
Setelah dari kantor Nadia, ia menemui Arya di sebuah kafe.
"Bagaimana, Kak?" Arya tak sabar mendapatkan informasi darinya.
"Dia tak mau memberitahu ku," jawab Aryo lemas.
"Apa perlu kita mendatangi suaminya saja?" usul Arya.
"Aku tidak yakin suaminya mau memberitahu kita," jawab Aryo.
"Kita bisa paksa dia!" Arya begitu semangat.
"Bagaimana kalau kita suruh Rania saja yang bertanya pada Rangga? Bukankah pria itu menyukai istrimu?" usul Aryo.
"Enak saja, aku tak mau kalau mereka bertemu. Bagaimana jika pria itu masih berharap pada istriku?" tolak Arya.
"Kasihan Nadia, jika suaminya masih mencintai wanita lain," Aryo menggelengkan kepalanya.
"Jadi Kakak ingin mendekati Nadia lagi?" Arya tersenyum mengejek.
"Ya, tidaklah. Irma mau ku kemanakan," jawab Aryo.
"Mana tahu Kakak masih menyimpan rasa dengan istri orang," celetuk Arya.
"Kenapa kita jadi bahas istri? Kembali ke topik pembicaraan kita di awal, bagaimana dengan ide yang ku beri?"
"Baiklah, aku setuju!"
......................
Arya meminta nomor ponselnya dari istrinya, setelah berbincang sebentar di telepon. Suami dari Nadia itu memenuhi tawarannya untuk bertemu.
__ADS_1
Ketiganya kini berada di kafe tak jauh dari apartemen milik Rangga. Ia tak memberi tahu Nadia jika putra Gunadi ingin bertemu.
"Kenapa kalian ingin bertemu denganku?" Rangga menyandarkan pundaknya di kursi sambil melipat kakinya.
"Aku tahu kau mengetahui semua tentang Bibi Della," tuding Aryo.
"Ya, aku tahu semuanya. Karena istriku bercerita," ujar Rangga.
"Kalau begitu, apa yang mereka sembunyikan sebenarnya?" Arya begitu penasaran.
"Tidak ada," jawab Rangga santai.
"Kau bilang tahu, kenapa sekarang tidak ada?" protes Arya.
"Biar Nadia dan Paman Gunadi yang menjelaskannya," ujar Rangga.
"Kenapa tidak kau saja yang menjelaskannya?" tanya Arya.
"Aku tidak berhak, ini urusan antara istriku dengan ayah kalian," tutur Rangga.
"Kalian pikir istriku, wanita murahan. Mempunyai hubungan dengan pria tua," gerutu Rangga. Ia tak suka istrinya dikatakan sebagai perempuan perebut suami orang.
"Rangga, tolonglah kami. Siapa sebenarnya Bibi Della?" pinta Arya.
"Istriku sudah menjelaskan kepada kalian."
"Tapi kami tidak tahu hubungan yang sebenarnya," ungkap Arya.
"Suatu saat kalian juga akan tahu!" Rangga beranjak dari kursinya.
"Kau mau ke mana?" tanya Arya.
__ADS_1
"Aku mau menjemput istriku, minumannya sudah aku bayar," Rangga kemudian berlalu meninggalkan kedua pria itu.
"Apa yang ku bilang, dia takkan mau memberikan penjelasan kepada kita," Arya memijit pelipisnya.
"Kasihan Mama, selalu saja menangis dan bertengkar dengan Papa," tutur Aryo.
"Apa sebenarnya Papa memiliki hubungan spesial dengan Bibi Della? Saat di rumah sakit, hanya Sasha yang diperbolehkan bertemu," tebak Arya.
"Itu artinya Papa selingkuh?" tuduh Aryo.
"Semoga saja tidak!" jawab Arya.
-
"Kau tidak ke kantor?" tanya Nadia saat memakai sabuk pengaman.
"Tidak," jawab Rangga. "Tadi Aryo dan Arya mengajakku bertemu," lanjutnya berucap.
"Pasti mereka ingin bertanya tentang Bibi Della," tebak Nadia.
"Ya, kau benar. Kenapa tidak kita beri tahu saja?"
"Biarkan Paman Gunadi yang menjelaskannya, aku ingin memberikan mereka kejutan," jawab Nadia tersenyum.
"Kau masih memiliki dendam pada keluarganya?"
"Ya."
"Apa kau masih mencintai salah satu putra Gunadi?" tanya Rangga.
Nadia segera mengalihkan tatapannya ke arah suaminya dengan kesal. "Jika aku perasaan itu masih ada, kita tidak akan menikah!"
__ADS_1
"Maaf, aku tidak akan bertanya hal itu lagi!"
"Cepat nyalakan mesinnya, aku sangat lapar!" titah sang istri.