Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Orangtua Bella Bertengkar


__ADS_3

Bu Fatma yang sedari tadi memang sudah duduk di samping Pak Husen penasaran dengan obrolan suaminya dan Dhika di telepon barusan.


"Barusan ngomongin apaan sama Dhika pah?" tanya bu Fatma.


"Biasalah Mah, bahas masalah semalam." jawab Pak Husen sambil memainkan ponselnya.


"Trus tadi mama dengar ada sebut-sebut nama Githa gitu. Emang siapa sih wanita itu pah?" Tanya Bu Fatma pura-pura tidak tahu.


"Papa juga gak kenal. Setahu papa dia akan jadi sekretaris Dhika menggantikan Merlin." jelas Pak Husen.


"Ehmm.. Terus ada perjanjian apa antara papa dan Dhika? Semalam Mama dengar semua percakapan kalian loh." Selidik bu Fatma.


"Perjanjian? Haha.. Mama salah dengar tuh." jawab pak Husen setengah tertawa untuk menutupi keterkejutannya.


"Pah! Jangan lagi rahasia-rahasiaan sama mama. Mama harus tahu apa pun itu terlebih jika itu ada hubungannya dengan Bella anak kita!" tegas bu Fatma sedikit berteriak.


"Mama gak perlu khawatir. Semua yang papa lakukan pastinya untuk kebahagiaan Bella. Mama cukup tahu itu aja ya. Dan satu lagi, tolong rahasiakan semua mama yang dengar semalam. Jangan sampai Bella tahu." ucap pak Husen mencoba menenangkan istrinya yang sudah mulai kesal.

__ADS_1


"Oke kalo papa gak mau beritahu, mama akan tanya langsung sama Dhika!" ancam bu Fatma.


Pak Husen mulai tertekan. Dia mengusap wajahnya kasar lalu memejamkan mata dan memijat-mijat keningnya. Sepertinya ancaman bu Fatma berhasil membuatnya terpancing untuk bercerita.


"Ehmm.. Sebenarnya Dhika gak pernah mencintai Bella mah. Papa minta tolong sama dia untuk pacaran dengan Bella, agar Bella bisa segera pergi keluar negeri untuk kuliah. Papa gak mau Bella terus-terusan menunda kuliahnya karena ingin terus mengejar Dhika. Makanya papa minta tolong sama Dhika untuk berpura-pura selama setahun ini atau paling tidak sampai Bella berangkat keluar negeri." jelas pak Husen sambil tertunduk dalam. Dia menyadari kalau perbuatannya itu salah.


"Kenapa papa gak bicarakan dulu sama mama? Ada banyak cara untuk menyatukan mereka. Gak harus dengan perjanjian bodoh seperti itu pah!" jawab bu Fatma mulai berteriak lagi.


"Maafin papa mah. Papa fikir seiring dengan berjalannya waktu Dhika perlahan akan mencintai Bella. Tapi dugaan papa salah. Semua sikap Bella bertolak belakang dengan Dhika." jawab pak Husen mulai frustasi. Hampir setiap malam dia memikirkan masalah ini. Dia tidak ingin terus memaksakan Dhika, namun di lain sisi dia juga tidak mau anak kesayangannya bersedih.


"Barusan Dhika ngabarin kalo dia mau selesaikan semuanya sesuai dengan perjanjian. Itu artinya kita masih punya waktu empat bulan untuk membujuk Bella agar tetap mau kuliah di luar negeri. Mama mau kan bantu papa? Sementara cuma ini rencana papa."


"Memangnya setelah Bella pergi, apa yang akan papa lakukan?"


"Papa akan menceritakan semuanya setelah Bella sudah sampai di Korea mah. Biar bagaimana pun juga Bella harus tahu tentang kebenaran ini."


"Gak segampang itu pah. Makanya lain kali kalo ada masalah itu di omongin dulu sama mama. Kalo sudah begini akhirnya mama juga yang ikutan pusing kan!" bentak bu Fatma. "Lagian tega banget ya papa! Bella pasti akan sangat sedih. Lalu siapa yang akan menghiburnya di sana? Hahh?! Rencana konyol!" sentak bu Fatma lagi.

__ADS_1


Pak Husen hanya diam. Dia tidak bisa membantah istrinya lagi. Karena semua yang di katakan bu Fatma ada benarnya.


"Maafin papa Bel. Rencana papa gak sesuai harapan. Bukannya membuatmu bahagia, papa malah membuatmu semakin bersedih. Ini semua salah papa. Papa salah karena dari dulu selalu memanjakanmu." gumam Pak Husen Lirih.


.


.


.


Bersambung~~


Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Comment, Rate dan Votenya.


Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.


Terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2