memaksa ingin bertemu dengan bibinya. Namun, kedua wanita itu mampu menolak tamu tak diundang dengan mengancam akan melapor kepada pihak berwenang yang ada di wilayah sekitar rumah.


Nadia yang mendapatkan laporan itu, segera mengganti pakaiannya. Tak lupa ia mengirimkan pesan kepada suaminya meminta izin kembali ke kota Bibi Della.


Nadia meraih kunci dan tas di atas nakas, ia bergegas ke parkiran apartemen.Mobil melesat ke Kota E dengan kecepatan sedang.


Selesai rapat, Rangga membuka ponselnya. Sebuah notifikasi pesan masuk dari istrinya. Wanita itu meminta izin padanya untuk kembali ke Kota E.


Rangga jadi khawatir, mengingat istrinya tadi mengatakan sangat letih. Ia pun menelepon namun tak ada jawaban.


Rangga menyuruh sopir kantor untuk menemaninya, ke Kota E.


Tepat pukul 5 sore, Rangga tiba di kota Bibi Della tinggal ia bergegas menghampiri istrinya yang berada di kamar, wanita itu terkejut dengan kedatangannya.


"Maaf!" Nadia menunjukkan wajah bersalah. "Aku benar-benar khawatir dengan Bibi Della karena tadi ada pria asing memaksa ingin bertemu," lanjutnya menjelaskan.


"Tapi tidak gegabah seperti ini, Nadia. Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu? Kau bilang tadi sangat letih," Rangga terus mengomel.


"Tadi aku memang sangat bingung, Rangga!" Nadia memegang dahinya.


"Aku akan menyuruh anak buah Papa menjaga rumah ini!"

__ADS_1


"Apa itu tidak membuat Bibi Della dalam bahaya?" Nadia begitu khawatir.


"Kalau begitu, bawa dia ke kota kita. Biar kita semakin mudah menjangkau dan mengawasinya. Tapi tetap dengan penjagaan ketat," usul Rangga. "Bagaimana apa kau setuju?" tanyanya.


Nadia mengangguk setuju.


"Malam ini kita di sini, besok pagi kita akan kembali!"


Nadia memeluk erat tubuh suaminya. "Terima kasih sudah khawatir padaku!"


Rangga mendorong pelan tubuh istrinya dan memegang kedua lengan Nadia dengan tangan. "Sekarang kau tanggung jawabku. Aku tidak mau Mama mengomel kalau sesuatu terjadi padamu!"


...****************...


Keesokan paginya, Rangga dan Nadia membawa Della pergi dari Kota E semua di lakukan demi kebaikan. Mereka bertiga menumpang di satu mobil yang sama.


Sementara ini Della tinggal di apartemen milik Nadia. Penjagaan ketat dilakukan di sana. Dua pengawal wanita berada di ruangan apartemen. Bergantian menjaga dan mengawasi wanita yang hampir menginjak usia lima puluh tahun. Asisten rumah tangga juga disiapkan untuk mengurus keperluan wanita itu.


-


Nadia sedikit masih bisa bernafas lega karena Bibi Della dalam jangkauan ia dan suaminya.


"Beristirahatlah!" Rangga mengelus pundak istrinya saat menikmati secangkir kopi di malam hari di ruang santai.

__ADS_1


"Terima kasih sudah membantuku!" Nadia tersenyum.


"Aku akan selalu membantumu," Rangga membalas senyuman itu.


__ADS_2