
Ucapan dari Asha itu mampu membungkam sekumpulan orang yang terlihat seperti para pahlawan yang melindungi seorang gadis dari penjahat, tapi bagi Asha saat ini itu adalah hal yang konyol karena ucapan itu dilebih-lebihkan. Untuk mencairkan suasana yang terlihat menegangkan itu, kepala akademi dengan cepat menggenggam tangan Asha dan menyeretnya untuk segera ke ruangan akademi tapi sebelum dia membawa Asha masuk, dia membalikkan badannya dan berbicara.
"Untuk semua siswa-siswi akademi, kalian silahkan segera ke kelas yang akan kalian ikuti karena jika tidak para guru yang sedang menunggu di ruangan mungkin akan menghukum kalian semua yang masih berada di depan gerbang memperhatikan orang-orang yang berbicara,"
"Kemudian jika dari kalian ada yang ingin mengetahui tentang seminar apa yang akan dibicarakan oleh tamu ini,"
"Maka kalian harus mengikutinya, karena hanya bisa diikuti tiga ratus siswa lebih," ucap sang kepala akademi kemudian kembali menyeret Asha yang terlihat pasrah berada di tengah-tengah keadaan itu dengan diseret
Sesampainya di dalam ruang kepala akademi, Asha tidak menyangka ada pemandangan yang luar biasa dapat dilihat melalui balik jendela itu, semuanya bisa terlihat dengan jelas dari sana walaupun semuanya terlihat kecil.
Kepala akademi yang dipanggil bibi itu adalah orang yang mengajar Asha sejak kecil bersama dengan guru-guru lainnya yang datang bergantian karena harus mengurus akademi. Kelulusan Asha hanya di ketahui oleh beberapa pihak karena dia lulus terlalu muda, semua pasti akan menginginkan dirinya untuk bekerja jika tau ada anak yang jenius sejak dini.
"Aku yakin bibi memanggilku kali ini karena ada sesuatu yang penting,"
"Bukan karena ingin aku melakukan seminar di sini," ucap Asha dengan tatapan menyidik ke arah perempuan yang tidak beda jauh usianya dari sang ibu
"Kamu memang seorang Edelstein ya, selalu curiga dan waspada dengan situasi yang terjadi," ucap kepala akademi dengan tawa yang kencang kemudian diam sesaat
Asha yang melihatnya merasa kalau keluarganya ternyata memang tidak ada yang waras. Karena bagaimana bisa ada seseorang yang mengatakan dengan jujur tujuannya, tanpa berbasa-basi.
"Tentu saja untuk seminar itu, aku tidak berbohong karena aku mengatakannya di depan semua siswa-siswi jadi itu bukan hanya alasan belaka,"
__ADS_1
"Aku dengar dari salah satu muridku yang sekarang bekerja di menara sihir kalau kamu pernah membuat proyek dengan salah satu master menara sihir membuat alat pendeteksi sihir hitam atau terlarang ya,"
"Jadi, hari ini bibi ingin bertanya kepadamu,"
"Apakah kamu bisa membuat satu alat itu saat ini? Karena sejak semua siswa-siswi baru ini masuk ke dalam akademi,"
"Jujur aku merasakan sihir hitam yang sangat kuat, salah satu di antara mereka pasti menggunakan hal terlarang itu,"
"Jadi, tolong bibi mu ini ya," ucap perempuan itu dengan tatapan memohon kepada Asha supaya dibuatkan salah satu alat itu
Karena sihir hitam adalah sihir yang sangat membahayakan, Asha langsung menyetujuinya dan setelah diskusi singkat itu juga dia di izinkan untuk berkeliling di akademi ini. Asha datang ke akademi sebagai seorang tamu tentu saja perlakuannya akan sedikit berbeda nantinya dengan dirinya yang seharusnya menjadi salah satu murid di akademi, beberapa orang terlihat memandanginya dengan kagum, sebagiannya menatap penasaran, sebagian bergosip tentangnya dan sebagiannya terlihat terang-terangan tidak menyukainya tapi Asha merasakan itu adalah hal yang wajar.
