Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Tiga Bulan Kemudian


__ADS_3

Tiga bulan kemudian..


Berkat kegigihannya, sejak dua bulan yang lalu Githa bekerja tanpa di dampingi Merlin lagi. Setelah beberapa kali mengikuti pelatihan, ia semakin profesional dan pernah masuk deretan karyawan teladan.


Pagi ini tepat pukul 06:00 seperti biasa Githa sudah stay di kantor dan mulai sibuk di depan laptopnya. Hari ini akan ada meeting dengan klien penting. Mereka akan meeting dengan CEO Perusahaan KL. Tak lama Dhika pun datang dengan Roni asistennya. Githa langsung berdiri dan menyapa mereka seperti biasanya "Selamat pagi Tuan Dhika. Selamat pagi Pak Roni" ucap Githa dengan tersenyum hangat.


Dhika tak menoleh dan terus berjalan, sementara Roni membalasnya dengan anggukan. Dhika sudah tidak pernah lagi mengganggu Githa sejak di ancam tiga bulan yang lalu. Dhika takut Githa berhenti bekerja karena itu artinya dia akan susah untuk melihat Githa lagi.


Dasar bos sombong! gumam Githa. Sikap Dhika sangat dingin kepadanya. Bahkan Dhika tidak mau melihat wajahnya. Namun Githa tidak ambil pusing karena niatnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


***


Di ruangan Dhika..


"Dhik, mau sampai kapan Lo cuekin Githa terus? Gak kasian apa?" tanya Roni. Roni adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Dhika. Mereka bersahabat sejak SMP dan juga kuliah di universitas yang sama saat di Amerika. Dhika sudah menganggap Roni seperti saudara. Dia sangat terbuka dalam hal apapun kepada Roni, termasuk masalah Githa dan Bella.


"Lo tunggu aja sebulan lagi. Dia bakal langsung gue nikahin!" jawab Dhika penuh percaya diri.


"Haha.. Yakin Lo bakal direstuin sama neneknya? Trus gimana sama om Wisnu dan tante Risa? Apa mereka udah tau rencana Lo?" tanya Roni lagi bertubi-tubi.


Dhika terdiam. Dia bahkan belum cerita pada orangtuanya kalau telah bertemu dengan Githa lagi. Enam bulan yang lalu pak Wisnu di mutasi ke rumah sakit internasional di kota B. Dan sejak saat itu Dhika hanya berhubungan lewat telepon dengan orangtuanya.


Tak lama ada yang mengetuk pintu, setelah pintu terbuka tampaklah Githa yang tengah berdiri di sana.

__ADS_1


"Permisi Tuan. Barusan sekretaris pak Ali menelpon dan bilang kalau pak Ali minta jadwal meetingnya di majukan jadi jam sembilan pagi, karena beliau ada urusan mendadak di jam sebelas nanti. Apakah Tuan bersedia?"


Dhika membuang nafasnya kasar lalu menjawab "Jangan tanya aku tapi tanya pada dirimu sendiri apa kamu sudah siap? Karena nanti kamu yang akan presentasi!" ucap Dhika tanpa melihat Githa.


"Insyaa Allah saya siap, Tuan. Saya sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari karena saya tahu ini project yang sangat penting untuk perusahaan." jawab Githa tegas namun tetap sopan.


Setelah mendengar jawaban Githa, Dhika pergi berlalu masuk ke ruang istirahat yang ada di ruangannya. Roni menghampiri Githa dan berkata "Apa masih ada lagi yang mau kamu sampaikan?"


"Tidak ada Pak, saya permisi." pamit Githa.


***


Pukul delapan lewat empat puluh menit Dhika, Roni dan Githa sudah sampai di Perusahan KL. Mereka di sambut dengan hangat oleh resepsionis dan langsung di antar ke ruang meeting. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, Ali selaku CEO Perusahaan KL pun datang memasuki ruangan meeting. Ali termasuk golongan pengusaha muda seperti Dhika. Bedanya Dhika mendirikan Perusahaan sendiri kalau Ali menjalankan Perusahaan orangtuanya. Mereka berjabat tangan dan tak lama meeting pun di mulai.


"Terimakasih Pak Dhika, kami terima tawarannya. Kita akan bekerja sama." ucap Ali seraya menjabat tangan Dhika.


Dhika tersenyum paksa karena sedari tadi dia melihat Ali yang masih terus curi-curi pandang terhadap Githa. Tak lama mereka pun pamit undur diri.


Saat akan keluar gedung tiba-tiba Citra sekretaris Ali berlari kecil menghampiri Githa. Ia meminta nomor seluler pribadi Githa dengan alasan ingin berteman. Githa pun dengan senang hati memberikan nomor selulernya karena dia suka berteman dengan siapa pun.


Setelah itu Githa melanjutkan langkahnya. Dhika dan Roni sudah menunggunya di dalam mobil. Di perjalanan Dhika gelisah karena penasaran dengan obrolan Githa dan Citra barusan. Ia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya. Roni yang sedari tadi memperhatikan Dhika langsung paham dengan apa yang membuat sahabatnya itu gelisah. Ia pun inisiatif bertanya pada Githa.


"Kenapa tadi sekretaris pak Ali memanggilmu?" tanya Roni memecah kesunyian.

__ADS_1


"Oh tadi itu dia minta nomor seluler pribadi saya pak." jawab Githa.


"Untuk apa? Trus kamu kasih?" kali ini Dhika yang bertanya, dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"I-iya Tuan. Dia hanya ingin berteman." jawab Githa terbata.


"Bodoh!" balas Dhika kasar. Dia bisa menebak kalau Citra barusan di suruh oleh Ali karena Ali ingin mengenal Githa lebih dekat.


Githa yang terkejut mendengar ucapan Dhika barusan langsung istighfar. Dia mengelus-elus dadanya mencoba menahan emosinya.


.


.


.


Bersambung~~


Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Comment, Rate dan Votenya.


Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.


Terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2