
Nadia masih sesenggukan di dada suaminya. Air matanya terus menetes.
"Jika kau belum siap bicara, jangan paksakan!" Rangga berusaha menenangkan istrinya.
Nadia malah makin mengeratkan pelukannya. "Aku butuh kamu!"
Rangga mendorong lembut tubuh Nadia, menghapus air matanya dengan jemarinya. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"
"Aku tidak mau pria itu menemui Bibi Della," jawab Nadia.
"Maksudnya?"
"Bibiku mantan kekasih mertuanya Rania."
"Maksudnya Gunadi Aksa?" Rangga mengernyitkan dahinya.
Nadia mengiyakan.
"Apa wanita yang ada di rumah sakit itu Bibi Della?" tanya Rangga.
"Iya, beberapa hari ini aku sering pamit kepadamu keluar kota hanya ingin menyembunyikan Bibi Della. Pria itu sudah bebas dan pasti ingin bertemu dengan bibi, jadi aku memutuskan untuk membawa dia keluar dari rumah sakit. Dokter juga menjelaskan kalau kesehatan mentalnyanya mulai menunjukkan perubahan."
"Kenapa tidak memberitahuku jika kau masih memiliki keluarga?"
"Aku tidak mau mereka tahu kondisi Bibi Della," jawab Nadia.
"Apa aku boleh bertemu dengannya?" pinta Rangga.
Nadia mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
...****************...
Gunadi Aksa telah resmi bebas beberapa hari yang lalu. Ia meminta mantan calon menantunya itu bertemu dan wanita itu menyetujuinya.
Mereka bertemu di kafe tak jauh dari Lestari Grup. Nadia datang memakai kacamata hitam dengan wajah ketus dan angkuh.
"Kenapa Paman ingin bertemu denganku?" Nadia menyedot jus jeruk kesukaannya.
"Aku ingin bertemu dengan Della."
Nadia membuka kacamata hitamnya dan meletakkannya di meja. "Tapi aku melarangnya, Paman!"
"Kenapa? Paman hanya ingin meminta maaf padanya?"
"Apa dengan permintaan Paman bisa membuat Bibi Della seperti dulu lagi?" Nadia tersenyum sinis.
"Paman bukan bersalah pada Bibi Della saja, tapi kepada Tante Rita. Wanita yang begitu menyayangi suaminya, namun ternyata pria yang ia sayangi seorang pecundang!" Nadia berkata tenang tetapi menyakitkan.
"Iya, Paman mengaku salah kepada mereka berdua. Kali ini tolong pertemukan kami!"
"Apa Paman bisa jamin jika kalian bertemu, Bibi Della akan baik-baik saja?" Nadia menaikkan alis matanya, tersenyum simpul.
"Paman tidak tahu, Nadia."
"Sepuluh tahun dia hidup tapi seperti mati, aku kehilangan kasih sayang pengganti orang tua. Itu semua karena anda!" Nadia menekankan kata-katanya.
"Apa yang harus Paman lakukan?"
"Jangan pernah muncul dihadapan kami lagi!" jawab Nadia meraih kacamatanya dan memakainya lagi.
__ADS_1
"Nadia, Paman akan meninggalkan Rita dan bersama dengan Della!" seru Gunadi.
"Tidak semudah itu, Paman!" Nadia berdiri dan berlalu.
Nadia mempercepat langkah kakinya ke parkiran, namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh dan menatap malas wanita yang menyapanya itu.
"Sedang apa kau bersama Paman Gunadi?" tanya Irma yang penasaran.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Nadia tegas.
"Kau tidak bisa menaklukkan putranya, sekarang mendekati ayahnya. Bukankah dirimu sudah menikah?"
tersenyum menyindir.
"Suamiku masih lebih baik," Nadia berkata tegas. "Dan aku sangat mencintainya!" lanjutnya lagi lalu kemudian pergi meninggalkan restoran.
"Baguslah, kalau dia sudah mencintai suaminya," Irma dalam hati.
Irma berjalan memasuki kafe dan ia juga menyapa Gunadi yang hendak keluar. "Paman di sini dengan siapa?" pura-pura tidak tahu.
"Eh, tadi rencana mau bertemu dengan teman. Sepertinya dia tidak jadi datang," Gunadi memberikan alasan berbohong.
"Oh, begitu."
"Kamu ke sini dengan siapa?" Gunadi balik bertanya.
"Saya ingin bertemu dengan Aryo, Paman. Bagaimana kalau kita tunggu dia dan makan siang bersama?" ajak Irma.
"Boleh juga," Gunadi kembali masuk ke dalam kafe. Tak lama kemudian putranya pun datang.
__ADS_1