Canceled Duke'S Engagement With Contact Fiancée

Canceled Duke'S Engagement With Contact Fiancée
Bab 53 Maaf


__ADS_3

Asha merasa senang dengan kehadiran orang-orang yang berharga di sisinya saat dia bangun dari tidurnya, bagi Asha ini adalah suatu hal yang sangat berharga untuknya. Asha yang sempat mengira kehadiran teman-temannya yang berada di depan pintu hanyalah mimpinya belaka ternyata adalah sebuah kenyataan yang tidak di sangka-sangka. Asha dan teman-temannya berbincang-bincang kecuali Ehan yang berdiri di kejauhan yang memberikan isyarat tidak ingin mengganggunya membuat Asha tersenyum sedikit pahit, karena dia belum bisa menyesuaikan situasinya saat ini dengan keadaannya yang dimilikinya.


"Asha, kami pamit pulang dulu karena sudah waktunya pulang,"


"Kalau kami masih berada di tempat ini saat ini juga tanpa izin dari orang tua dan di ketahui oleh orang tua maka mereka akan khawatir dengan kami semua,"


"Oleh karena itu kami akan pulang dulu dan mungkin besok kami sudah harus pulang ke akademi karena telah terlalu lama izin,"


"Bisa melihatmu bangun sudah sangat bersyukur untuk kami bisa pulang dengan tenang," ucap Grace yang memeluk kembali Asha sebelum pergi dari mansion Aelfraed


Setelah beberapa menit keduanya memeluk rindu, Grace dan kedua lainnya izin pulang ke Ehan. Ketiganya pergi melewati pintu sampai pintu kembali tertutup tidak lagi terlihat, ruangan menjadi sangat sunyi karena menyisakan kedua orang tanpa ada yang memulai pembicaraan apapun.


Asha bingung ingin mulai berbicara apa dengan Ehan karena dia sendiri bangun dari tidur panjang dan sejak tadi hanya berbicara dengan Grace, Ian dan Dain. Asha merasa bingung apa yang harus di tanyakan dahulu kepada sosok laki-laki yang ada di depannya, walaupun kebingungan dia tetap merasakan perasaan bersalah karena Ehan harus sampai duduk di atas kursi roda demi menyelamatkan dirinya dari bahaya yang mungkin akan menghilangkan nyawanya sendiri.


Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memanggil Asha yang menundukkan kepala karena dia memikirkan banyak hal mengenai sosok laki-laki yang selalu ada untuk dirinya.


"Asha, maafkan aku karena bersikap posesif hingga melukai dirimu dan terima kasih telah menolongku serta dirawat,"


"Aku sangat bersyukur bisa dirawat oleh dirimu, padahal sangat jelas kamu sibuk mengurus semua pekerjaan sebagai calon pewaris keluarga," ucap Ehan yang dengan serius menatap lurus ke arah Asha yang sedang duduk di atas tempat tidur


Ucapan yang singkat dari Ehan membuat Asha mengepalkan tangannya dengan erat dan masih di posisi yang sama yaitu tertunduk dan diam. Asha tidak tau ingin mengucapkan apa kepada sosok laki-laki yang di depannya untuk mengawali pembicaraan setelah ucapan itu, memang sangat sulit untuk memulai padahal dia sendiri juga yang membuat pertengkaran itu.

__ADS_1


"Tidak perlu banyak berbicara, jika kamu memang tidak ingin berbicara denganku saat ini,"


"Aku juga habis ini masih ada perkejaan, jadi Asha beristirahatlah sampai pulih sepenuhnya," ucap Ehan dengan senyuman pahit menatap Asha yang tidak menoleh ataupun menatap wajahnya yang sedang berbicara tapi dia cukup mengerti kalau saat ini sosok perempuan di depannya tidak ingin berbicara dengannya


Asha yang sejak tadi diam mendengarkan ucapan Ehan dan kemudian mendengarkan suara kursi roda yang di dorong berputar, ketika itu dengan refleks dia mencegah kursi roda itu berputar supaya Ehan tidak segera pergi meninggalkan dirinya karena dia masih ingin berbicara dengan Ehan, walaupun sangat berat kata itu keluar dari tenggorokannya.


