
Seketika Nadia terdiam sejenak saat ada orang lain memanggilnya tanpa embel-embel Nona di depannya. Perlahan ia membalikkan badannya dan membulatkan matanya. "Kenapa kau di sini?"
"Aku yang harusnya bertanya, kenapa kau di sini? Siapa dia?" Rangga begitu penasaran.
"Bukan urusanmu," Nadia mendorong kursi Della menjauh dari Rangga.
Pria itu mengikuti langkah Nadia lalu berhenti, wanita itu membalikkan badannya dan menyipitkan matanya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya sekedar bertanya saja," Rangga memundurkan langkahnya.
"Aku peringatkan padamu, jangan campuri urusan ku!" Nadia berkata dengan lantang.
"Baiklah," Rangga memilih tak bergerak. Nadia melanjutkan mendorong kursi roda Bibi Della.
Rangga akhirnya menunggu temannya di parkiran. Nadia berjalan dengan terburu-buru memasuki mobilnya.
......................
Hari ini Rania menghadiri acara pesta pernikahan salah satu rekan bisnisnya, tentunya beberapa pengusaha turut di undang. Rangga datang bersama temannya.
Rania berjalan dengan perut membesar ke meja di mana makanan dan minuman tersedia. Sedangkan Arya lagi di toilet. Tiba-tiba Rania memegang perutnya,
Rangga bergegas menghampirinya. "Kenapa Rania?"
"Perutku terasa kram," Rania mengerang sakit.
Beberapa tamu menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Mana suamimu?" Rangga mengedarkan pandangan mencari Arya. "Mari ku antar ke mobil!" ajaknya.
"Biar aku saja!" sahut Arya yang muncul.
"Katanya perutnya kram," tutur Rangga.
"Terima kasih," Arya memapah tubuh istrinya ke parkiran.
Nadia menghampiri dan melihat kekhawatiran di wajah Rangga. "Kau menyukai istri orang lain!" celetuknya.
"Bukankah kau bilang jangan campuri urusan orang lain?" Rangga beranjak pergi.
Sindiran itu membuat Nadia tak berkutik.
Sementara itu, Rania terus menangis kesakitan di dalam mobil yang mulai meninggalkan gedung.
Begitu sampai di rumah sakit, Rania segera mendapatkan perawatan medis. Dokter mengatakan jika Rania segera melahirkan.
Arya bergegas menghubungi Mama Rita dan Ayah Reno. Tak sampai sejam kedua keluarga tiba di rumah sakit.
Arya masih menemani Rania berjuang di ruangan bersalin. Lima belas menit kemudian, istrinya itu melahirkan bayi perempuan. Perasaan lega, tangis, dan haru menyelimuti Arya. Ia tidak menyangka telah menjadi seorang ayah dari hasil pernikahan terpaksanya.
Reno beranjak berdiri dari kursinya mendengar tangisan suara bayi. Ia tersenyum saat perawat keluar dari ruangan itu.
Mama Rita yang datang bersama Sasha memeluk putrinya, ia menangis terharu memiliki cucu.
Rayyan datang juga ke rumah sakit bersama Arina.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Rania?" tampak raut wajah khawatir pada diri Rayyan.
"Rania melahirkan bayi perempuan," jawab Reno.
"Syukurlah," Arina saling menatap dengan suaminya dan melempar senyum.
"Apa kita sudah bisa melihatnya?" tanya Rayyan.
"Belum, bayinya masih dibersihkan." Reno menjawab.
Sementara itu di ruangan bersalin, Arya mengelus rambut istrinya. "Anak kita cantik seperti kamu."
Perawat membawa bayi kepada kedua orang tuanya, Arya penuh hati-hati menggendongnya. Rania yang masih lemas mencoba tersenyum. Suaminya mendekatkan tubuh mungil itu di wajahnya, Rania pun menciumnya.
"Kau ingin memberikan namanya siapa?" Rania melihat ke arah suami dan bayinya.
"Anira Hadinata Aksa," jawab Arya memandangi putri kecilnya.
Rania tersenyum melihat ekspresi wajah bahagia suaminya.
"Mereka sudah menunggu di luar, aku akan memanggilnya," Arya meletakkan Anira di samping ibunya.
Arya membuka pintu ruangan dan memanggil para keluarga agar bisa menjenguk bayinya. Dengan semangat para orang tua menemuinya.
Mama Rita mengangkat Anira dan menggendongnya, ia mengelus pipi lembut dengan tersenyum. Rayyan dan Reno hanya memandangi wajah bayi lucu itu.
Kini Arina menggendong Anira, wajah wanita paruh baya tampak begitu senang. "Cantik seperti ibunya," pujinya.
__ADS_1