
"Aku dan Della berkenalan di sebuah acara yang diadakan tempat sekolahku dulu. Della bersekolah di tempat yang sama denganku. Usia kami terpaut tujuh tahun. Saat itu aku mulai menyukainya dan mulai mendekatinya."
"Kami menjalin hubungan selama tiga tahun, namun akhirnya terpisah saat ia mengatakan akan melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Aku kecewa dan marah padanya, setelah itu kami tidak berkomunikasi."
"Dan akhirnya aku menikah dengan seorang wanita teman kerjaku, ibu dari Aryo. Lagi-lagi aku harus kehilangan, istri pertama ku meninggal ketika melahirkan Aryo."
"Lalu beberapa tahun kemudian, aku dijodohkan dengan Rita yang juga baru melahirkan Arya. Suami Rita meninggal saat usia Arya dikandungan enam bulan. Setelah pernikahan ku dengannya, aku kembali bertemu dengan Della. Kami melakukan hubungan, dia tak pernah tahu jika aku sudah menikah lagi."
"Seiring berjalannya waktu kami menikah diam-diam, tak lama kemudian ia hamil dan mengetahui jika aku sudah menikah. Della mulai marah dan kecewa padaku, ia tak mau mengasuh putri kami. Hingga akhirnya Sasha dilahirkan ke dunia, aku membawanya kepada Rita dan mengatakannya jika bayi itu dibuang ibunya."
"Rita sangat menyukai Sasha dan ia mau mengurus serta merawat bayi kami dengan kasih sayang. Aku menyesal telah membohongi istriku tentang hubungan kami." Gunadi menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana bisa Paman memalsukan dokumen perusahaan?" Nadia penasaran.
"Della menginginkan Sasha kembali, tapi aku tidak memberikannya. Jika itu terjadi Rita akan menjadi sedih dan pernikahan ku dengannya berantakan. Aku mencari cara agar terlepas dari Della, ku kembali mendekatinya dan menjalin hubungan dan ia percaya padaku sampai perusahaan ia serahkan kepadaku."
"Paman benar-benar jahat!" desis Nadia.
"Aku terpaksa melakukan itu, agar Della tak mengambil putriku," ungkap Gunadi.
"Tapi, apa Paman tahu rasanya terpisah dengan anak sendiri?" Nadia menatap tajam pria paruh baya itu.
"Paman mengaku salah dan menyesal," Gunadi menyeka air matanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membayangkan hati Tante Rita jika tahu kalau putri yang di asuh dan di rawatnya selama ini. Anak dari suaminya dengan wanita lain," tutur Nadia.
"Apa sekarang kalian bisa pertemukan aku dengan Della?" pinta Gunadi.
Nadia menoleh ke arah suaminya meminta jawaban dari permohonan Gunadi.
Rangga menghela nafasnya, "Baiklah!"
Gunadi tersenyum lega, akhirnya ia bisa bertemu dengan Della.
"Kapan Paman akan berkata jujur pada Tante Rita dan Sasha?" tanya Nadia.
"Secepatnya aku akan berkata jujur pada mereka!" jawab Gunadi.
-
-
Wanita itu berdiri dengan dress selutut memakai kacamata hitam karena teriknya matahari. Ia mengamati sekitar dan merasakan angin yang cukup kencang berhembus. Balkon di sulap seperti kafe dan tampak indah.
Gunadi berjalan pelan ke arahnya. "Apa kabar, Della?"
Wanita itu membalikkan badannya dan membuka kacamatanya, tubuhnya bergetar dan tangannya berkeringat. "Kenapa kau di sini?"
__ADS_1
"Aku merindukan dirimu!" Gunadi berusaha mendekatkan namun tangan Della mengisyaratkan untuk berhenti.
"Kau sudah mati, Gunadi!" bentak Della.
"Tidak, Della. Apa kau tidak merindukan aku dan putri kita?"
"Putri?" Della terbata dan kepalanya mulai terasa pusing.
"Iya, aku akan mempertemukan kalian!" janji Gunadi.
Della mendekati mantan suaminya itu lalu menarik kerah bajunya. "Kembalikan putriku, brengsek!" menatap geram.
Gunadi memegang tangan Della yang mencengkram kerah kemejanya. "Aku hanya bisa mempertemukan kau dengannya!"
"Penipu!" teriak Della. Tak lama kemudian, ia memegang kepalanya dan sedikit menunduk.
"Della!" pria itu memegang lengan tangan Della namun segera ditepis.
"Bibi!" Rangga dan Nadia mendekat.
"Jauhkan Bibi darinya!" Della menunjuk Gunadi.
"Baik, Bi. Ayo kita pergi dari sini!" Nadia menuntun Della kemudian berlalu.
__ADS_1
"Paman, kondisi Bibi Della sedang tidak baik!" Rangga pun menyusul istrinya.