
Setelah pertemuan dengan kedua orang tua Rangga, mereka kembali bertemu lagi di lokasi proyek. Ya, perusahaan milik Tio yang menyediakan tempat untuk minimarket Nadia.
"Saya mau gedungnya di buat 3 lantai," Nadia berbicara pada karyawannya.
"Saya akan sampaikan pada Tuan Rangga, Nona!"
"Pastikan sesuai dengan keinginan saya. Lantai dasar untuk bermain anak-anak dan food court," pintanya.
"Siap Nona!"
"Kami akan memenuhi permintaan anda, Nona Nadia!" sahut Rangga. "Bisa tinggalkan kami berdua?" pintanya pada karyawan Nadia.
"Baik, Tuan!" karyawan tersebut meninggalkan keduanya di lantai kedua gedung.
"Kau ingin berbicara apa sampai menyuruh karyawanku pergi," Menatap sinis.
"Tawaran apa yang diberikan Orang tuaku kepadamu?"
Nadia menghela nafas, menatap wajah Rangga. "Tidak ada!"
"Aku tidak percaya!"
"Rangga, aku menerima perjodohan ini karena ingin membahagiakan Tante Sarah. Terserah dirimu mau terima diriku dengan baik atau tidak," jelas Nadia.
"Baiklah, jika itu memang mau dirimu. Jangan paksa aku untuk mencintaimu."
"Itu tidak masalah bagiku," Nadia bersikap santai.
...****************...
Beberapa minggu kemudian...
Nadia mendatangi kediaman Reno. Ia disambut Rania, wanita begitu hangat menyapanya. Bayi yang ia gendong kini berusia 4 bulan.
"Rania, aku ke sini ingin mengantar undangan untukmu!" Nadia meletakkan Anira ke kereta dorong bayi.
__ADS_1
"Undangan? Kau akan menikah?" Rania antusias.
Nadia mengangguk pelan mengiyakan.
"Dengan siapa?" Rania penasaran.
"Rangga putranya Paman Tio Mahendraya."
"Wah, selamat!" ucap Rania.
"Terima kasih, Rania. Jangan lupa datang," Nadia berdiri dari tempat duduknya.
"Aku akan datang."
"Kalau begitu aku pamit pulang," izin Nadia.
"Ya, hati-hati."
Nadia berjalan ke arah mobilnya, bersamaan dengan itu Arya baru saja pulang.
"Dia hanya menyampaikan ini saja," Rania menunjukkan undangan.
"Kau ingin menikah?" Arya menatap sinis.
"Ya," jawab Nadia. "Jangan lupa datang," ia masuk ke dalam mobil dan berlalu.
Arya membaca undangan yang digenggamnya. "Bagaimana bisa mereka akan menikah?"
"Aku tidak tahu, mungkin sudah jodohnya."
"Pasti Nadia memiliki rencana lain," tebak Arya.
"Mungkin saja dia sudah berubah, kita tidak tahu alasan dirinya melakukan hal itu pada kita."
"Rangga sendiri yang mengatakan pada kita, bagaimana Nadia ingin memberikan dirimu obat tidur," Arya pernah mengobrol dengan Rangga tentang perlakuan Nadia.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka, selama tidak menggangu hubungan kita," Rania mendorong kereta bayinya masuk ke dalam rumah di susul Arya.
Setelah dari rumah Arya ia mendatangi kediaman keluarga Gunadi. Tampak Mama Rita sedang mengobrol dengan Sasha.
"Sore, Tante!" Nadia menyapa dengan tersenyum.
"Nadia, apa kabar?" Rita memeluk mantan calon menantunya itu.
"Kakak, apa kabar?" sapa Sasha juga.
"Baik, aku ke sini mau membagikan ini kepada kalian," Nadia menyerahkan dua lembar undangan.
Rita dan Sasha melihatnya, keduanya tersenyum lalu memeluk Nadia.
"Kami pastikan datang," janji Rita.
"Ya, Tante. Kalau begitu aku pamit pulang," Nadia pun berlalu.
Sementara itu Rangga masih sibuk dengan pekerjaannya, ia tak mau membagikan undangan pernikahannya dengan Nadia karena tak menginginkannya.
Sarah berkali-kali mengingatkan putranya untuk mengurangi pekerjaannya dan fokus dengan rencana pernikahannya.
"Tuan, ada masalah di kantor cabang di kota E. Apa kita akan ke sana?" tanya salah satu karyawannya.
"Besok kita ke sana."
......................
Mendengar putranya akan pergi ke luar kota di saat pernikahan akan dilangsungkan empat hari lagi. Membuat Sarah marah kepada suaminya.
"Pa, apa tidak karyawan yang bisa mewakili dirinya di sana?" protes Sarah.
"Ada, Ma. Tapi Rangga ingin menyelesaikannya sendiri," jawab Tio.
"Rangga sebentar lagi akan menikah, Papa bagaimana 'sih?"
__ADS_1
"Lebih baik Mama berdoa saja. Semoga tidak terjadi apa-apa," Tio menenangkan istrinya.