Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Apa Yang Sebenarnya Terjadi?


__ADS_3

Della memperhatikan wajah Sasha dengan seksama. "Kenapa dia memanggilku Ibu?" melirik Nadia.


"Dia adalah putrimu, Bi." Nadia duduk di samping Della.


"Benarkah?" matanya tampak berkaca-kaca, Della mengangkat jemarinya untuk memegang wajah Sasha.


"Iya, Bu!" jawab gadis itu dengan terbata.


"Kau sangat cantik!" Della meraih tubuh itu lalu mendekapnya.


"Kenapa Ibu membuang ku?" Sasha bertanya dalam dekapan ibu kandungnya.


"Aku tidak membuang dirimu tapi ayahmu yang mengambilmu dariku," jawab Della melonggarkan dekapannya.


"Ayah? Siapa namanya?" Sasha penasaran.


"Bibi, apa kau sudah minum obat?" Nadia mengalihkan pembicaraan ibu dan anak tersebut.


"Sudah," Della tersenyum pada Nadia.


"Sasha, ayo kita pulang!" ajak istri Rangga.


"Aku belum mengobrol dengan Ibuku, Kak!"


"Lain waktu saja, nanti kita bisa berbicara lagi. Bibi Della harus beristirahat," Nadia menuntun tubuh wanita paruh baya.


Perawat yang melihat Della dituntun segera berlari mendekatinya. "Biar saya saja, Nona!" ia meraih tubuh wanita itu.


"Terima kasih," Nadia tersenyum pada perawat.


Sasha berdiri di samping Nadia melihat Della dituntun perawat memasuki kamarnya. "Kenapa Ibuku bisa dirawat di sini?"

__ADS_1


"Aku tak bisa menjelaskannya, terpenting saat ini. Kau sudah bertemu dengannya dan dia sangat menyayangimu," Nadia kemudian berjalan menghampiri suaminya dan keluarga Gunadi yang lainnya.


"Kenapa cepat sekali pertemuannya?" cecar Arya.


"Bibiku perlu istirahat, jika mereka terlalu lama mengobrol akan mempengaruhi kesehatannya," ungkap Nadia.


"Kau tidak menyimpan rahasia lagi, kan?" sindir Arya.


Nadia tersenyum simpul, "Seharusnya itu kalian tanyakan pada Papamu!" ia mengarahkan pandangannya kepada Gunadi.


Rangga meraih tangan istrinya lalu menggenggamnya. "Ayo, kita pergi dari sini. Permisi!" ia tersenyum pada Arya dan keluarganya.


Nadia berjalan menuju parkiran bersama dengan suaminya.


Aryo melihat sang papa dengan tatapan menyelidik, "Katakan, Pa?"


"Papa tidak mengerti maksud kalian, ayo kita pulang!" ajak Gunadi kemudian berjalan terlebih dahulu.


Aryo penasaran apa yang telah dirahasiakan antara mantan tunangannya dengan papa kandungnya. Ia mendatangi wanita itu di kantornya.


"Aku ingin bertemu dengan Nona Nadia, apa dia ada di ruangannya?"


"Ada, Tuan. Saya akan meneleponnya," jawab sekretaris Nadia, kemudian ia menghubungi atasannya tersebut. Setelah itu menutup panggilan, lalu berbicara kepada Aryo. "Mari saya antar ke ruangannya, Tuan!" ia membuka pintu ruangan Nadia dan mempersilakan pria itu masuk.


"Terima kasih," ucap Aryo pada sekretaris Nadia.


"Sama-sama, Tuan."


Nadia duduk di sofa tamu yang tersedia di ruangan kantornya. Begitu juga dengan Aryo, ia melihat sekeliling ruangan mantan calon istrinya.


"Ada keperluan apa kau ke sini?" Dengan tatapan angkuh dan ketus.

__ADS_1


Aryo menarik sudut bibirnya, "Ada hubungan apa kau dengan papaku?"


"Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya?"


"Kalau aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan ku dari Papa, aku tidak mau datang bertemu denganmu," jawab Aryo.


"Jika aku memberi tahu, apa keuntungan untukku?"


Aryo semakin bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Nadia.


"Kenapa diam?" tantang wanita itu.


"Mama Rita selalu menangis, apalagi setelah tahu jika Sasha masih memiliki ibu kandung," tutur Aryo.


"Lalu?"


"Dia takut Sasha akan diambil ibu kandungnya. Apalagi selama ini ibunya Sasha adalah Bibimu."


"Bagaimana dengan penderitaan Bibiku selama ini?" Nadia tersenyum sinis.


"Kenapa dari awal kau tidak pernah memberitahuku?"


"Kalau aku tahu dari awal, mungkin cara itu yang ku pakai untuk menjeratmu!"


"Kau masih mencintaiku?"


"Cih, tingkat percaya dirimu terlalu tinggi!"


"Nadia, tolong beri tahu aku. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Nadia bukan menjawab malah beranjak berdiri. "Aku tidak punya waktu lagi untuk mengobrol denganmu. Apa kau bisa meninggalkan ruangan ku?"

__ADS_1


Aryo menghela nafas pasrah, ia pun berdiri kemudian berlalu tanpa berpamitan.


__ADS_2