Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Perubahan Sikap Bella


__ADS_3

Githa masih berdiri mematung dan mencerna kata-kata Dhika barusan. Dia membaca ulang pesan-pesan dari Citra dan masih tetap merasa tidak ada yang aneh dengan isi pesan tersebut.


Huhh dasar bos aneh! Masih pagi udah bikin emosi aja! umpat Githa kesal.


Tak lama ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Githa melihat ponselnya dan ternyata itu pesan baru dari Citra.


"Jangan lupa sarapan ya biar semangat kerjanya 😊." ~ Citra.


Githa mengernyitkan dahinya setelah membaca pesan tersebut. Dia mulai penasaran siapa sebenanrnya yang sedang berkirim pesan dengannya. Dia juga masih terngiang dengan perkataan Dhika tadi. Rasanya memang tidak mungkin Citra akan terus-terusan mengiriminya pesan, terlebih lagi isi pesannya penuh perhatian. Karena tidak ingin menduga-duga, Githa memutuskan untuk menelpon Citra.


Tut.. tut.. tut..


Setelah menunggu beberapa saat panggilannya belum juga di terima. Githa semakin penasaran dan akhirnya membalas pesannya.


"Okey, hehe..


Ehmm.. Siang ini bisa ketemu gak?" ~ Githa.


Setelah mengirim pesan Githa membuka laci meja kerjanya lalu kembali menaruh ponselnya disana. Sebentar lagi briefing pagi akan di mulai. Dengan malas ia melangkah menuju ke ruangan Dhika.


"Permisi Tuan, lima belas menit lagi briefing pagi akan di mulai." ucapnya dengan sopan setelah masuk ke ruangan Dhika.


Dhika dan Roni langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju lift di ikuti oleh Githa di belakangnya.


***


Di rumah Pak Husen


Bella dan bu Fatma sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Saat lagi tegang-tegangnya menonton adegan di televisi, mereka di kejutkan oleh deringan ponsel Bella. Bella langsung tersenyum lebar saat melihat ID panggilan masuknya 'Sayang' alias Dhika. Dengan cepat ia menggeser icon warna hijau dan berkata.


"Haloo kak Dhika. Baru aja Bella mau nelpon eh kakak udah nelpon duluan." sapa Bella dengan suara yang di buat-buat.


"Bersiaplah, sebentar lagi Roni akan menjemputmu. Kita makan siang bareng." pinta Dhika tanpa menanggapi perkataan Bella tadi.


"Roni gak usah jemput kak. Ntar Bella naik taksi aja." Tolak Bella sengaja karena ia tidak ingin Dhika berduaan dengan Githa jika Roni menjemputnya.


"Yaudah terserah. Aku tunggu di kantor. Hati-hati di jalan." ucap Dhika dan langsung memutus sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban Bella dulu.


Bella tersenyum kecut. Sikap Dhika yang cuek semakin membuatnya tertantang. Kini Bella sudah tidak cengeng lagi, bahkan dia sudah terbiasa dengan sikap Dhika yang terkadang mengacuhkannya.

__ADS_1


"Apa Dhika mengajakmu makan siang lagi?" Tanya bu Fatma sambil menatap anak kesayangannya.


"Iya mah, akhir-akhir ini kak Dhika selalu ngajak bertemu. Yaa walaupun saat sedang bersama dia sering cuekin Bella tapi gak masalah yang penting Bella berada di dekatnya." ucap Bella tersenyum.


"Hemm.. Apa mungkin dia sengaja melakukan itu karena sebentar lagi kamu akan pergi keluar negeri." ucap bu Fatma menduga-duga.


Bella tersentak mendengar dugaan mamanya barusan. Dia tidak pernah berfikir sampai kesitu bahkan lupa dengan perjanjian Papanya dan Dhika yang diam-diam sudah lama di ketahuinya. Seketika raut wajahnya berubah, Bella yang tadinya tersenyum kini nampak sedih dan murung.


"Sayang.. Kau kenapa? Apa perkataan mama barusan membuatmu bersedih?" Tanya bu Fatma sambil mengusap lembut rambut Bella.


Bella mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca namun sebisa mungkin di tahannya agar tak menangis. Ia berusaha tegar di hadapan mamanya namun bu Fatma tahu persis apa yang sedang Bella rasakan saat ini.


"Sekuat apapun di pertahankan jika memang bukan jodoh pasti akan berpisah, begitu pun sebaliknya. Jadi mama harap Bella bisa ikhlas dan gak berbuat macam-macam." ucap bu Fatma pelan namun masih bisa di dengar oleh Bella.


