
Setelah Asha dan teman-temannya merasa cukup untuk berbincang-bincang, mereka berempat langsung menaiki tangga itu menuju ke aula kerajaan dan kemudian berbelok ke sebuah arah menuju ke ruangan sidang yang akan di adakan. Waktu sidang itu dimulai juga sekitar delapan sampai lima menit lagi, jadi jika mereka masih berbincang-bincang tanpa memperdulikan waktu yang lewat dan sampai mereka bisa-bisa telat dan dikatakan oleh bangsawan yang mencari kesalahan mereka, sebagai calon pewaris keluarga Duke yang gagal karena merasa paling tinggi pangkat keluarga yang mereka miliki, tanpa memperdulikan atau menghargai orang lain.
Ruangan yang besar dan selanjutnya akan menjadi panggung yang penuh drama serta pertengkaran yang membuat suasana ruangan menjadi menegangkan telah di mulai.
"Apakah tidak masalah jika pelaku memiliki pengacara?" tanya Grace dengan tatapan tajam ke arah pelaku yang sudah memasuki ruangan persidangan
"Tentu saja tidak masalah karena itu sudah ada di dalam hukum tertulis kalau pelaku harus memiliki pengacara karena itu adalah hak yang diberikan walaupun pembelaannya terbatas atau masih harus sesuai dengan yang tertulis di dalam hukum yang di tetapkan,"
"Orang tuamu akan menangis kalau kamu tidak tau tentang hukum, padahal kamu adalah calon pewaris keluarga Duke," ucap Ian dengan tatapan datar ke arah Grace yang dibalas dengan pukulan oleh Grace karena merasa tersinggung oleh ucapan Ian
Asha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua orang yang ada belakangnya bertengkar karena tidak bisa banyak ikut campur juga dalam pertengkaran itu. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan palu dari hakim yang mengartikan sidang telah dimulai, Asha selaku korban akan duduk jauh dari teman-temannya karena teman-teman hanya datang untuk menjadi support Asha ketika dia merasa tidak nyaman atau bahaya.
"Kita akan mulai dengan sidang kita kali ini, dengan kasus percobaan pembunuhan berencana kepada seorang pewaris keluarga bangsawan tingkat tinggi," ucap seorang laki-laki yang duduk di kursi hakim dengan ketukan palu
Semuanya berjalan dengan lancar sampai sebuah sanggahan tidak masuk akal membuat kekacauan di kalangan bangsawan.
"Bukankah itu memang benar jika keluarga Fisch bekerja sama dengan keluargaku untuk menggulingkan calon pewaris keluarga Duke Edelstein?"
__ADS_1
"Dan bahkan aku masih memiliki surat-surat yang dia dikirimkan ke mansion keluargaku secara diam-diam," ucap seorang pelaku kejahatan dengan tatapan dingin ke arah orang-orang yang mendukung dirinya yang sontak membuat orang-orang itu berperilaku seperti orang-orang yang ingin melakukan demo
Sangat berisik dan tidak tenang, Asha tentu merasa janggal kenapa orang-orang ini bertingkah ribut secara mendadak padahal hakim belum meminta keterangan lebih lanjut tapi orang-orang yang berada di sana berteriak mengatakan itu memang benar kalau keluarga itu melakukan hal yang tidak terpuji.
"Itu tidak benar, kami tidak akan pernah melakukan hal licik seperti itu untuk naik ke posisi itu,"
"Lagipula kami tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Duke jadi tidak akan mungkin kami akan diberikan posisi itu walaupun calon pewarisnya meninggal dunia," ucap seorang laki-laki dengan lantang karena merasa tidak benar ucapan dari pelaku
Asha tau kalau provokasi atau tindakan mengalihkan pembicaraan di luar dari kasus akan menyebabkan kegaduhan yang membuat orang-orang lupa tentang apa yang sedang di bahas saat ini.
"Walaupun memang keluarga Fisch benar-benar ingin menggulingkan calon pewaris keluarga duke, tapi saat ini kasus yang kita bahas adalah kasus percobaan pembunuhan yang ingin anda lakukan kepada saya,"
"Tolong yang mulia lanjutkan sidang ini," ucap Asha dengan lantang membuat semua orang terdiam dan membuat hakim kembali mengetuk palu untuk melanjutkan sidang yang tidak ada hubungannya dengan pengkhianatan terhadap keluarganya, perbuatan Asha cukup membuat gadis yang diduga pelaku menjadi sangat kesal kepadanya karena tidak berhasil membuat hukumannya di ringankan
Sidang kembali di lanjutkan akan tetapi beberapa jam kemudian, terdengar suara teriakan dari luar ruangan yang tidak lama kemudian terlihat seorang laki-laki yang menerobos masuk ke ruangan sidang tanpa di tangkap oleh para penjaga pintu yang berada di depan pintu.
Terlihat laki-laki itu seperti orang yang kehabisan nafas, karena berlari ke arah ruangan ini dan semua mata yang tertuju kepada laki-laki itu membuat semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi kepada laki-laki itu hingga dia berlari ke ruangan persidangan? Setelah merasa nafasnya terkumpul dan menenangkan dirinya, laki-laki itu mulai berbicara.
__ADS_1
"Maafkan kalau saya mengganggu, tetapi saat ini kita harus mengevakuasi semua orang di ruangan ini karena ada monster yang besar berada di luar kerajaan ini dan menyerang semua, sekarang semua penjaga sedang dikerahkan untuk mengalahkan monster-monster itu," ucap laki-laki itu dengan lantang sontak membuat semua tamu di dalam ruangan panik dan berlarian menuju arah pintu yang merupakan satu-satunya pintu keluar di sana
Suasana yang ricuh itu membuat sang hakim yang mengetuk palu untuk menenangkan keadaan menjadi tidak ada gunanya, karena saat ini menurut mereka nyawa mereka adalah yang terpenting untuk diselamatkan. Asha tentu tidak akan terpancing panik dengan situasi karena dia sejak kecil telah hidup di banyak tempat bahaya kecuali bahaya karena hukuman mati bodoh atau konyol sebab cinta, Asha malahan dengan santainya fokus ke arah pelaku pembunuhan kali ini, mengingat kejadian yang pernah terjadi di akademi sebelumnya saat dia berkunjung ke akademi diduga pelaku juga adalah dia, jadi besar kemungkinannya kalau orang yang sama melakukannya.
"Perhatian untuk semuanya,"
"Kalian tidak perlu panik seperti itu, karena kita berada di tempat paling aman yaitu istana kerajaan jadi kemungkinan besar jika kalian semua keluar,"
"Kalian semua yang akan mati ditangan para monster yang berkeliaran," ucap Asha dengan lantang dan memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk menghadang semua orang yang panik dan berlarian ke arah pintu untuk keluar dari pintu besar itu
Semua orang itu tidak terlalu mendengarkan ucapan Asha yang lantang dan malah tetap berusaha untuk lewat dari sana walaupun sudah di hadang oleh teman-temannya, merasa kesal dan geram kepada para bangsawan atau orang-orang di sana tanpa pikir panjang Asha akhirnya melemparkan tombak yang tidak jauh darinya ke arah depan pintu supaya mereka tidak berani melangkah lagi ke luar ruangan.
"Jika kalian berani keluar dan mati di sana,"
"Bukankah itu terlihat sangat sia-sia? Jadi kalau ingin mati bagiamana dengan lemparan tombakku yang seperti barusan aku lemparkan?"
"Jadinya kalian tidak akan mati dengan sia-sia aku pastikan itu kepada kalian karena kalian mati di tanganku,"
__ADS_1
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée