
Rangga dan Nadia melakukan perjalanan ke Kota B untuk bertemu dengan Della, adik kandung dari mamanya Nadia.
Sesampainya di sana, Della duduk di halaman belakang rumah yang memang sengaja di sewa Nadia.
"Bibi, ada yang ingin berkenalan denganmu!" Nadia setengah berdiri di samping kursi.
Della melihat ke arah pria yang posisinya berada di belakang keponakannya. "Siapa?" menatap Rangga.
"Dia suamiku, Bi!" jawab Nadia.
"Gunadi!" dengan terbata Della berucap.
"Bukan, Bi. Namanya Rangga, kami menikah satu bulan yang lalu," Nadia mengelus punggung tangan Della.
"Sore, Bi!" Rangga tersenyum menyapa.
"Kenapa kamu tidak mengundang Bibi?" Della menatap keponakannya.
"Maafkan aku, Bi." Nadia menghapus sudut matanya yang mulai berair.
"Nadia, Bibi mau ke dalam!" Pinta Della dan keponakannya itu membantu menuntunnya ke rumah.
"Apa Bibi sudah minum obat?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Sudah," jawab Della. "Kapan kamu tidur di sini lagi?" lanjutnya bertanya.
Nadia melihat ke arah suaminya meminta jawaban atas pertanyaan bibinya.
"Malam ini kami akan tidur di sini, Bi!" sahut Rangga.
Nadia menghampiri suaminya, "Kau yakin?"
Rangga mengangguk pelan mengiyakan.
"Bukankah kau bilang besok ada rapat?" bisiknya pada suaminya.
"Aku bisa menundanya, biarkan hari ini kita membuat hati Bibi Della senang."
"Ya, sama-sama." Rangga membalas senyuman itu.
-
Nadia sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Bibi Della. Hari ini karena ia dan suaminya datang, dua asisten rumah tangga selama ini menemani bibinya ia beri izin pulang. Kebetulan keduanya tinggal tidak jauh dari rumah kediaman Della.
Nadia menyajikan hidangan favorit suaminya, udang goreng tepung dan jeruk nipis hangat. Rangga melihat salah satu menu kesukaannya tersedia di meja membuatnya menatap sang istri yang masih mondar-mandir.
Nadia menuntun Della duduk bersama di meja makan. Ia mengambilkan nasi, lauk dan sayur ke dalam piring suaminya dan bibinya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bilang, makanan kesukaanku apa. Tapi kau sudah tahu saja," ujar Rangga.
"Mama Sarah mengatakan padaku, padahal aku tidak pernah bertanya," Nadia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Nadia pintar memasak, namun beberapa tahun ini sangat jarang sekali memasak untukku. Dia sudah sangat lelah mengurus diriku dan perusahaan," Della berkata tanpa menatap Rangga atau pun Nadia.
"Bibi, aku tidak pernah merasa lelah mengurus dirimu. Kamulah pengganti kedua orang tuaku," Nadia menatap bibinya.
"Bibi tenang saja, aku akan membantu Nadia mengurus perusahaan dan takkan ku buat dia lelah," janji Rangga.
Della mengebrak meja dengan tangan kanannya membuat Rangga dan istrinya berjingkat kaget.
"Bibi, ada apa?" Nadia mendekati Della dan mengelus pundaknya.
"Jangan beri dia mengurus perusahaan!" tunjuk Della dengan tatapan tak suka. "Bibi, tak mau dia mengambil perusahaan yang orang tua kamu bangun di rebut olehnya!" pandangan Della menatap keponakannya.
"Bibi, tenanglah. Rangga tak seperti itu, dia memiliki perusahaan yang lebih besar dari kita. Suami Nadia, orang yang baik. Percayalah!" ia berusaha menenangkan Della.
"Bagaimana jika dia mengambil perusahaan kita dan meninggalkanmu?" tampak wajah Della khawatir, panik dan cemas.
Nadia menatap suaminya yang tampak keheranan dan bingung. "Rangga tidak akan meninggalkan dan menyakitiku, Bibi. Aku percaya padanya!"
Rangga melihat mata Nadia seakan berharap pada dirinya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan Nadia, Bibi!" perkataan itu lolos begitu saja.
__ADS_1
Nadia yang mendengarnya tersenyum tipis. "Aku harap perkataanmu itu benar!"