Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Perjodohan Rangga


__ADS_3

Kabar kelahiran bayi Anira terdengar juga di telinga keluarga Sarah. Ibu dari Rangga itu berniat akan mengunjungi buah hati Rania.


Sarah mengajak putra pertamanya untuk membeli hadiah buat putri kecil Rania. Di depan toko bayi, ibu dua anak ini bertemu dengan Nadia.


"Tante di sini juga," sapa Nadia melempar senyumnya sambil menenteng barang belanjaannya.


"Nadia, apa kabar?" Sarah memeluk wanita cantik itu.


"Baik, kalau Tante?" Nadia balik bertanya.


Rangga tadi masih memarkirkan mobilnya menghampiri mamanya. "Mama!"


Nadia melihat seseorang di belakang Sarah.


"Mama, bicara dengan siapa?" Rangga bertanya pelan.


Sarah menoleh menatap Nadia, "Rangga wanita ini yang selalu Mama ceritakan padamu." Melirik putranya yang kini berada di sampingnya.


"Kami saling mengenal, Tante." Nadia bicara terus terang.


"Wah, baguslah." Sarah tersenyum senang. "Kamu ke sini pasti ingin memberi ke panti asuhan," lanjutnya menebak.


"Tante, kenapa tahu?" Nadia mengerutkan keningnya.


"Tante pernah lihat kamu di salah satu panti asuhan di kota ini," jawab Sarah.


"Ma, jadi belanja atau tidak?" Rangga tampak ketus.


"Nadia, Tante masuk dulu. Lain waktu kita jumpa dan mengobrol lagi," janji Sarah.


"Baik, Tante. Dengan senang hati," Nadia membalas ucapan Sarah dengan senyuman.


Rangga membukakan pintu untuk sang mama dan tanpa mempedulikan Nadia.


Setelah memasuki toko dan Nadia juga tak tampak. Rangga kembali berbicara pada Sarah. "Mama, jangan terlalu dekat dengan wanita itu!"

__ADS_1


"Kenapa? Nadia wanita yang baik."


"Dia wanita jahat, Ma."


"Sepertinya kamu salah, Nadia itu wanita baik."


"Mana ada wanita baik, berniat menyakiti orang lain," ungkap Rangga.


"Siapa yang disakitinya?" Sarah menatap putranya.


"Dia mencoba memberikan sesuatu di minuman Rania saat pesta kemarin. Tapi ketahuan dengan ku dan akhirnya dia yang meminumnya," jelas Rangga.


"Lalu Nadia, bagaimana?"


"Dia berjalan seperti orang mabuk."


"Kamu membiarkan dia sendirian?"


"Tidak, Ma!" jawab Rangga cepat.


"Iya, Ma."


"Sepertinya Mama akan menjodohkan dia denganmu," Sarah tersenyum penuh arti.


"Aku tidak mau!" Rangga menolak dengan tegas.


"Mama akan bicara pada Papa!"


"Ma, belanjanya sudah selesai 'kan?" Rangga tak mau Sarah banyak bicara.


"Sudah!" Sarah membawa dua pakaian bayi lalu ke meja kasir.


...****************...


Sarapan pagi bersama, Sarah menyampaikan keinginannya untuk menjodohkan Rangga dengan Nadia. Ia pun mengutarakannya kepada suaminya.

__ADS_1


"Mama ingin menjodohkan Rangga dengan seorang wanita," ungkap Sarah.


"Ma, aku tak mau dijodohkan!" Rangga menolak.


"Anak kita tak mau, untuk apa dipaksa?" Tio menatap sang istri sambil mengunyah makanannya.


"Mama ingin Rangga segera menikah," pinta Sarah pada suaminya.


"Biarkan Rasya lebih dahulu yang menikah," Rangga melirik adiknya.


"Aku masih muda, Kak Rangga anak paling tua. Turuti saja permintaan Mama," ujar Rasya.


"Mama dan Papa juga dijodohkan," celetuk Sarah.


"Kita dahulu beda, Ma. Memangnya Mama tahu tentang keluarganya?" Tio bertanya pada istrinya.


"Rangga mengenal wanita itu," jawab Sarah.


"Apa benar itu Rangga?" Kali ini Tio bertanya kepada putranya.


"Iya, Pa. Dia CEO Lestari Grup," jawab Rangga.


"Nadia Maharani, maksud kamu?" tanya Tio sekali lagi.


Rangga mengangguk mengiyakan.


"Papa mengenalnya? Kalau begitu jodohkan saja mereka," Sarah berucap penuh semangat.


"Bagaimana jika Nadia menolaknya?" tanya Tio.


"Mama akan membujuk dan merayunya," ujar Sarah.


"Terserah Mama," Rangga menghentikan makan malamnya dan berlalu.


"Pilihan Mama tidak akan salah, Nak." Sarah sedikit berteriak.

__ADS_1


"Sudahlah, Ma. Jangan dipaksa, kasihan Rangga juga," Tio mencoba berbicara hati-hati dengan istrinya.


__ADS_2