Ehan yang merasakan kalau kursi rodanya berhenti langsung menoleh ke sosok yang berada di belakangnya. Sosok Asha yang menghentikan kursi rodanya membuat dirinya paham dengan keadaan, dia kemudian berputar kembali ke arah Asha dan menunggu dirinya hingga berbicara.


Beberapa menit telah berlalu tapi belum juga Asha mengeluarkan kata-katanya yang tersangkut di tenggorokannya, Asha merasa sangat aneh karena tidak bisa berbicara dengan kata-kata yang telah tersusun di dalam pikirannya walaupun dia sendiri telah berusaha mencoba mengucapkan kata itu.


"Aku..."


"Karena aku selalu berusaha kabur dan egois dengan diriku sendiri tanpa memikirkan dirimu, sedangkan dirimu selalu berkorban untuk diriku sampai sekarang kamu selalu menjagaku,"


"Padahal aku sendiri tidak banyak membantu dirimu ataupun memikirkan dengan serius peryataan yang kamu ucapkan," ucap Asha dengan terbata-bata dan tangan yang dingin karena dia sangat gugup dalam berbicara dengan jujur kepada sosok laki-laki yang belum berani dia pandang saat ini


Entah darimana sebuah tangan menggenggam tangan Asha yang dingin karena gugup dalam berbicara, terlihat sosok itu berusaha menenangkan Asha walaupun tidak memandangi wajahnya. Asha tentu bingung saat ini kepada laki-laki di depannya ini begitu peduli dengan dirinya, sampai selalu saja ada untuk dirinya.


"Asha, aku melakukannya karena aku ingin bukan karena alasan cinta bahkan walaupun kamu tidak mencintai aku,"


"Aku akan tetap melakukannya karena ini bukan alasan cinta,"

__ADS_1


"Aku memang berharap perasaanku yang aku ungkapkan bisa terketuk ke hatimu, tetapi aku tidak ingin memaksa dirimu untuk menerimaku,"


"Kapanpun kamu membutuhkan atau ingin menerimaku, aku akan dengan senang hati selalu siap untuk dirimu bahkan jika nyawa satu-satunya ini diberikan kepada dirimu," ucap Ehan yang duduk di kursi roda dan menggenggam tangan Asha yang dingin walaupun tidak di pandang dengan senyuman lembut dan tulus


Asha memang merasa bersalah karena selalu saja bergantung kepada sosok laki-laki yang tidak tentu perasaannya kepada sosok itu, tapi dia sendiri juga selalu saja tiba-tiba dibantu oleh sosok laki-laki itu walaupun dia tidak memintanya. Jika di tanyakan tergerak tidaknya hati Asha tentu jawabannya pasti iya karena Ehan selalu ada untuk dirinya walaupun tidak beri tau kalau dia sendiri memerlukan dirinya, tapi dia sendiri takut untuk memulai sebuah hubungan dengan laki-laki yang akan membuat dirinya terulang kembali ke kenangan kelam masa lalu.


Air mata Asha menetes ketika mendengarkan ucapan lembut dan tatapan yang mungkin ditunjukkan dari sosok laki-laki yang ada di depannya, walaupun dia tidak melihat secara langsung ekspresi wajah apa yang akan ditunjukkan oleh Ehan kepada Asha. Air mata Asha terus mengalir tidak berhenti tanpa tau alasan yang jelas dari dirinya sendiri kenapa dia menangis atau meneteskan air mata.


"Asha, kamu tidak perlu sama sekali memaksakan dirimu jika kamu memang tidak bisa mengatakan apapun,"


"Aku paham memang sangat berat untukmu," ucap Ehan kali ini menepuk-nepuk pundak Asha untuk menenangkan Asha yang sedang menangis tanpa henti tanpa menatap wajahnya


"Ehan, maafkan aku,"


"Aku adalah orang yang egois,"


"Dan kenapa kamu masih ingin dengan perempuan yang berhati es seperti diriku?"


"Walaupun telah puluhan kali aku mengetahui dan menahan perasaanmu?"


Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée

__ADS_1


__ADS_2