
Di dalam ruangan yang besar itu Ehan terdiam mendengarkan sebuah ucapan dari seorang gadis yang dia cintai yang mempertanyakan kewarasan dirinya yang menghadapi sebuah cinta, apakah pertanyaan itu adalah sebuah tes atau bukan untuknya? Tapi yang pasti jawaban dari Ehan adalah iya dia sudah menghilangkan kewarasannya yang hanya dipikirkannya saat ini adalah kebahagiaan Asha dan mencintai Asha dengan baik tanpa merusak atau memperlakukan dirinya dengan tindakan obsesi.
"Apa masalahnya? Jika memang itu yang ingin kamu lakukan kepadaku, maka aku juga akan berusaha mungkin untuk menunggu dirimu hingga kamu mengatakan kamu siap untuk bersama denganku," ucap Ehan dengan serius membuat sosok perempuan di depannya meneteskan air mata kembali dengan kepala tertunduk
Ehan kemudian langsung memeluk sosok gadis di depannya, walaupun dia harus memaksakan diri untuk berdiri dari kursi rodanya ke tempat tidur Asha yang memiliki jarak lumayan jauh. Asha tertegun dengan perbuatan mendadak yang dilakukan oleh Ehan kepada dirinya karena masih sempat-sempatnya sosok laki-laki itu memeluk Asha padahal sosok laki-laki itu kesulitan untuk berdiri ataupun berjalan apalagi sampai untuk menghibur dirinya yang sedang kebingungan saat ini dengan apa yang harus di perbuat olehnya.
"Asha, jika kamu ragu denganku,"
"Bagaimana kalau kita membuat sebuah kontrak saja? Kontrak itu adalah kepastian perasaan," ucap Ehan yang masih sambil memeluk sosok gadis yang dia cintai
Asha terkejut dengan Ehan yang tiba-tiba membahas mengenai kontrak yang tidak pernah Ehan bicarakan kepada Asha kalau dia telah pernah membuat kontrak dengan Asha sebelumnya, tapi Asha sendiri mengetahuinya kalau Ehan adalah laki-laki yang sama pada saat dia membuat kontrak dengan dirinya sebelumnya.
"Apakah ada orang yang membuat kontrak hanya karena ingin membuktikan perasaan yang dia miliki? Bukankah kamu terlalu bersikap berlebihan Ehan? Karena tidak semua hal harus kamu buat kontrak, apalagi masalah ini hanya masalah perasaan," ucap Asha dengan tatapan terkejut dan menjauhkan jaraknya dengan Ehan yang masih ingin memeluknya
__ADS_1
"Tidak sama sekali, bukan membuktikan tapi memastikan kalau kamu bisa bersandar kepadaku,"
"Ketika sulit maupun senang," ucap Ehan dengan senyuman lembut kepada Asha yang anggap laki-laki itu gila karena membuang-buang sihirnya dan kontrak yang hanya merugikan laki-laki itu tapi bukan berarti Asha tidak setuju dengan kontrak ini karena menurutnya ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk perlahan-lahan menerima Ehan yang baru dia sadari perasaan itu, Asha menjawab ucapan itu dengan anggukan pelan
Setelah anggukan setuju dari Asha, Ehan memutuskan untuk menemui dirinya besok lagi untuk membahas kontrak karena Asha juga masih harus beristirahat dari kejadian yang telah menimpa dirinya. Asha yang ditinggal sendirian di dalam ruangan itu merasakan kalau hatinya kembali kosong dan ruangan ini terlalu sepi menurut dirinya karena pada saat dia bangun suasana di ruangan itu sangat ramai.
Keesokan paginya telah tiba Asha merasa tidak bisa tidur bawah matanya sampai menghitam, dan di pagi itu dia dibantu oleh para pelayan dengan penuh tatapan yang akan menerkam mangsanya, padahal kenyataannya mereka sangat bersemangat untuk menyiapkan Asha menjadi perempuan yang cantik karena tidak pernah terdengar keluarga Duke menggunakan fasilitas atau pelayanan yang buruk untuk melayani seorang tamu yang berharga.
Asha tentu tidak merasa siap dengan Ehan yang akan datang menemui dirinya untuk membuat perjanjian konyol karena dia tau saat ini Ehan serius dengan sesuatu hal yang bahkan itu terlihat seperti candaan untuknya.
Asha hanya bisa tersenyum ketika sosok laki-laki itu masuk ke dalam ruangannya karena itu adalah kamarnya sendiri, semua pelayan yang berada di luar ruangan dan melihat kejadian itu tentu langsung membuatnya menjadi sebuah topik pembicaraan yang paling panas dan sensasional di dalam mansion, tetapi karena ada pelayan yang sangat suka dengan gosip mereka sampai menyebarkan berita itu ke seluruh penjuru negeri dan seketika dalam satu hari itu tersebar sebuah berita mengenai hubungan manis kedua calon pewaris keluarga. Tentu Asha dan Ehan tidak akan mengetahui rumor mengenai diri mereka sendiri karena mereka saat ini sedang berdua di dalam ruangan untuk membahas sebuah kontrak.
Berjam-jam Asha dan Ehan hanya coret- mencoret perjanjian yang mereka berdua buat hingga kertas yang dibawa Ehan habis saat dibawa ke ruangannya, bagaimana tidak karena Ehan mengajukan hal yang berlebihan begitu juga Asha yang membuat perjanjian seperti membuat tembok. Kedua orang yang sangat ahli dalam pekerjaan negosiasi, melakukan negosiasi yang tidak akan pernah selesai karena keras kepala kepada pendapat mereka masing-masing tapi bagi keduanya diam-diam ini adalah hal yang sangat menyenangkan karena mereka berdua bisa berbincang tentang hal yang mereka sukai dan mereka tidak sukai.
__ADS_1
Akan tetapi semua pembicaraan itu tiba-tiba saja harus berhenti karena terdengar suara di depan pintu yang terbuka, sesosok perempuan yang menatap dan berbicara dengan suara yang dingin dan tajam ke arah sosok gadis yang bisa menatap ke arah pintu. Asha tentu saja merinding melihat sosok yang sangat dia takuti saat ini berada di depan pintu ruangan yang padahal bukan milik keluarganya, dengan ekspresi menahan emosi marah.
Ehan yang melihat Asha yang tiba-tiba pucat dan suram langsung menoleh ke arah sosok yang berada di belakangnya, tapi sosok perempuan itu malah tersenyum ke arah Ehan.
"Sudah lama tidak melihatmu ya Ehan,"
"Bagaimana keadaanmu saat ini? Asha sangat merepotkan dirimu bukan? Apakah anak perempuan itu ada berterimakasih dan meminta maaf kepadamu karena dia telah menyusahkan dirimu? Apakah kamu menjalankan pemulihan dengan baik?"
"Pasti sangat sulit bukan untuk menjalani pemulihan? Jika kamu ingin mengomentari sifat buruknya katakan saja,"
"Karena dia adalah gadis bermuka tebal dan menyusahkan orang," ucap seorang perempuan yang tidak lagi muda dengan hujanan pertanyaan sambil berjalan ke arah dua orang yang sedang duduk di kursi dengan sekeliling kertas
Asha merasa sangat tertusuk ketika mendengarkan ucapan dari orang tuanya sendiri yang lebih mempedulikan anak orang dibandingkan dengan putrinya sendiri, apalagi tidak ada satupun pertanyaan yang menanyakan keadaannya saat ini.
__ADS_1
"Ibu, apakah anakmu tertukar? Hingga kamu tidak bertanya kepadaku tentang keadaanku atau tentang pemulihan yang aku jalani?
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée