
Selesai bertemu dengan Tio dan menemukan kesepakatan, akhirnya mereka melakukan kerja sama.
"Proyek ini akan ditangani langsung oleh putraku," ungkap Tio.
"Kenapa tidak Paman saja?"
"Saya sudah tua, mamanya Rangga melarang Paman terlalu lelah bekerja," jawab Tio.
"Oh, begitu ya," Nadia memaksakan tersenyum.
"Kalau begitu Paman pamit."
"Ya, Paman hati-hati," Nadia tersenyum.
Selepas Tio pergi, Nadia menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia mengepalkan tangannya, "Kenapa harus berurusan dengan pria itu lagi?" gumamnya.
-
-
Nadia keluar sekedar makan siang, ia melakukannya seorang diri. Karena ia tak memiliki teman atau sahabat. Ya, dari dulu sosoknya sangat pendiam dan jarang bergaul. Jika dia butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa sakit hatinya, ia akan menyuruh orang melakukannya.
Selama menjalin hubungan dengan Aryo, ia berpura-pura menjadi wanita yang manja dan sombong. Padahal nyatanya ia lebih menakutkan.
Dari usia lima tahun ia diasuh bibinya, namun ia terpaksa disembunyikan dari orang yang dekat dengan Della karena wanita paruh baya itu tak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada Nadia. Perusahaan yang di pegangnya ini adalah milik ayahnya yang sengaja diubah bibinya.
Selesai makan, ia membuka ponselnya sebelum ke kantor. Saat hendak masuk mobil, Nadia melihat seorang wanita paruh baya begitu kerepotan membawa barang belanjaan.
__ADS_1
Nadia berinisiatif membantunya. "Mari saya bantu, Tante!" ia mengambil 2 bungkus kantong plastik. "Mana mobilnya?" Nadia menoleh ke arah wanita itu.
"Di sana, Nak!" tunjuknya ke arah mobil berwarna putih.
Nadia mendekati mobil tersebut, seorang pria berlari tergopoh-gopoh. "Maafkan saya, Nyonya!"
"Tidak apa, tolong kamu bantu angkat ini," Wanita paruh baya itu menunjuk kantong yang dipegang Nadia.
Sopir mengambil barang dari Nadia.
Wanita paruh baya itu melihat ke arah Nadia, Terima kasih sudah menolong Tante, nama kamu siapa?"
"Nadia, Tante!"
"Ya," wanita itu mengangguk. "Sekali lagi, terima kasih!" tersenyum menatap Nadia.
"Kalau begitu, Tante duluan!" Wanita paruh baya itu masuk ke dalam mobil.
"Ya, Tante!" Nadia pun berjalan ke arah mobilnya.
Matanya kembali tertuju pada Irma, wanita yang berhasil merebut hati Aryo. Irma berjalan ke arah parkiran restoran dengan cepat Nadia mendekatinya.
"Ternyata kita jumpa di sini," Nadia menatap sinis temannya Rania.
"Ada apa?" tanya Irma ketus.
"Sendirian saja," sindir Nadia.
__ADS_1
"Kau juga sendirian," Irma balik menyindir.
"Kekasih ku diambil wanita penggoda," Nadia tersenyum tipis.
"Bagaimana 'ya? Kekasihnya tidak mencintainya lagi, apa lagi wanita itu penuh dengan pura-pura," Irma tersenyum sinis.
Nadia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Irma pun berlalu begitu saja.
Nadia membalikkan badannya berjalan ke mobilnya, ia melesat ke kantor.
-
Selesai dari kantor Nadia menyempatkan diri ke rumah sakit menjenguk Bibi Della. Ia turun dari mobil berjalan ke ruangan wanita pengganti orang tuanya.
Rangga yang juga kebetulan menemani temannya bertemu dengan Dokter di rumah sakit tersebut. Ia melihat Nadia seorang diri menyusuri lorong rumah sakit.
"Aku tunggu di sini saja," Rangga berkata pada temannya dan pria itu mengiyakan.
Setelah melihat temannya menemui Dokter, Rangga mencari keberadaan Nadia. Matanya tertuju pada wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dan di dorong Nadia sambil mengobrol.
Karena penasaran Rangga menghampiri kedua wanita itu dan mengatur jarak, ia berusaha mendengar obrolan keduanya yang terdengar sayup-sayup. "Nadia!" panggilnya.
...**********...
Mohon Like Setiap Bab...
Terima Kasih 🌹
__ADS_1