
Malam hari Githa sedang duduk santai di teras rumahnya dengan Leela. Akhir-akhir ini mereka jarang mengobrol karena Githa yang sudah mulai sibuk bekerja. Dulu, biasanya setelah Leela pulang sekolah mereka selalu menghabiskan waktu bersama entah itu memasak, beres-beres rumah, atau kegiatan lainnya. Namun sekarang setelah pulang kerja Githa langsung pergi mandi membersihkan diri lalu istirahat. Begitu juga dengan Leela, dia giat belajar karena melihat kakaknya yang semangat bekerja untuk membantu mewujudkan cita-citanya.
"Gimana sekolahmu? Apa masih ada yang gak mau temenan sama kamu?" Tanya Githa sambil menatap hangat pada Leela.
"Ehm... Setelah mereka lihat Leela pakai tas dan sepatu bermerek yang kakak belikan, ada beberapa orang yang mulai mendekat kak. Cuma gak Leela hiraukan karena tahu mereka semua gak tulus dan pilih-pilih teman." jawab Leela.
"Leela juga gak perlu pakai barang-barang bermerek kak. Binar dan Akira udah cukup bikin hari-hari Leela happy saat di sekolah. Mereka emang teman yang terbaik." imbuh Leela lagi.
"Iya kakak tahu kok. Tapi gak apa-apa juga kan kalo kakak belikan yang bagus. Anggap aja itu kado atas prestasimu selama ini. Kakak juga gak mau kalau kamu sampai di hina lagi sama yang lain sayang." ucap Githa lembut sambil mengelus pundak adiknya.
"Makasih ya kak. Leela janji gak akan kecewain kakak dan lulus dengan nilai yang memuaskan." jawab Leela semangat.
"Sama-sama sayang. Emang udah jadi kewajiban kakak untuk memenuhi segala kebutuhanmu dan bikin kamu bahagia." balas Githa seraya mengelus puncak kepala Leela.
Bahkan kakak janji pada diri sendiri gak akan menikah dulu sebelum kamu benar-benar udah bisa mandiri. batin Githa lalu mengajak adiknya masuk karena udara di luar sudah semakin dingin.
***
Githa sudah selesai melakukan ritual sebelum tidurnya yaitu mencuci muka, sikat gigi, dan memoles skincare di wajahnya serta membalurkan handbody ke seluruh tubuh untuk perawatan kulitnya. Semua kebutuhannya yang dulu tidak terpenuhi kini sudah bisa dia penuhi karena sekarang sudah berpenghasilan.
Sebelum naik ke tempat tidur dia mengambil ponselnya yang berada di laci meja rias dan mengeceknya. Ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan baru dari nomor yang sama tetapi nomor tersebut tidak di kenalnya. Karena penasaran dia segera membuka pesan baru tersebut.
__ADS_1
"Malem Githa.. Ini aku, Citra sekretaris pak Ali. Save nomorku ya 😊."
Oh.. Ternyata Citra. gumam Githa tersenyum lalu membalas pesannya.
"Malem.. Okey udah aku save ya. Sorry baru bales tadi ponselnya ku tinggal di kamar."
Setelah membalas pesan Citra, Githa kembali meletakkan ponselnya di meja riasnya lalu naik ke tempat tidur dan tak lama ia pun tertidur.
***
Ali yang sedang bersantai di sofa yang ada di kamarnya langsung menyambar ponselnya ketika ada tanda pesan masuk. Dia tersenyum saat membaca pesan masuk.
Ali bangkit dari sofa lalu pindah ke tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamarnya dan sepintas teringat kembali pertemuannya dengan Githa siang tadi. Sejak pertemuan itu, Githa terus mengganggu pikirannya. Baru kali ini dia terpesona pada pandangan pertama.
***
Epilog
Saat akan meninggalkan ruang meeting, Ali memanggil Citra yang sedang membereskan berkas-berkas penting di atas meja.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Citra setelah menghampiri Ali.
__ADS_1
"Cepat kejar Githa sebelum dia pergi. Minta nomor seluler pribadinya tapi jangan bilang saya yang memintanya." pinta Ali sambil menunjuk ke arah Githa yang sedang berjalan keluar gedung.
Citra yang paham akan maksud bosnya langsung berlarian kecil mengejar Githa dan sedikit berteriak memanggilnya. Ali memperhatikan mereka dari kejauhan. Setelah berhasil mendapatkan nomor selular Githa, Citra segera memberikannya pada Ali.
"Thanks, kamu memang selalu bisa ku andalkan." ucap Ali tersenyum.
"Sama-sama Pak, itu bukan apa-apa." jawab Citra.
Setelah itu Citra melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dia ikut senang melihat bosnya yang sepertinya sudah mulai membuka hatinya lagi.
.
.
.
Bersambung~~
Jangan lupa di vote ya kak..
Terimakasih 💕
__ADS_1