
Beberapa hari kemudian...
Nadia kembali ke kantor, ia berjalan memasuki gedung perkantoran. Salah satu staf mengatakan jika ada pria paruh baya yang mencarinya.
"Siapa nama pria itu?" Nadia penasaran.
"Beliau tidak memberi tahu, Nona!"
"Periksa CCTV saya ingin mengetahuinya!" perintah Nadia.
Nadia dan staf memeriksa kamera pengawas di ruangan khusus monitor. Ia duduk mengamati layar saat salah satu karyawannya memutar video.
"Cukup!" perintah Nadia kepada karyawannya agar berhenti memutarkan rekaman video. "Aku tahu siapa dia!" ia berdiri dari kursinya. "Jika pria itu datang ke sini, segera usir!" lanjutnya memerintah.
"Baik, Nona!"
Nadia ke ruangan kerjanya setelah ruang monitor, ia mengambil ponselnya lalu menelepon suaminya.
-
-
Siang ini, ia dan suaminya berjanji bertemu di sebuah restoran. Saat hendak memasuki mobil, seorang pria memanggilnya membuat ia menoleh ke arah suara.
"Paman, ada apa?" tanya Nadia malas.
"Di mana kau sembunyikan Della?"
"Aku sudah katakan pada Paman, jangan ganggu hidup kami lagi!"
"Aku perlu bicara padanya, Nadia!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Paman. Semua sudah berakhir!"
"Tidak, Nadia. Dia harus tahu siapa putrinya," ujar Gunadi.
"Paman bicara omong kosong apa lagi?" Nadia merasa heran.
__ADS_1
"Paman bicara jujur, Nadia."
"Kalian dahulunya hanya sepasang kekasih bukan suami istri. Jadi, jangan buat cerita yang dapat mempengaruhi pikirannya!"
"Nadia, kali ini berikan kesempatan pada Paman untuk menjelaskan semuanya," pinta Gunadi.
"Maaf, aku tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasan Paman," Nadia membuka pintu mobil dan melajukan kendaraannya.
-
Sesampainya di restoran, suaminya sudah menunggunya. Nadia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan wajah tak tersenyum.
"Apa yang terjadi?" Rangga membuka obrolan.
"Paman Gunadi menghampiriku di parkiran kantor."
"Dia bicara apa?"
"Katanya mereka memiliki seorang putri, aku tidak pernah tahu itu."
"Apa kau sudah pernah bertanya pada Bibi Della?"
"Sepertinya kita harus mendengarkan penjelasan Paman Gunadi dan mempertemukan dia dengan Bibi Della," saran Rangga.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bibi Della?"
"Kita belum mencobanya," jawab Rangga.
"Aku ikut saran kau saja."
...****************...
Dua hari kemudian....
Nadia dan suaminya bertemu Gunadi di apartemen milik Rangga.
"Kami akan mempertemukan Bibi Della pada Paman, tapi kami ingin mendengarkan penjelasan semuanya," ujar Nadia.
__ADS_1
"Benarkah kalian akan mempertemukan Paman dengannya?"
"Kami tidak pernah berbohong tapi dengan syarat, jika Bibi Della menolak bertemu. Jangan paksakan dirinya," pinta Rangga.
"Paman akan menuruti syarat yang kalian berikan," Gunadi tersenyum senang.
"Siapa putri bibi?" Nadia begitu penasaran.
"Dia sedang bersama kami," jawab Gunadi.
"Maksudnya?" tanya Nadia.
"Kau mengenalnya dan kalian sangat dekat," jawab Gunadi.
"Jangan bertele-tele, cepat katakan!" Nadia meninggikan suaranya.
Rangga mengelus punggung tangan istrinya lalu melihatnya dan mengisyaratkan untuk bersabar.
"Dia Sasha," Gunadi bersuara.
Nadia yang mendengarnya tampak tak percaya. "Paman tidak berbohong, kan?" menatap Gunadi.
"Paman berkata benar," jawabnya.
"Apa Tante Rita tahu?" kali ini Rangga bertanya.
Gunadi menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika Tante Rita tahu?" tanya Nadia lagi.
"Paman harus terima keputusan yang akan diambil Tante Rita."
"Termasuk jika dia meninggalkan anda," celetuk Rangga.
"Ya."
"Tante Rita harus tahu yang sebenarnya," ujar Nadia.
__ADS_1
"Paman ingin bertemu Della, baru akan menjelaskannya pada Rita."
"Jelaskan pertemuan kalian, hingga menghasilkan seorang anak!" Nadia mulai menunjukkan wajah dinginnya.