
Ehan terdiam mendengarkan ucapan yang baru dikatakan oleh Asha di dalam dekapannya karena dia tidak menyangka sosok laki-laki yang akan dia bicarakan adalah dirinya sendiri, dia ingin menjelaskan kepada Asha tetapi Asha telah tertidur pulas karena Ehan terlalu lama terdiam. Hanya senyuman tipis yang bisa dia perlihatkan kepada sosok gadis yang telah tertidur dengan nyenyak itu tanpa merasa bersalah dengan Ehan yang memeluk dirinya. Dengan jentikan jarinya dia memanggil bawahannya untuk membawa Asha beristirahat ke kamarnya karena buruk untuk Asha tidur di kursi bersamanya sebab cuaca yang mendekati musim dingin dan hanya ada sebuah selimut tipis yang berada di dekatnya.
"Bawa Asha ke kamarnya,"
"Dan pastikan suasana ruangannya tetap berada di dalam suhu yang hangat karena dia adalah perempuan yang sangat rapuh,"
"Serta kalau bisa kalian pastikan semua jendela ataupun pintu tetap tertutup hingga tidak ada penyusup yang masuk ke dalam sana," ucap Ehan dengan tatapan dingin sambil menyerahkan Asha yang telah tertidur lelap di dalam pelukannya ke arah sosok bawahannya yang perempuan karena menurutnya tidak ada laki-laki yang boleh menyentuh gadis yang dia cintai kecuali itu adalah keadaan darurat
Keesokan harinya Asha bangun berapa terkejutnya dia kalau dia sudah berada di atas kasur, karena seingatnya kalau dia pergi ke ruangan Ehan dan melihat keadaannya kemudian banyak kejadian yang membuat dirinya malu sebab dia hampir melakukan hal yang membuatnya tidak berani melakukan secara langsung. Tapi karena ketukan pintu dari pelayan yang mengantarkan surat yang tiba-tiba, Asha mendadak tersadar kalau dia tidak boleh terlena dengan pekerjaannya.
Siapa yang menyangka kalau surat yang tiba di mansion itu adalah surat persidangan yang sebelumnya di tunda oleh kerajaan. Persidangan yang ditunda dan sebelumnya belum tau kapan pastinya akan dilaksanakan tiba-tiba diberitahukan akan di percepat menjadi lusa nanti.
Asha tidak menyangka kalau pembicaraannya kemarin akan cepat di respon oleh raja karena bagaimanapun dia hanya dimintai pendapat, tapi sang raja menganggapnya sebagai alasan di percepatannya sidang. Hari itu juga Asha memutuskan untuk menemui Ehan dan menemaninya, tapi yang dia lihat saat ini adalah sosok laki-laki yang sedang berusaha belajar berjalan kembali seperti anak kecil.
Sangat terlihat sudah berapa lama sosok laki-laki itu tidak berjalan ataupun kaki menyentuh permukaan tanah, Asha yang melihat Ehan berusaha berjalan memperhatikan dirinya dari jauh dengan duduk di kursi gazebo di sana karena tidak ingin mengganggu kegiatan yang dia lakukan. Walaupun hanya melihat dari jauh Asha merasa sangat puas melihat sosok itu berusaha untuk berjalan, hingga beberapa menit telah terlewati dia tiba-tiba terpikirkan untuk membuatkan sebuah cemilan untuk sosok laki-laki yang sedang berjuang berjalan.
__ADS_1
Di dapur para koki dan pelayan mengusirnya karena Asha membuat mereka sangat kesulitan ingin berbuat seenaknya di sana, mereka takut dengan yang dilakukan kepada seorang koki yang saat ini sedang pergi berliburan untungnya karena beruntung, tapi mungkin kali ini mereka tidak akan seberuntung itu oleh karena itu mereka hanya menerima permintaan bukan nona yang masak di dapur keluarga Duke. Setelah selesai membuatkan yang diinginkan olehnya, Asha pergi kembali ke taman dimana Ehan masih berjuang berjalan walaupun sudah penuh dengan luka di kakinya.
