Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Mengingat Semua


__ADS_3

"Bagaimana, Dok?" tanya Rania.


"Sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit," jawab Dokter Roni.


"Apa begitu parah?" Rania mulai khawatir.


"Bagian belakang tubuhnya seperti memar."


"Periksa kamera pengawas sekarang juga!" titah Rania dan dianggukan manajer restoran.


Rania meminta salah satu karyawan pria untuk menjadi sopir. Arya tidur dipangkuannya selama perjalanan ke rumah sakit, ia juga menelepon Reno dan Rayyan.


Tak sampai setengah jam, Reno menghampiri putrinya yang sedang menunggu di ruang tunggu pasien.


"Bagaimana keadaan Arya sekarang?"


"Seseorang sudah memukulnya, tadi manajer restoran mengirimkan rekaman kamera pengawas," jawab Rania.


"Apa mereka kenal pelakunya?"


"Tidak, Yah. Pria itu datang ke restoran berjalan kaki," jelas Rania lagi.


Dokter ke luar dari ruangan periksa dan mengatakan kalau Arya dalam keadaan baik-baik saja. Saat ini masih dalam pengaruh obat dan belum sadar.


Rania masuk ke dalam kamar tempat suaminya di rawat dan ayahnya pulang karena ia juga yang memintanya agar Reno menjaga kesehatannya.


Tak lama Reno pulang, Rayyan mendatangi rumah sakit dan menanyakan kabar Arya.


Rania menjelaskan kepada papanya, tentang kejadian yang menimpa suaminya.


"Ada orang yang ingin mencoba menyingkirkan Arya," tebak Rayyan.


"Aku takut, Pa!" ucapnya.


"Semua akan baik-baik saja, Arya pasti kuat," Rayyan menenangkan putrinya.


Tangan Arya mulai bergerak, ia mengerjapkan matanya dan memegang kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

__ADS_1


"Arya!" Rania mendekati suaminya.


"Rania, aku kenapa?"


"Kau ingat aku?" Rania balik bertanya.


"Ya."


"Kau kenal siapa dia?" tunjuk Rania kepada papanya.


"Papa Rayyan."


"Apa kau ingat semua?" cecar Rania.


"Ya."


"Aku siapa untukmu?"


"Tentunya istriku," jawab Arya.


"Nak, cukup. Jangan bertanya lagi," Rayyan memegang bahu putrinya.


"Lupa ingatan?" Arya mengernyitkan keningnya, ia mencoba bangkit. Rania membantu suaminya duduk.


"Minumlah!" Rania menyodorkan gelas berisi air putih lalu ia menekan tombol memanggil perawat.


Tak lama perawat datang bersama Dokter dan memeriksa kondisi pasien.


"Hasilnya bagus, besok pagi sudah boleh pulang," ucap Dokter.


"Terima kasih, Dok!" ucap Rania.


"Sama-sama, Nona!" Dokter dan perawat meninggalkan ruangan rawat inap.


"Papa mau pulang, kamu tak apa sendirian 'kan?" tanya Rayyan pada Rania.


"Tidak apa, Pa. Ada Arya di sini," Ia melirik suaminya.

__ADS_1


"Jaga kesehatanmu dan calon bayimu," nasehat Rayyan.


"Iya, Pa." Rayyan mengusap rambut putrinya. Rania dan Arya mencium punggung tangannya sebelum meninggalkan rumah sakit.


Rayyan pergi, kini tinggal keduanya di ruangan rawat inap. Arya memperhatikan istrinya yang sibuk memotong buah apel.


"Apa ada yang aneh?" tanya Rania.


"Kata Papa calon bayi. Apa kau hamil?" Arya balik bertanya.


Rania meletakkan pisau, lalu menyuapkan potongan buah apel ke dalam mulut suaminya. "Kau tidak tahu aku hamil?"


Arya menggelengkan kepalanya.


Rania meletakkan piring buah ke atas nakas lalu memeluk suaminya dan menangis.


Arya mendorong tubuh istrinya dan menatapnya heran. "Kenapa menangis?"


"Akhirnya kau mengingat semua, aku rindu padamu!" Rania mengelap air matanya.


"Memangnya aku kenapa?"


"Kau lupa ingatan, tak ingat siapa diriku. Sebulan ini aku kesepian, sampai Mama Rita menyuruhmu untuk tinggal bersamaku agar kau mengingat semua."


"Pasti aku sudah kasar padamu?" Arya menghapus air mata istrinya yang masih menetes.


Rania mengiyakan.


"Maafkan aku!" Arya mengeratkan pelukannya dan mengecup kening istrinya.


"Apa kau tahu tentang kejadian itu?" tanya Rania.


Arya mencoba mengingat namun dengan cepat istrinya melarangnya.


"Jangan dipaksa, lebih baik kita tidur." Ucap Rania.


"Kau tidur dekatku sini," ujar Arya.

__ADS_1


"Baiklah," Rania merebahkan dirinya bersama suaminya di ranjang rumah sakit. Ia memeluknya dan tertidur.


__ADS_2