
Sepanjang perjalanan Githa terlihat gelisah. Jari-jarinya saling bertautan dan tumit kakinya terus bermain dengan gerakan naik turun. Semua sikap Githa tersebut tidak lepas dari perhatian Ali.
Ali segera menepikan mobilnya dan berhenti. Ali menoleh ke arah Githa yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bingung karena Ali tiba-tiba berhenti.
"Kamu kenapa Gith? Dari tadi mas perhatikan kamu gelisah," tanya Ali.
"Gelisah? Gak kok mas, saya gak kenapa-kenapa," jawab Githa berbohong lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
"Ya udah kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa. Masalah apapun itu mas harap semuanya bisa kamu atasi dengan mudah," balas Ali lagi sambil tersenyum dan kembali menyalakan mobilnya.
"Tunggu mas," tahan Githa saat melihat Ali akan tancap gas.
Ali langsung menghentikan kendaraannya lalu menoleh ke arah Githa dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Sebenernya saya lagi bingung mas. Saya masih terikat kontrak kerja sebelas bulan di Perusahaan tuan Dhika," ucap Githa.
Ali langsung paham duduk permasalahannya setelah mendengar penjelasan Githa.
"Pasti kamu lagi mikirin gimana caranya bayar dendanya karena kamu mau resign? Tenang aja mas bisa bantu kok," balas Ali tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala Githa.
"Eh ehmm jangan mas. Tolong mas jangan mikir macam-macam ya karena saya cerita begini. Saya nggak ada maksud supaya mas bantu bayarin. Nanti saya akan coba bicarakan dengan tuan Dhika lagi. Semoga bisa di cicil," tolak Githa sopan.
"Haha.. Mas memang mau bantu bayarin tapi nggak gratis jadi kamu jangan merasa nggak enak gitu. By the way kalau boleh tau apa sih yang bikin kamu tiba-tiba resign?" tanya Ali hati-hati.
"Nggak gratis? Jadi saya harus balas dengan apa mas? Ehmm.. Saya lagi ngerasa jenuh aja mas pengen istirahat, trus nanti baru cari kerja lagi," jelas Githa.
"Kalau alasannya hanya karena jenuh, lebih baik kamu mengajukan cuti jangan resign." ucap Ali menyarankan. "Kamu bisa membayarnya dengan makan malam bersama orangtuaku. Bagaimana?" Imbuh Ali lagi.
"Saya tetap akan resign mas. Semalem saya udah pikirin semuanya. Untuk apa gaji besar kalau nggak tenang di tempat kerja," jelas Githa.
"Dan... Saya terima tawaran makan malamnya mas," jawab Githa malu-malu.
"Ya udah kalau itu keputusan kamu, mas hanya menyarankan. Sekarang kamu yang tenang ya jangan gelisah lagi. Mas akan bantu kamu." ucap Ali lalu mulai melajukan kendaraannya.
__ADS_1
Githa hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum manis sambil terus menatap Ali yang kembali fokus menyetir.
Terimakasih Tuhan karena udah 'ngirimkan pangeran tampan nan baik hati untukku, batin Githa.
***
Masih sama seperti kemarin, hari ini Dhika kembali mengajak Bella bertemu untuk makan siang bersama. Namun hari ini Dhika bersikap dingin dan terus mengacuhkan Bella yang sedang duduk di hadapannya. Dhika tampak tak selera makan dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ya.. Dhika sedang memikirkan Githa yang untuk pertama kalinya tidak masuk kerja. Sejak pagi tadi dia berusaha menghubungi Githa namun tak ada jawaban.
Bella yang tak berani bertanya hanya bisa mengamati dan bersabar menghadapi sikap Dhika yang seolah tak menganggap keberadaannya.
"Kak, ada yang nelpon tuh." Kata Bella saat mendengar ponsel Dhika yang ada di atas meja berdering.
Dhika yang sedang melamun tidak merespon dan masih tetap menatap kosong ke sembarang arah.
Bella geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dhika yang terus melamun bahkan sampai tidak mendengar ponselnya yang sedari tadi berdering dengan keras.
