
Pukul empat lewat tiga puluh menit seperti biasa Githa sudah bangun tidur. Dia bergegas mandi lalu sembahyang dan setelah itu membantu neneknya memasak sarapan di dapur. Setelah selesai memasak dan sarapan lebih dulu dari yang lainnya, barulah dia bersiap. Hari ini dia mengenakan setelan kemeja lengan pendek warna merah muda yang di padukan dengan rok yang panjangnya di bawah lutut berwarna putih tulang dan merias tipis wajahnya lalu mengikat tinggi rambutnya yang ikal. Dia melihat jam di dinding kamarnya dan sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit. Githa mengambil tasnya dan tak lupa mengambil ponselnya lalu segera keluar dari kamarnya. Ia menghampiri Leela yang sedang menyapu lantai ruang tamu dan sudah berpakaian seragam sekolah. Githa mengambil dompet dari tasnya lalu mengambil selembar uang lima puluh ribu dan memberikannya pada Leela.
"Gak usah kak, uang sangu Leela masih ada kok." tolak Leela sopan. Walaupun kakaknya kini sudah berpenghasilan lumayan besar, ia tetap hidup sederhana dan hemat.
"Gak apa-apa ambil aja dan di tabung." jawab Githa seraya memasukkan uang tersebut ke saku baju sekolah Leela.
"Makasih ya kak." ucap Leela tersenyum lalu melanjutkan kegiatan rutinnya setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
Githa pun segera pamit pada nenek dan kakeknya yang sedari tadi sudah memperhatikannya dari meja makan. Neneknya terus memandangi punggung Githa sampai cucunya keluar pintu rumah dan tak terlihat lagi.
Terimakasih ya Allah sudah menitipkan cucu-cucu yang rajin dan saling menyayangi satu sama lain. gumam nenek pelan dan menangis haru.
***
Sesampainya di kantor Githa langsung menuju lift dan menekan tombol delapan tempat di mana ruangannya berada.
Ting..!
Tak lama pintu lift terbuka dan Githa meneruskan langkahnya menuju ruangannya. Ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya, dan melihat ada dua pesan baru dari Citra.
"Iya gak apa-apa. Yaudah sekarang kamu istirahat ya. Selamat tidur semoga mimpi indah 😊." ~ Citra pada pukul 21:50 malam tadi.
"Selamat pagi cantik, selamat bekerja semoga harimu menyenangkan 😊." ~ Citra pada pukul 06:00 pagi ini.
__ADS_1
Githa tersenyum kecil saat membaca isi pesannya. Dia terkekeh saat membaca kata 'cantik' pada pesan tersebut. Githa tidak curiga atau berpikiran macam-macam karena memang dia orang yang tidak suka berburuk sangka terhadap orang lain. Githa justru merasa senang karena Citra mengirim pesan kepadanya dan berharap bisa bersahabat dengan Citra karena Githa memang tidak punya teman lain selain teman-teman sekantornya.
"Pagi Citra.. Selamat bekerja juga ya ^^
Sorry semalem aku udah tidur, hehe.." ~ Githa.
Setelah membalas pesan Citra alias Ali, Githa menaruh ponselnya di dalam laci meja kerjanya. Dia terkejut saat melihat Dhika dan Roni yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Dengan cepat Githa berdiri lalu menyapa bos sekaligus teman kecilnya itu.
"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Pak." Sapa Githa lalu menundukkan kepalanya dan bertanya-tanya dalam hati kenapa Dhika dan Roni menghampirinya.
"Barusan dapat pesan dari siapa? Kenapa kamu senyum-senyum membacanya?" Tanya Dhika dengan wajah datarnya.
"Dari teman, Tuan." Jawab Githa singkat.
Githa berdecak kesal karena yang di tanyakan Dhika bukan soal pekerjaan melainkan urusan pribadinya. Dia menahan emosinya dan mengepalkan tangannya.
"Namanya Citra, Tuan. Apa ada hal lain yang anda perlukan?" Githa balik bertanya dengan nada penuh penekanan.
"Citra sekretaris Pak Ali? Apa isi pesannya? Berikan ponselmu! Aku ingin membacanya langsung." pinta Dhika seraya mengulurkan tangannya meminta ponsel Githa.
Roni melihat Githa yang mulai geram. Wajahnya merah karena sedari tadi menahan amarahnya. Roni mengajak Dhika untuk masuk ke ruangannya namun Dhika menolak dan terus mendesak Githa untuk memberikan ponselnya.
Githa menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan kasar. Raut wajahnya berubah mengerikan dan sudah tidak ada senyum yang menghiasi lagi.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya tidak bisa memberitahu Anda karena ini urusan pribadi saya dan juga tidak ada hubungannya dengan Anda!" Jawab Githa tegas dan menatap Dhika tajam.
"Jelas ini ada hubungannya denganku! Citra adalah sekretaris Pak Ali dan kau sekretarisku. Bisa saja kalian diam-diam merencanakan sesuatu yang bisa merugikan perusahaan!" Elak Dhika asal karena masih penasaran dengan isi pesan tersebut.
Githa langsung tertawa lepas setelah mendengar dugaan Dhika barusan. Roni yang berdiri di belakang Dhika pun ikut tertawa kecil dan segera mengunci mulutnya ketika Dhika berbalik dan menatapnya.
Dhika berdehem karena melihat Githa yang masih terus menertawakannya. Githa pun langsung terdiam menahan tawanya dan membuka laci meja kerjanya lalu mengambil ponselnya.
"Maafkan saya, Tuan. Alasan Anda barusan terdengar sangat konyol. Mana mungkin saya melakukan hal semacam itu. Ini, silakan baca semau Anda." ucap Githa santai sambil menahan tawanya lalu memberikan ponselnya pada Dhika.
Dhika segera meraih ponsel tersebut dan mulai membaca pesannya dari awal. Terlihat raut wajah kesal saat ia membaca pesan tersebut.
"Dasar bodoh! Kau terlalu polos sampai tidak tahu kalo pesan ini bukan dari Citra tapi dari Ali! Huh sudah ku duga!" ucap Dhika sedikit berteriak dan mengepalkan tangannya. Setelah mengembalikan ponsel Githa, ia bergegas pergi ke ruangannya.
.
.
.
Bersambung~~
Jangan pelit-pelit kasih vote poinnya ya kak, hehe.. Terimakasih 💕
__ADS_1