Calon Istriku Musuhku

Calon Istriku Musuhku
Balasan Rayyan


__ADS_3

Aryo berjalan tergesa-gesa ke ruangan Gunadi. Sesampainya di ruang sang ayah, ia meletakkan beberapa berkas di atas meja.


"Apa ini?" Gunadi mengerutkan keningnya.


"Itu semua pembatalan kontrak," jawab Aryo.


"Kenapa bisa?"


"Aku juga tidak tahu, Pa. Beberapa perusahaan membatalkan kontrak kerja samanya pada kita," jelasnya.


"Bukankah sebelumnya mereka setuju?"


"Iya, awalnya setuju tapi kemarin sore tiba-tiba perwakilan perusahaan mereka datang menyampaikan ini."


"Papa yakin jika ada seseorang yang membuat mereka membatalkan kerja sama ini."


"Aku sepemikiran dengan Ayah, tapi siapa pelakunya?"


"Apa mungkin Rania?"


"Sepertinya tidak mungkin, Pa."


Sementara itu di lain tempat, Rayyan menerima laporan dari anak buahnya.


"Semua berjalan lancar, Tuan. Seluruh perusahaan yang berniat dan akan memulai bekerja sama dengan Aksa Grup semua mengundurkan diri."


"Bagus, aku suka mendengarnya. Kalau begitu kalian bisa kembali bekerja, terima kasih!"


"Sama-sama, Tuan!"


Setelah anak buahnya keluar, Rayyan tersenyum puas. "Ini akibatnya jika berani mengganggu putriku!" gumamnya.


-


-


Sepulang kerja Gunadi tampak lesu, ia berjalan ke kamarnya tanpa menjawab sapaan istrinya.


"Papa kenapa, Aryo?" tanya Rita.


"Beberapa perusahaan memutuskan membatalkan kerja sama," jawab Aryo.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Arya yang sedang menonton televisi.


"Papa curiga Rania ikut dalam pembatalan ini," jawab Aryo.


"Maksudnya wanita itu yang membuat beberapa perusahaan mengundurkan diri?" Arya menatap Aryo.


"Iya, Papa yakin itu pasti dia yang melakukannya," sahut Gunadi yang datang bergabung.


"Apa ada buktinya?" tanya Arya.


"Mungkin wanita itu sakit hati karena kita mengusirnya," jawab Gunadi.


"Licik juga ternyata dia," Arya mengeraskan rahangnya.

__ADS_1


"Tapi belum tentu dia juga," ujar Aryo.


"Besok aku akan datang menemuinya," ucap Arya.


-


Sementara itu, Sasha sedang menikmati waktu bersama teman-temannya di tempat yang sama Aryan juga sedang berkumpul dengan temannya.


"Sha, bukankah itu senior kita?" tunjuk Dita ke arah pria yang duduk tidak jauh darinya.


"Iya," jawab Sasha ketus.


"Kenapa biasa saja?" tanya Dita.


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Bukankah kau menyukainya?" tanya Laras.


"Aku sudah tidak tertarik, dia terlalu dingin," jawab Sasha.


"Bukankah itu sebuah tantangan?" tanya Dita.


"Kau pikir aku ikut pertandingan," Sasha mengerucutkan bibirnya.


"Sepertinya kau melepaskan dia, sudah tepat!" Dita melihat ke arah Aryan lagi.


"Benar," sahut Laras. "Dia sudah memiliki kekasih, lihatlah wanita itu menghampirinya," mata Laras memberi kode kepada temannya dan Sasha mengikuti arah pandangnya.


"Ayo, kita pulang!" ajak Sasha.


Aryan tahu jika Sasha berada di kafe yang sama dengan dirinya, namun ia memilih cuek. Apa lagi sekarang keluarga gadis itu memperlakukan buruk Rania, kakak angkatnya.


"Iya, Yan. Sekarang dia 'kan sudah jadi keluargamu," sambung Erwin.


Aryan hanya tersenyum simpul mendengar ocehan kedua temannya itu.


-


-


Malam harinya, Aryo hendak bertemu dengan Nadia di sebuah kafe. Namun, matanya tertuju pada wanita yang menemani Rania datang ke rumah sakit.


Ya, Irma berada di kafe yang sama yang lagi berdebat dengan kekasihnya. Wanita itu menangis dan pria yang bersamanya memilih pergi meninggalkannya.


"Kau mau ke mana?" Irma berusaha mengejar kekasihnya.


"Aku mau pulang!"


"Kau meninggalkanku di sini?"


"Kau bisa pulang sendiri!"


"Kau jahat!"


"Kau yang terlalu bodoh!"

__ADS_1


Irma melayangkan tamparan ke pipi pria itu. "Ini belum cukup, setelah apa yang kau lakukan padaku!" ucapnya lantang.


Pria itu mengeraskan rahangnya lalu mengangkat tangannya dan hendak mendaratkannya di pipi wanita yang ada dihadapannya dengan sigap Aryo memegang tangannya.


"Jangan ikut campur urusanku!" pria itu menarik tangannya dari genggaman Aryo.


"Ini jadi urusanku karena kau menyakiti temanku," Aryo menatap tajam pria tersebut.


Irma mengerutkan keningnya.


"Baguslah kau ada di sini. Jadi, tolong antar temanmu ini!" pria itu menunjuk wajah Irma lalu ia beranjak pergi.


"Kita belum selesai bicara!" teriak Irma yang ingin mengejar namun lengan tangannya di tahan.


"Biarkan saja!" ucap Aryo.


"Kau siapa?" tanya Irma sembari melihat lengan tangannya di genggam.


Aryo melepaskan genggamannya, "Aku iparnya Rania!"


"Oh, jadi kau kakaknya Arya!"


"Ya!"


"Suami yang tega tak mengakui istrinya sendiri," sindir Irma.


"Dia sedang sakit."


"Tapi tak mau mendengarkan penjelasan istrinya," tutur Irma.


"Bukan begitu?"


"Lalu apa setelah membuat sahabatku menangis?"


"Kau tidak tahu yang sebenarnya," jawab Aryo.


"Anda yang tak tahu atau memang sengaja tidak mau tahu!"


"Bagaimana 'ya jelasin padamu?" Aryo memegang kepalanya.


"Sayang!" Nadia menghampiri Aryo dan menatap sinis Irma.


Mendapatkan tatapan tajam, Irma pun pamit. "Tuan, terima kasih telah menolongku tadi!" Ia pun bergegas pergi.


"Aku seperti mengenal wanita itu, dia siapa?" Nadia bertanya pada kekasihnya.


"Temannya Rania."


"Dia minta tolong apa padamu?"


"Tadi dia mau di tampar kekasihnya, aku datang untuk memisahkannya," jawab Aryo jujur.


"Oh, semoga saja dia tak mengambil kau dariku!" ucap Nadia.


"Kau bicara apa? Aku juga baru kenal dia," ujar Aryo.

__ADS_1


"Ya, kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya."


"Sikapmu semakin aneh saja!"


__ADS_2