
Bella menerobos masuk ke ruangan Dhika. Matanya menyorot ke semua sisi ruangan mencari sosok yang di sebut tamu penting Dhika.
"Di mana dia? Di mana kamu sembunyikan wanita itu kak?!" teriak Bella histeris.
Bu Fatma yang melihat anaknya mengamuk seperti ingin makan orang langsung datang menghampiri. Dia memeluk anaknya berusaha menenangkannya.
"Disini tidak ada siapa-siapa sayang. Dhika sangat mencintaimu tidak mungkin ada wanita lain di hatinya." ucap Bu Fatma sambil terus memeluk anaknya. Dia menatap Dhika mengisyaratkan agar Dhika mendekat dan menenangkan anaknya namun Dhika tidak bergeming.
"Dhika..! Kenapa kamu hanya berdiri disitu?! Cepat sini tenangkan Bella!" pinta Bu Fatma penuh emosi. Dia mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan hubungan anaknya.
"I-iya tante." jawab Dhika seraya mendekati Bella yang terus menangis.
"Pulanglah. Tenangkan dirimu. Nanti malam aku akan kerumahmu. Kita selesaikan semuanya disana. Hari ini aku ada banyak pekerjaan. Tolong mengertilah." ucap Dhika. Dia memberikan sapu tangannya namun di tolak oleh gadis itu.
Bahkan sekarang kau tidak mau menghapus air mataku kak! Kau malah mengusirku. batin Bella.
Hatinya terasa sakit. Dhika yang dulu langsung memeluknya, menghibur dan menenangkannya ketika dia menangis, kini tampak acuh. Biasanya Dhika langsung mengusap air matanya tapi kini dia hanya memberi sapu tangannya.
"Kamu jahat kak! Apa salahku sampai kamu tega berbuat seperti ini! Hah?! Kamu jahat! Aku benci kamu kak!" bentak Bella lalu berlari pergi keluar ruangan Dhika.
Bella berharap Dhika akan menahan kepergiannya. Namun Dhika tak bergeming, dia membiarkan Bella pergi begitu saja.
"Dhika..! Cepat kejar Bella!" desak Bu Fatma.
__ADS_1
"Maaf tante ada banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan." tolak Dhika dengan sopan.
"Ada apa sebenarnya dengan kalian! Kenapa sekarang kamu mengacuhkan Bella seperti ini! Pokoknya Tante tunggu kedatanganmu di rumah!" ucap Bu Fatma dengan sorot mata tajam lalu pergi menyusul anaknya keluar.
Dhika duduk lalu mengusap wajahnya frustasi. Dia benar-benar sudah lelah dengan semua ini. Rasanya tidak sanggup kalau harus menunggu empat bulan lagi.
Dhika mengambil ponsel dari saku jasnya, mencari kontak Pak Husen lalu menelponnya.
Tut.. tut..
"Iya, halo Dhika.Tumben kamu nelpon om pagi-pagi gini."
"Ehmm.. Iya om. Ada yang ingin saya bicarakan dengan om. Apa om sedang sibuk sekarang?"
"Ini soal perjanjian itu om. Maaf karena saya sudah tidak bisa melanjutkan semua kebohongan ini om." ucap Dhika pelan namun dapat di dengar oleh Pak Husen.
"Sebenarnya ada juga yang ingin om bicarakan denganmu mengenai itu. Ehm.. Bagaimana kalau nanti siang kita bertemu? Sekalian makan siang."
"Maaf, kalau siang ini saya tidak bisa om. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini. Nanti malam saya ke rumah om. Apa om ada di rumah?"
"Baiklah kalau begitu om akan menunggumu di rumah."
Tut.. tut..
__ADS_1
Pak Husen langsung menutup telponnya. Sepertinya hari yang dia takutkan akan segera tiba. Hari di mana dia akan memberi tahu tentang perjanjian itu kepada Bella. Dia takut anaknya tidak bisa melepaskan Dhika dan berbuat nekat. Dia tahu benar bahwa Bella sangat tergila-gila dengan Dhika bahkan sebelum mereka pacaran.
Ini semua salahku. Aku terlalu menyayanginya bahkan sampai mengorbankan perasaan Dhika demi melihat Bella tersenyum bahagia. gumam Pak Husen.
.
.
.
Bersambung~~
Hai readers perkenalkan saya Deita Ahmad.
Ini adalah novel pertama saya.
Sebagai penulis baru pasti Novel saya masih banyak kurangnya.
Saya butuh saran dan kritik kalian agar bisa menyempurnakan cerita ini.
Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Komen dan Votenya.
Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.
__ADS_1
Terimakasih ❤