"Ehan, bagaimana kalau kamu berisitirahat sebentar? Dan melanjutkan latihannya nanti?" tanya Asha dengan lantang dari gazebo itu membuat Ehan sontak merasa malu dan tersenyum pahit karena tidak terlihat sempurna di depan sosok perempuan yang dia cintai
Sesampainya Ehan di gazebo terlihat berbagai macam makanan kesukaannya telah berada di atas meja gazebo itu, membuat Ehan merasa sosok gadis di depannya memang selalu mencintai dirinya tidak akan pernah berubah. Tapi dia sendiri merasa malu dengan kondisinya saat ini belum bisa berjalan setelah lama tidur panjang.
"Asha, bagaimana kalau kamu bertunangan dengan putra mahkota kerajaan saja? Dia sangat mencintai dirimu juga bukan? Dan cintanya bahkan lebih tulus dibandingkan dengan cintaku," ucap Ehan yang begitu tiba-tiba membuat Asha kebingungan dengan sosok laki-laki yang berada di depannya
"Kamu bicara yang aneh-aneh Ehan,"
"Kamu pikir aku ingin meninggalkan dirimu dengan begitu mudah hanya karena kamu tidak bisa berjalan? Bahkan jika kamu lumpu aku akan tetap merawat dirimu karena tulis dari lubuk hatiku aku benar-benar mencintaimu,"
"Aku memang sulit mengucapkannya karena banyak uang aku pertimbangkan sebelumnya tapi kali ini aku sudah pasti dengan jawaban yang akan aku berikan," ucap Asha yang berjalan ke arah Ehan yang duduk di atas kursi roda kemudian berlututnya dia dan menggenggam erat tangan sosok laki-laki di depannya
Asha dengan tatapan yang meyakinkan membuat Ehan tersenyum tipis dan merasakan beruntung karena sesosok gadis yang ingin menerima dia jika itu adalah kekurangan. Keesokan harinya tibalah hari persidangan yang harus dia dan Ehan hadiri, karena Ehan meminta Asha untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan membantunya jika dia kesulitan maka Asha hanya mengangguk setuju apabila Ehan ingin mulai berjalan di saat itu.
__ADS_1
Diruangan persidangan itu terlihat teman-temannya yang telah hadir, saksi, dan juga keluarga kerajaan yang hadir karena merasa kalau mereka juga harus melihat langsung jalannya persidangan yang terjadi. Beberapa jam telah berlalu hingga sang hakim menjatuhkan sebuah hukuman mati dengan ketukan palu kepada sosok gadis itu atas percobaan pembunuhan dan penggunaan sihir hitam yang hampir menghilangkan banyak nyawa saat persidangan dimulai walaupun dia menyangkal perbuatan yang terakhir. Karena dia merasa tidak melakukan hal tersebut dengan tatapan tajam dan tidak adil ke arah Asha, walaupun dia memang bukan pelakunya Asha juga tidak mungkin membelanya karena perempuan itu sendiri hampir menghilangkan nyawanya dan dia juga yang mengakui memang dia pengguna sihir hitam, tapi dia tidak pernah menggunakan sihir hitamnya di saat persidangan terjadi karena itu seperti bunuh diri. Sampai pada saat hukuman mati itu di jatuhkan Asha telah berpikir siapa orang yang melakukan penyerangan disaat persidangan dimulai kalau putri keluarga Baron Bleistift menyangkal. Entah apa motif dan tujuan sosok itu yang pasti saat ini dia merasa sedikit lega karena bukan Kematiannya dan dia dan Ehan membuat kontrak kepastian perasaan.
"Jadi, saat ini kamu adalah tunanganku di dalam kontrak,"
"Jadi tolong Asha untuk segera memastikan perasaanmu itu," ucap Ehan sambil tersenyum menggulung kertas kontrak yang telah ditandatangani oleh keduanya
"Aku mana mungkin melanggarnya lagipula walaupun aku ingin membatalkan pertunangan kamu tetap akan mengikatku dengan kontrak seperti sekarang," Gerutu Asha dengan tatapan dingin
Di sisi lain sesosok laki-laki yang menatap ke arah cermin dengan tatapan kebencian melemparkan sebuah pisau ke arah cermin tersebut hingga pecah.
"Aku memang mengatakan kalau aku akan melakukan semuanya untuk kebahagiannya? Tapi kenapa harus dengan laki-laki yang sama?"
"Tenang saja tuan, jika kejadian itu gagal maka masih banyak bidak catur yang kita gunakan,"
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée
__ADS_1
...TAMAT ...