"Kak, udahan dong melamunnya! Ada yang nelpon nih." Ucap Bella seraya menyodorkan ponsel Dhika dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menepuk pelan bahu Dhika.
"Iya ada apa, Ron?" Tanya Dhika langsung tanpa basa-basi.
"Setelah makan siang langsung kemari ya. Githa sudah datang dan menunggumu ingin pami..." jawab Roni tertahan karena mendengar sambungan teleponnya sudah terputus.
Tut.. tut.. tut..
Dhika berdiri dan langsung berjalan keluar kantin menuju ruangannya dan tidak menyelesaikan makan siangnya. Bella ikut berdiri dan berlari kecil mengejar Dhika yang pergi begitu saja meninggalkannya.
Ada apa dengan kak Dhika ya? Apa ada masalah dengan pekerjaannya? Lebih baik aku ikuti aja dia. Batin Bella yang tak berani bertanya langsung.
***
Dhika memicingkan matanya saat melihat Ali yang sedang mengobrol dengan Githa di ruangannya. Dadanya terasa sesak melihat mereka yang begitu akrab. Terlebih saat melihat sikap Githa yang begitu ramah kepada Ali, orang yang baru saja di kenalnya.
__ADS_1
Untuk apa om-om itu ikut datang kemari. Batin Dhika kesal.
Dhika sengaja berdehem karena semakin kesal melihat Githa dan Ali yang tidak menyadari kedatangannya karena mereka terlalu asyik mengobrol.
Githa langsung menyapa Dhika dan juga Bella. Begitu juga dengan Ali, dia langsung menyapa Dhika seolah tidak ada persaingan di antara mereka.
"Pak Dhika apa kabar? Baru saja kami ingin mengajak anda makan siang bersama tapi sepertinya kami kalah cepat oleh kekasih anda." ucap Ali basa-basi dengan senyum mengejek.
"Benarkah? Tapi maaf walaupun tadi kalian sampai lebih dulu saya pasti menolak karena saya akan kehilangan nafsu makan jika gak makan dengannya, haha.." Balas Dhika dengan tawa yang di paksakan sambil merangkul pinggang Bella.
Bella hanya tersenyum kaku. Dia bingung dengan sikap Dhika yang mendadak berubah drastis. Tapi walau begitu Bella sangat senang dan tidak mau menduga-duga. Dia ingin menikmati setiap momen dengan Dhika sebelum dia pergi keluar negeri.
Githa menggeleng pelan melihat sikap Dhika seperti yang sudah-sudah. Dia tahu benar apa maksud Dhika berkata dan bersikap seperti itu.
Cinta memang bisa membuat seseorang berbuat hal yang tak terduga. Demi membuat Githa cemburu lagi-lagi Dhika memanfaatkan Bella. Namun kali ini sedikit pun Githa tidak merasa cemburu. Entah karena sudah terbiasa atau perasaannya sudah beralih kepada Ali, entahlah Githa sendiri juga tidak mengerti.
"Dhika.. Terimakasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Aku sudah memberikan surat pengunduran diri ku kepada Pak Bayu dan juga sudah menyelesaikan administrasi lainnya sesuai prosedur perusahaan. Maaf karena selama bekerja aku sering membuatmu marah." Ucap Githa lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dhika dengan spontan langsung melepaskan rangkulannya pada pinggang Bella lalu segera memeluk erat Githa. Akhirnya Githa pun menangis karena sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Walau hanya sebentar bekerja di Pelita Group tapi dia banyak mendapatkan pengalaman dan juga ilmu. Para karyawan yang baik dan ramah sudah seperti keluarga kedua baginya. Githa semakin terisak dan membalas pelukan Dhika.
"Jangan pergi Gith," ucap Dhika lirih tanpa melepas pelukannya.
.
.
.
Bersambung~~
Maaf ya readers baru bisa update lagi 🙏 Beberapa hari ini saya sibuk karena banyak kegiatan di dunia nyata, hehe..
Jangan lupa vote, komen dan likenya ya..
__ADS_1
Terimakasih 💕