Bella menoleh menatap bu Fatma yang duduk di sampingnya. Bibirnya mulai bergetar dan tak lama ia menangis sejadinya. Air matanya sudah tidak dapat di bendungnya lagi. Ia memeluk bu Fatma dan menumpahkan semuanya di pelukan mamanya.


Pak Husen yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka pun datang menghampiri. Hatinya begitu sakit melihat anak kesayangannya mengerang sambil memegangi dadanya.


"Semua ini salah papa. Seharusnya papa gak perlu buat perjanjian seperti ini." ucap pak Husen lirih.


"Berhenti menyalahkan dirimu pah. Yang paling penting sekarang adalah kita harus menguatkan Bella anak kita." bantah bu Fatma.


"Bella pamit ke kamar dulu mau ganti baju. Kak Dhika pasti udah nungguin Bella." Imbuhnya lagi seraya pergi ke kamarnya.


Pak Husen dan Bu Fatma saling berpandangan melihat sikap anaknya yang berubah lebih dewasa. Biasanya Bella akan merengek tapi kali ini dia tidak melakukannya dan berusaha tegar.


"Syukurlah Bella mengikuti saran mama beberapa waktu lalu untuk berubah agar bisa mendapatkan hati Dhika. Walaupun Dhika masih gak bisa mencintai anak kita, setidaknya Bella sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik." ucap bu Fatma.


***


Sesampainya di kantor Dhika, Bella tidak langsung menghampiri Dhika. Dia pergi ke toilet dan berkaca memperhatikan matanya apakah masih terlihat sembab atau tidak. Namun walaupun sudah di tutupi dengan make up ia masih terlihat seperti habis menangis. Akhirnya Bella pun pasrah lalu keluar dari toilet dan menaiki lift menuju ke lantai delapan tempat di mana ruangan Dhika berada.


Saat sampai di lantai paling atas, tampak Dhika dan Roni tengah berjalan keluar ruangannya. Bella melambaikan tangan lalu menghampiri mereka.


"Maaf ya kak, Bella telat datangnya." ucap Bella lalu segera tunduk menyembunyikan wajahnya.


"Iya, gak apa-apa kerjaanku juga baru aja selesai. Ayo kita pergi sekarang." ajak Dhika.


Bella mengangguk lalu menggandeng tangan Dhika yang masih berstatus kekasihnya. Dhika tersenyum kecil dan tak menolaknya.

__ADS_1


Roni menolak saat di ajak oleh Bella. Dia sengaja ingin memberikan ruang untuk Dhika dan Bella yang sebentar lagi akan berpisah.


Ketika sudah di luar gedung, nampak Githa sedang berdiri seperti menunggu seseorang. Dhika hanya melihatnya sekilas lalu segera masuk ke mobilnya yang sudah terparkir disana. Berbeda dengan Bella, untuk pertama kalinya ia datang menghampiri Githa dengan tersenyum ramah.


"Hai Githa, sedang apa disini?" Tanya Bella dengan sopan.


Dhika segera membuka jendela mobilnya ketika melihat Bella menghampiri Githa. Ia penasaran dengan apa yang sedang Bella bicarakan. Karena jarak mereka tidak begitu jauh, Dhika dapat mendengar semuanya dengan jelas.


"H-hai.. Aku lagi menunggu teman. Kami akan makan siang bareng dan sekarang dia lagi di perjalanan menjemputku." jawab Githa canggung dan membalas senyuman Bella.


"Oh gitu.. Yaudah aku pergi dulu ya, kak Dhika udah nungguin tuh." balas Bella lagi seraya pergi meninggalkan Githa.


***


Epilog


Ali tersenyum saat melihat panggilan telepon dari Githa. Dia sengaja tidak mau menerimanya karena ingin memberi kejutan.


Dia pasti mulai curiga kalau bukan Citra yang berkirim pesan dengannya. gumam Ali pelan.


Setelah ponselnya berhenti berdering, tak lama ada pesan baru masuk dari Githa.


"Okey, hehe..


Ehmm.. Siang ini bisa ketemu gak?" ~ Githa


Ali tersenyum kecil membaca balasan pesannya. Sepertinya dugaannya benar. Dia pun segera membalas pesan tersebut.


"Bisa banget. Ntar biar aku jemput ya sekalian kita makan siang di tempat favorite ku. Dahh.. Sampai ketemu nanti siang 😊." ~ Ali


.


.


.


Bersambung~~


Jangan pelit-pelit kasih vote poinnya yaa kak, hehee.. Terimakasih 💕

__ADS_1


__ADS_2