Tidak lama dari itu dia merasakan ada sesosok perempuan yang memeluknya dari arah belakang, sosok itu tidak lain adalah Grace teman yang sudah lama tidak dia temui sejak temannya sudah masuk ke dalam akademi sebagai siswa baru.
"Apakah Ian menjaga dirimu dengan baik pada saat di pesta penyambutan kepulanganmu?" ucap Grace dengan tatapan tajam ke arah Ian yang berada di belakangnya
Ian hanya bisa diam karena dia sering tidak di percaya oleh Grace. Asha kemudian menatap ke arah Ian yang seperti pasrah kepada takdir dan ucapan yang mungkin di keluarkan oleh Asha nantinya.
"Dia menjagaku dengan baik bahkan tidak ada laki-laki yang berani mendekat ketika dia menemaniku, tapi mungkin akan lebih baik jika Grace berada di sana untuk menemaniku,"
"Karena tidak satupun orang yang berani berbicara sembarangan tentang dirimu," ucap Asha dengan senyuman lembut dan memeluk Grace, serta acungan jempol ke arah Ian
__ADS_1
Dain yang melihat adegan penuh kebohongan dari Asha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena Dain juga tau kalau Ian adalah orang yang tidak bisa banyak berbicara di depan umum dan tidak bisa mengikuti kemana perginya perempuan itu ketika dibawa kabur oleh orang lain. Karena itu adalah kejadian yang pernah terjadi sewaktu mereka masih kecil, dan sudah menjadi kebiasaannya tidak ingin banyak ikut campur dengan masalah yang terjadi.
"Asha, kamu akan sampai berapa lama berada di dalam akademi?"
"Kamu akan tinggal dimana selama di akademi? Apakah semua orang timur tengah sangat menyeramkan? Apakah benar kalau disana banyak bandit? Apakah selama di sana kamu baik-baik saja?" tanya Grace dengan hujanan pertanyaan yang dilakukannya seperti biasanya ketika bertemu dengan seseorang
Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang memandangi dirinya dengan tatapan rindu dan ingin menyapa, tetapi dirinya baru saja bertengkar dengan gadis itu. Tentu ini akan membuatnya sulit untuk berbicara terutama karena mereka saat ini berada di akademi dimana semua mata bisa tertuju ke arah mereka di setiap mereka berjalan.
"Kenapa kamu tidak menyapanya? Bukankah kamu bilang kamu sangat mencintai dirinya?" ucap laki-laki yang berada di sebelahnya melihat laki-laki itu terus memandangi gadis yang terlihat bersenang-senang dengan teman-temannya
"Aku tidak ingin merusak keadaannya yang begitu berseri-seri ketika dia datang ke sini, jadi jangan banyak bicara apalagi membocorkan masalah ini sampai terdengar kepadanya,"
"Kalau tidak kamu tau bukan leher itu akan hilang dengan cepat," ucap laki-laki itu dengan tatapan dan senyuman yang dingin hingga membuat laki-laki di sebelahnya merinding mendengar ucapan itu
Asha yang merasa ada yang memandanginya dari arah belakang, menoleh sesaat tapi tidak terlihat sosok yang memandanginya dia menganggap kalau itu semua hanyalah perasaannya saja.
"Grace, Asha baru saja datang ke akademi jadi jangan kamu hujani dengan pertanyaannya yang akan panjang penjelasannya nanti,"
"Sebaiknya kita saat ini pergi ke kafetaria untuk makan siang, karena nanti kalau sudah ramai tidak akan ada tempat," ucap Dain dengan senyuman lembut membuat Grace setuju
Asha memiliki firasat kalau dia cepat atau lambat akan bertemu lagi dengan nona Bleistift dan Ehan berduaan pada saat di kafetaria mengingat itu juga adalah tempat semua siswa-siswi berkumpul, tapi di sana juga dia memiliki firasat kalau akan ada bahaya yang menantinya.
__ADS_1
"Keputusan yang tepat atau buruk aku berada di sini,"
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée