
"Benar yang dikatakan Dhika. Saat ini saya dan Githa hanya berteman karena saya ingin langsung menjadikannya istri bukan pacar," jawab Ali yang membuat nenek semakin yakin dengannya.
Dhika terkejut mendengar jawaban Ali. Ia menatap tajam ke arah Ali dan mengepalkan tangannya. Saat ini dia sangat ingin menghajar Ali namun dia menahan diri karena posisi mereka sedang berada di rumah Githa.
"Nenek bersyukur Githa bertemu dengan laki-laki sebaik nak Ali," ujar nenek terharu.
Brrruuugghh....!
Tak lama mereka dikejutkan dengan suara keras yang berasal dari kamar Githa. Ali segera bangkit dari duduknya lalu berlari menuju kamar Githa tanpa permisi. Nenek dan Dhika pun ikut menyusul Ali.
"Astaga! Githa!" jerit Ali terkejut saat membuka pintu kamar Githa yang kebetulan tidak terkunci.
Githa tergeletak di lantai bersama pecahan beling-beling gelas kaca dan air yang berceceran. Rupanya Githa terjatuh sesaat setelah mengambil air minum diatas meja riasnya.
Ali segera menggendong Githa dan membaringkannya di tempat tidur.
"Mas, tolong selimuti. Saya kedinginan," pinta Githa pelan namun dapat didengar oleh Ali.
Ali mengambil selimut yang terjuntai di lantai lalu menutupi tubuh Githa. Setelah itu dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang, "cepat masuk!" pinta Ali pada seseorang yang ditelponnya.
"Kamu menggigil sayang, kamu lagi demam." ucap Ali seraya memeriksa suhu tubuh Githa dengan punggung tangannya yang ditaruh di kening Githa.
Dhika dan nenek juga terkejut saat melihat lantai kamar Githa yang basah dan dipenuhi pecahan-pecahan beling. Dan yang lebih mengejutkan saat mereka melihat Githa yang terbaring lemah dengan wajah pucat.
"Hati-hati nek, banyak pecahan kaca." ucap Ali mencoba menahan nenek yang berjalan menghampiri Githa.
__ADS_1
Tak lama seorang pria berkaca mata masuk ke dalam rumah tanpa permisi dan langsung menerobos masuk ke kamar Githa dengan tergesa-gesa.
Setelah menghampiri Githa, pria tersebut mengeluarkan alat-alat kedokteran dari dalam tas yang dibawanya lalu segera memeriksa Githa dengan teliti.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ali pada pria berkaca mata tersebut yang ternyata adalah dokter pribadinya.
Dokter tersebut melirik sekilas lalu membereskan peralatan medis yang baru saja digunakannya karena pemeriksaan sudah selesai.
"Dia hanya flu dan masuk angin, akan ku buatkan resepnya. Sepertinya dia juga kelelahan, jadi biarkan dia istirahat. " jawab sang Dokter sambil menggeleng pelan.
"Khawatirmu terlalu berlebihan, Al! Harusnya hari ini aku bisa menikmati liburku dengan bangun siang dan bermalas-malasan." imbuh dokter lagi.
Setelah membuat resep untuk Githa, Dokter berkaca mata yang bernama Bobby pun pamit pulang karena kondisi Githa tidak begitu parah.
Tak lama Dhika masuk dan menghampiri Ali. Dhika berdiri di hadapan Ali dengan wajah kesal.
"Kehujanan? Menangis? Bisa tolong kalian jelaskan sama nenek apa yang terjadi semalam?" tanya nenek dengan penuh penekanan.
"Jadi nenek gak ta..."
"Sssttt...! Kamu dengar kan apa kata dokter tadi? Githa butuh istirahat jadi sebaiknya kita bicara diluar." ucap Ali yang membuat Dhika tidak lagi melanjutkan ucapannya.
Dhika segera keluar dengan tangannya yang masih mengepal.
Nenek mengangguk lalu pergi ke dapur mengambil alat kebersihan untuk membersihkan kamar cucunya.
__ADS_1
Ali memperbaiki posisi selimut Githa agar semua tubuhnya tertutup oleh selimut.
Nenek diam-diam memperhatikan sambili😉 membersihkan pecahan beling dan tumpahan air di lantai kamar Githa.
"Nek, dimana biasanya Githa simpan kaos kaki?" tanya Ali.
"Ada di laci susun itu nak," jawab nenek sambil menunjuk laci plastik tiga susun berwarna ungu muda.
Ali mengambil satu pasang kaos kaki lalu memakaikannya di kaki mungil Githa. Dia ingat tadi Githa bilang kalau dia menggigil. Karena itu Ali inisiatif memakaikannya kaos kaki.
Setelah selesai, nenek dan Ali keluar menemui Dhika yang tengah duduk di ruang tamu.
"Nak Ali, sebenarnya ada kejadian apa tadi malam?" tanya nenek menyelidik.
"Semalam Githa diusir dari mobil oleh orangtua Ali, nek! Aku yakin mereka pasti menghina Githa juga!" ucap Dhika menyelonong.
"Dhika! Nenek bertanya pada Ali, jadi biarkan dia yang menjelaskannya!" sela nenek.
Ali menggeleng pelan melihat sikap Dhika yang masih kekanakan. Dia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan dan setelah itu menjelaskan kronologi yang sebenarnya pada nenek tanpa ada yang di tutup-tutupi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~