
Huh! Wanita sombong ini lagi. Ada perlu apa dia datang kemari? Dan apa yang sedang mereka bicarakan? batin Bella kesal penuh tanda tanya.
"Hemm hmmm.." Bella berdehem sambil mengetuk pintu yang sejak tadi memang sudah terbuka.
"Bella, sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Dhika terkejut.
"Kira-kira dua puluh menit yang lalu. Kalian mengobrol sangat serius sehingga tidak menyadari kehadiranku." jawab Bella ketus sambil melirik tajam ke arah Githa.
Apa dia mendengarkan obrolan kami barusan? Dia memang harus segera tau tapi bukan dengan cara seperti ini. batin Dhika.
"Kak, kenapa terkejut seperti itu? Aku gak di persilakan masuk nih? Atau kalian masih belum selesai ngobrol berduaannya?" ucap Bella sedikit cemburu.
Dhika langsung bangkit dari duduknya menghampiri Bella lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya masuk. "Akhir-akhir kamu selalu datang tanpa memberitahu terlebih dahulu makanya aku sering terkejut. Aku sedang menjelaskan kepada Githa apa saja tanggung jawab pekerjaannya karena besok dia sudah mulai bekerja." jelas Dhika.
Githa datang menghampiri Bella dan berkata "Hai Bella, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Perkenalkan, aku Githa." ucap Githa sembari mengulurkan tangannya ingin bersalaman.
"Eh i-iya gak apa-apa. Aku Bella calon istri kak Dhika." balas Bella dan menjabat tangan Githa.
__ADS_1
Dhika yang baru saja minum kopi langsung tersedak mendengar pernyataan Bella barusan. Bella langsung menepuk lembut pundak Dhika yang duduk di sampingnya.
"Dhika, apa aku sudah bisa pergi sekarang? Aku ingin mempersiapkan diri untuk mulai bekerja besok." tanya Githa.
"Karena ini sudah jam makan siang, mari ikutlah makan siang dengan kami baru kau pulang. Bolehkan kak?" Bella bertanya pada Dhika.
"Ya boleh saja. Ayok kita pergi sekarang." ajak Dhika.
"Kita makan di kantin dalam kantor aja ya kak. Di luar sangat panas." pinta Bella.
Tak lama kemudian mereka sampai di ruangan khusus Presdir di kantin. Dhika duduk bersebelahan dengan Bella, sementara Githa duduk dihadapan Bella. Mereka sudah memesan makanan dan menunggu pesanan datang.
"Kak, karena sebentar lagi aku harus ke luar negeri dan kita akan berjauhan, aku mau kita bertunangan secepatnya. Gimana menurut kak Dhika?" tanya Bella.
"Apa gak terburu-buru? Kita baru delapan bulan pacaran." jawab Dhika datar.
"Jadi harus menunggu berapa lama kak baru kita bisa bertunangan? Aku tidak mungkin menunda kuliahku lagi." balas Dhika.
__ADS_1
"Sayang.. Kamu masih muda. Utamakan pendidikanmu dulu baru percintaan. Bersemangatlah untuk kuliah dan jangan terlalu memikirkan hubungan percintaan ini." jelas Dhika.
"Apa salah jika aku ingin segera bertunangan dengan cinta pertamaku? Kakak sama saja seperti papa. Hanya mengutamakan kuliah kuliah dan kuliah! Tidak pernah memikirkan perasaanku." balas Bella mulai menangis.
Githa merasa tidak enak berada satu meja dengan mereka dan mendengarkan pertengkaran kecil itu. Dia pun pamit untuk pindah ke luar ruangan Presdir dan mendatangi Merlin yang sedang makan sendirian.
Dhika hanya membiarkan Bella menangis. Kali ini dia tidak akan menuruti permintaan Bella seperti yang sudah-sudah. Sejujurnya dia sudah sangat lelah menghadapi sikap Bella yang masih kekanakan dan sering cemburu buta.
Sabar... Tinggal empat bulan lagi dan perjanjian itu akan selesai. Setelah itu aku akan memperjuangkan cinta lamaku ini. batin Dhika.
.
.
.
Bersambung~~
__ADS_1