Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Menjelaskan


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Nadia merebahkan Della di ranjang. Ia menyelimuti wanita paruh baya itu. "Beristirahatlah, Bi. Maafkan kami!" tertunduk menyesal.


"Bibi, tak mau bertemu dengannya!" Della berucap dengan tatapan menatap langit kamar.


"Iya, Bi."


"Pria itu jahat, dia sudah mengambil putriku dan perusahaan. Aku sangat membencinya!" Della membalikkan tubuhnya memunggungi Nadia yang duduk di pinggir ranjang.


"Iya, Bi. Istirahatlah!" Nadia berbicara dengan lembut.


Nadia meninggalkan Della di kamarnya, lalu ia menghampiri suaminya yang menunggu di ruang tamu.


"Apa Bibi sudah tidur?" Rangga membuka percakapan diantara mereka.


"Belum," Nadia menjatuhkan tubuhnya di samping suaminya.


"Paman Gunadi akan mempertemukan Bibi Della dengan istrinya dan Sasha," tutur Rangga.


"Sepertinya tidak dalam waktu dekat ini, Bibi Della masih trauma," ujar Nadia.


Praaangg....


Suara berisik terdengar dari arah kamar Della membuat Rangga dan Nadia bergegas menghampiri wanita itu.


"Bibi!" Nadia membuka pintu dan melihat Della mencampakkan barang yang ada di dalam kamar.


"Bibi, hentikan!" Rangga bersuara dengan lembut.


"Aku benci dia!" Della mengambil gelas yang ada di nakas dan melemparkannya ke arah Rangga.


Rangga melihat gelas melayang ke arahnya memundurkan langkahnya dengan cepat. Lalu ia menghubungi rumah sakit jiwa.

__ADS_1


"Bibi, cukup hentikan!" teriak Nadia. Ia mendekati Della dan mendekapnya.


"Aku harus membalasnya!" teriak Della sambil menangis.


"Dia sudah mendapatkan hukumannya, Bi!" Nadia tetap berusaha tenang.


Della mendorong tubuh Nadia, membuat wanita itu terjatuh.


Rangga melihat istrinya terjatuh berlari mendekatinya dan membantunya berdiri.


"Ini semua karena kau, Nadia!" Della menunjuk wajah keponakannya.


"Apa salahku, Bi?" Nadia menatap bingung Della.


"Dari dulu aku ingin menghancurkan istrinya tapi kau mencegahku!" menatap tajam keponakannya. "Gunadi sangat mencintainya, aku harus menjauhkan mereka!" lanjutnya mengacak rambutnya.


Nadia ingat sepuluh tahun yang lalu saat dirinya berusia 17 tahun, Della ingin balas dendam tapi ia melarang bibinya melakukan itu. Dia tak mau kalau Bibi Della di tahan dan dia hidup sendirian.


Della mengambil lampu tidur dan menariknya, ia berjalan menghampiri keponakannya dan melayangkan benda tersebut ke arah Nadia.


Della mundur dan tampak ketakutan. Sementara Nadia terus meneteskan air mata, wajahnya tampak seperti orang kebingungan.


Rangga mendekati istrinya dan mendekapnya. "Aku sudah menelepon rumah sakit, sebentar lagi mereka datang!" bisiknya.


Tubuh Nadia gemetaran, "Ini semua salahku!"


"Jangan salahkan dirimu!" Rangga berusaha menenangkan istrinya.


Suara bel berbunyi, Rangga dan Nadia bergegas membuka pintu.


Dua orang petugas rumah sakit datang, keduanya ke kamar Della dan melihat wanita itu duduk dilantai dengan memeluk lutut.

__ADS_1


Mereka membawa Della meskipun wanita itu terus memberontak. "Lepaskan aku!" teriaknya dengan lantang.


Nadia terus berada dipelukan suaminya dan terisak. Melihat Bibi Della harus di bawa lagi ke rumah sakit.


Suami istri itu pun menyusul Della ke rumah sakit, selama perjalanan ke sana. Nadia lebih memilih diam.


-


Kediaman Gunadi Aksa


"Ma, ada hal yang ingin Papa bicarakan?" Gunadi memberanikan bicara kepada istrinya di dalam kamar.


"Tentang apa, Pa?"


"Sasha."


"Kenapa dengan Sasha?"


"Ibu kandungnya ingin bertemu dengannya," jawab Gunadi.


"Papa bilang, wanita itu tidak mau mengakui putrinya," Rita mengingatkan suaminya.


"Sekarang dia sudah menyesal dan ingin melihat wajah putrinya yang sudah dewasa."


"Tapi dia takkan mengambil Sasha dariku, kan?" Rita tampak khawatir putri yang dirawatnya akan diambil.


"Dia tidak akan mengambilnya, mereka hanya sekedar bertemu saja," Gunadi memberikan penjelasan.


"Papa tidak membohongi Mama, kan?" Rita menatap mata suaminya.


"Tidak, Ma."

__ADS_1


"Kita berdua yang harus mengatakan ini pada Sasha," usul Rita.


"Ya, Papa setuju."


__ADS_2