
Nenek Githa gelisah karena sudah pukul sebelas malam tapi Githa belum juga pulang. Berulang kali Leela menghubungi ponsel kakaknya namun tidak terhubung karena ponsel Githa kehabisan daya baterai. Biasanya Githa akan memberi kabar jika akan pulang terlambat.
"Ya Allah lindungilah cucuku dimana pun dia berada," batin nenek gusar.
Badai hujan yang semakin lama semakin deras semakin menambah rasa khawatir nenek Githa. Dia berdiri menunggu diruang tamu sambil sesekali mengintip ke jendela menengok halaman rumahnya.
"Leela, apa kakakmu sudah bisa dihubungi?" Tanya nenek pada Leela yang ikut menemaninya menunggu kepulangan Githa.
"Belum, nek. Lebih baik sekarang nenek tidur biar Leela aja yang nungguin kakak pulang," balas Leela.
"Nenek gak bisa tidur. Gak biasanya Githa seperti ini, nenek khawatir terjadi sesuatu padanya," ujar nenek menduga-duga.
Tak lama kemudian mereka mendengar suara mobil di depan rumah mereka. Nenek dan Leela mengintip di jendela dan benar saja saat ini ada mobil yang dikenalinya sedang parkir di halaman rumah.
"Itu mobil mas Ali, nek!" seru Leela seraya mengambil payung lalu membuka pintu rumah dan berlari kecil menghampiri Githa yang akan keluar dari mobil. Langkah Leela terhenti saat melihat Ali mengeluarkan payung yang lebih besar dari payungnya dan memayungi Githa.
"Uuuwwuu.. mas Ali cowok idaman banget 😍 semoga aja mereka berjodoh," batin Leela kagum saat melihat Ali memperlakukan kakaknya sedemikian.
Nenek yang menunggunya di depan pintu memperhatikan dengan wajah bingung karena melihat Githa memakai baju yang berbeda dengan baju yang dikenakannya saat pergi tadi.
"Assalamu'alaykum, nek.. Maaf saya terlambat mengantar Githa pulang," ucap Ali saat mereka sudah berada diteras rumah.
"Mas.. Ini bukan salah mas kok, jadi gak usah minta maaf," sela Githa.
"Wa'alaykumusalam.. Sudah sudah, ayo masuk dulu nenek bikinkan minuman hangat," ajak nenek seraya masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Ali, Githa dan Leela.
"Ya ampun nak Ali, kenapa bisa basah begitu?" tanya nenek terkejut ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah dan melihat Ali basah kuyup.
"Leela cepat ambilkan handuk dan baju kaosmu yg bagus untuk ganti nak Ali," pinta nenek pada Leela seraya berlalu ke dapur membuatkan minuman hangat untuk Ali.
Leela berbeda dengan Githa yang feminim. Leela sedikit tomboy dan suka pakai baju kaos cowok yang besar dan longgar.
"Dek Leela gak usah ya, ini mas udah mau pulang kok," ujar Ali menahan Leela yang hendak menuju kamarnya.
__ADS_1
"Tapi nanti mas masuk angin loh! Udah nurut aja apa kata nenek," bantah Githa.
"Buruan ambilin handuk dan baju dek!" pinta Githa pada adiknya.
Leela kembali melanjutkan langkahnya dengan berlarian kecil.
Tak lama nenek datang membawa nampan dan cangkir berisi air rebusan jahe dan rempah dan sudah ditambahkan madu.
"Silakan diminum nak Ali mumpung masih hangat," pinta nenek seraya menyodorkan cangkir yang berisikan minuman rempah tersebut.
"Terimakasih nek," jawab Ali lalu menyambut pemberian nenek dan langsung menenguknya tanpa sisa.
Nenek beralih menatap ke arah Githa dan kembali memperhatikan pakaian Githa yang berbeda dengan pakaian yang dipakainya saat pergi tadi. Melihat mimik wajah neneknya yang bingung, Githa langsung paham dan sebelum neneknya bertanya dia langsung menjelaskan.
"Nek, tadi Githa bawa baju cadangan. Saat makan malam tadi baju Githa kena tumpahan minuman berwarna, untung aja Githa udah prepare jadi bisa ganti baju, hehe.." ujar Githa berbohong. Dia tidak ingin neneknya tahu cerita sebenarnya.
Ali menoleh ke arah Githa menggelengkan pelan kepalanya mengisyaratkan agar Githa tak berbohong, namun Githa tidak menghiraukannya.
Tak lama Leela datang membawakan handuk dan baju kaosnya yang masih baru. Beberapa hari yang lalu dia membelinya namun belum memakainya.
Ali menerimanya lalu dia digiring oleh Githa ke kamar mandi.
Sementara nenek kembali ke dapur, dia mengiris bawang merah lalu menaruhnya dipiring kecil setelah itu irisan bawang merah tersebut dicampur dengan minyak angin.
Nenek kembali ke ruang tamu dan mendapati Ali yang sudah selesai ganti baju sedang duduk mengobrol dengan Githa dan Leela.
"Nek, makasih untuk minuman hangatnya. Karena ini sudah larut malam, saya pamit pulang dulu," ujar Ali sopan.
"Jangan pulang dulu," tahan nenek.
"Duduk kembali dan lepas bajumu, nenek mau membalurkan ini ke tubuhmu agar anginnya keluar," pinta nenek seraya menunjuk piring kecil yang dibawanya.
"Terimakasih nek, gak usah repot-repot," tolak Ali sopan namun sang nenek terus memaksa dan membuat Ali terpaksa mengikuti perintahnya.
__ADS_1
Githa dan Leela pamit ke belakang saat melihat Ali hendak melepas bajunya.
"Permisi ya nak Ali," ujar nenek seraya melancarkan aksinya. Dia mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke pundak Ali sambil memijatnya pelan.
Ali begitu tersentuh mendapat perhatian sedemikian. Tiba-tiba dia merasa sedih mengingat sikap mamanya kepada Githa yang bertolak belakang dengan sikap nenek terhadapnya.
Ali menikmati pijatan nenek. Tubuhnya mulai terasa hangat dan tiba-tiba dia merasa ingin buang angin. Dia berusaha sebisa mungkin menahannya agar tidak keluar.
"Kok belum kentut-kentut ya? Kalau sudah kentut pasti akan lebih enakan nak Ali," ujar nenek yang membuat Ali tersentak.
"Jangan ditahan ya nak Ali, dibuang saja gak apa-apa," sambung nenek lagi.
Ali tak menjawab karena fokus menahan gas dalam tubuhnya yang terus memaksa ingin keluar. Dan meski sudah ditahan sebisanya akhirnya dia kalah juga.
Trrrruuuuuutt...
Tttuuuuuutttt...
Ssyyuuuuttt...
Akhirnya gas tersebut keluar bertubi-tubi dengan suara yang cukup keras. Wajah Ali memerah, betapa malunya dia saat ini terlebih saat mendengar suara Githa dan Leela yang tertawa.
"Akhirnya keluar juga anginnya," ujar nenek.
.
.
.
Bersambung~~
Jangan lupa LIKE, KOMEN dan VOTE ya kak..
__ADS_1
Terimakasih 💕