
Bu Harnum mengambil tasnya karena mendengar ponselnya berdering. Belum sempat dia meraih ponsel dari dalam tasnya tiba-tiba dering ponselnya berhenti. Ternyata ponselnya kehabisan baterai. Bu Harnum kembali menaruh ponselnya lalu melanjutkan makan malamnya.
Bu Fatma semakin kesal karena sambungan teleponnya yang tiba-tiba terputus. Dia pun memutuskan untuk menghampiri bu Harnum yang berjarak tidak jauh dari mejanya.
"Mama mau ke mana?" tanya Bella ketika melihat mamanya tiba-tiba berdiri.
"Mama ada urusan, mama tinggal dulu sebentar." jawab bu Fatma seraya pergi.
Dhika melihat kepergian bu Fatma yang sedang berjalan menuju ke meja makan Ali dan orangtuanya. Mata Dhika membulat sempurna saat melihat sosok wanita yang di kenalinya sedang ikut makan malam dengan orangtua Ali. Dhika pun langsung berdiri dan beralasan pamit ke toilet. Dia bersembunyi di antara pilar-pilar yang dekat dengan meja Ali agar bisa mendengar percakapan mereka.
"Jeng Harnum, boleh gabung sebentar gak? Saya juga pengen kenalan nih sama calonnya Ali," ujar bu Fatma yang membuat bu Harnum terkejut karena bu Fatma tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.
"Oh boleh dong jeng.. Mari duduk sini," jawab bu Harnum seraya menepuk kursi kosong di sampingnya mengisyaratkan agar bu Fatma duduk di sana.
Githa tersedak saat melihat kedatangan bu Fatma. Dia teringat kembali dengan semua hinaan bu Fatma yang pernah dilontarkan kepadanya.
Ali dengan sigap memberinya minum dan menepuk pelan pundaknya.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Ali khawatir.
Githa hanya menggangguk lalu menunduk, dia enggan mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan bu Fatma.
"Githa kenalin ini tante Fatma teman baik tante," ujar bu Harnum.
Dengan terpaksa Githa mengangkat wajahnya dan mengulurkan tangannya lebih dulu mengajak berjabat tangan dengan tersenyum canggung.
Bu Fatma mengacuhkan uluran tangan Githa dan tersenyum sinis.
"Aku sudah kenal sama dia jeng, dia wanita yang pernah aku ceritakan. Wanita kampungan yang dulu mengejar Bisma," ucap bu Fatma dengan sombong. "Githa! Cepat beritahu dengan jujur seperti apa latar belakang keluargamu, jangan coba-coba menipu keluarga ini!" imbuh bu Fatma.
__ADS_1
Bu Harnum dan Pak Abdul saling berpandangan lalu menatap ke arah Ali dan Githa secara bergantian menanti penjelasan.
Githa menarik nafasnya dalam lalu menjelaskan dengan perlahan.
"Anda benar nyonya, saya memang hanya wanita kampung tapi saya gak pernah menipu siapa pun! Jadi tolong jaga ucapan Anda!" jawab Githa tegas namun tetap sopan.
Bu Harnum memejamkan matanya dan memijat keningnya setelah mendengar penjelasan Githa. Dia merasa bodoh karena sudah salah menilai hanya dengan melihat penampilan Githa yang anggun.
"Sekarang kamu mulai berani ngancam ya! Kamu kira aku gak tahu! Kamu sengaja berpenampilan sedemikian agar bisa mengecoh keluarga Ali kan?! Apa itu bukan menipu namanya?" balas bu Fatma tak mau kalah.
Ali yang sedari tadi geram sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah bu Fatma.
"Saya minta Anda pergi sekarang juga! Anda telah merusak makan malam kami!" pinta Ali dengan lantang.
Bu Fatma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap bu Harnum berharap bu Harnum akan menahan dan membelanya. Namun bu Harnum tidak mau melihatnya dan juga membelanya. Karena tidak ingin di permalukan, bu Fatma pun melangkah pergi dengan senyum angkuhnya.
Setelah bu Fatma pergi, Pak Abdul mulai membuka percakapan.
"Saya baru akan mencari pekerjaan, om." jawab Githa jujur.
"Sebelumnya kerja di mana? Dan apa pendidikan terakhirmu?" tanya pak Abdul lagi bertubi-tubi.
"Saya hanya lulusan Sekolah Dasar," jawab Githa cepat yang membuat pak Abdul dan bu Harnum tercengang.
Ali hanya menyimak karena respon kedua orangtuanya tidak begitu berlebihan. Tapi walau begitu Ali tetap waspada, dia tidak ingin Githa di permalukan.
"Tante ucapkan terimakasih karena kamu sudah mau jujur. Tapi maaf Tante gak bisa merestui hubungan kalian. Kamu hanya gadis kampung dan pengangguran, pasti kamu sering memanfaatkan Ali 'kan?" cela bu Harnum.
Dhika sudah tidak tahan melihat Githa yang mulai di sudutkan. Dia bergerak menghampiri Ali dan orangtua nya.
__ADS_1
"Siapa bilang Githa pengangguran? Githa adalah sekretaris Presdir Pelita Group dan dia salah satu karyawan terbaik kami," sela Dhika tiba-tiba dengan suara keras yang membuat semua mata tertuju padanya tak terkecuali Bella dan kedua orangtua nya.
Ali dan Githa langsung berdiri bersamaan.
"Aku sudah bukan karyawanmu lagi Dhik," jawab Githa tegas.
"Ya benar, kamu gak perlu berbohong untuk menjadi pahlawan kesiangan. Dan ingat, ini semua gak ada urusannya denganmu," timpal Ali kesal.
"Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu biarkan Githa di hina oleh orangtuamu? Hahh?!" tanya Dhika lagi dengan nada lebih keras.
"Cukup Dhika! Jangan mencampuri yang bukan urusanmu! Aku bisa membela diriku sendiri tanpa bantuanmu atau pun mas Ali," bantah Githa dengan suara bergetar.
Ali bukan tidak mau membantu Githa, tapi dia yakin bahwa Githa punya jawaban sendiri atas perkataan orangtuanya terhadapnya. Walau pun masih terhitung baru mengenal Githa, Ali sudah paham apa yang tidak di sukai oleh Githa karena itu dia memilih diam namun tetap waspada.
Bu Fatma dan Bella tak tinggal diam. Mereka segera bergerak menuju tempat terjadinya keributan.
"Ternyata kamu orang yang sama yang waktu itu hampir merusak hubungan Dhika dan Bella?! Dasar wanita murahan! Setelah gagal mendapatkan Bisma, kamu coba mendekati Dhika dan sekarang kamu mulai menggoda Ali! Cih!" hina bu Fatma dengan tatapan membunuh.
Plaaaakk...!
Tamparan keras dari Githa mendarat dengan sempurna di pipi bu Fatma.
.
.
.
Bersambung~~
__ADS_1
Jangan lupa VOTE, KOMEN dan LIKE ya..
Terimakasih 💞