
"Dhika! Lancang sekali kau! Jangan karena sekarang kau atasanku lantas bisa berbuat sesukamu!" ucap Githa kesal. Walaupun ada sedikit rasa senang tapi dia juga tidak suka Dhika berbuat seperti itu saat statusnya masih punya pacar.
Seandainya kamu jomblo mungkin aku tidak akan semarah ini. Aku hanya tidak mau nantinya di anggap perusak hubungan orang! Huh! batin Githa
"Sorry Git sorry.. Tadi kamu menggemaskan sekali. Aku jadi gregetan deh. Tapi gak ada maksud atau niatan macam-macam kok. Jangan marah ya cantik." jelas Dhika dengan sedikit gombalan.
"Hemmm.. Mulai sekarang aku akan mengikuti perintahmu untuk urusan pekerjaan saja! Kita harus profesional. Dan satu lagi, perlakukan aku sama seperti karyawanmu yang lainnya. Deal?" tanya Githa.
"Haha.. Jadi sekarang kau yang membuat peraturan?" Dhika bertanya balik.
"Deal atau tidak?!" tanya Githa tegas.
"Hemm.. Oke deal! Ini pertama kalinya bos mengikuti perintah bawahannya. Haha konyol sekali." Dhika tertawa tapi juga agak dongkol karena itu artinya dia tidak bisa lagi memanfaatkan keadaan.
Githa diam tak menanggapi lagi.
Aku harus bisa mengendalikan perasaan ini. Kau benar-benar telah membuatku baper Dhik. Perhatianmu, tingkah lakumu, kau sangat baik dan peduli padaku. Kalau saja mencari pekerjaan itu mudah, aku tidak akan bekerja di perusahaanmu walau pun upahnya sangat besar. batin Githa.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di mall. Githa tampak bingung karena sekarang mall tersebut sudah banyak berubah. Terakhir dia datang berkunjung delapan tahun lalu, itu pun di ajak oleh orang tua Dhika saat mereka masih bertetangga dulu.
"Ayo masuk. Nanti kau langsung pilih saja ya. Aku mau ke toilet dulu." kata Dhika.
"Aku menunggumu saja. Kita pergi bersama. Aku baru datang kemari lagi setelah delapan tahun lamanya. Aku bingung harus mulai dari mana. Haha.." jawab Githa malu-malu sambil mengikuti Dhika dari belakang.
"Baiklah. Aku tidak akan lama. Ayo sini jalan beriringan denganku." balas Dhika.
Githa langsung berlarian kecil berjalan di samping Dhika. Pelan-pelan Dhika memengang tangan Githa lalu menggenggamnya. Githa yang masih kebingungan tidak menyadarinya.
__ADS_1
Sepanjang jalan memasuki mall semua mata tertuju pada mereka. Mereka tampak seperti pasangan kekasih yang sangat serasi. Walaupun mengenakan pakaian santai, Dhika tetap terlihat gagah dan tampan. Begitu pun dengan Githa, tanpa make up pun kecantikannya tetap terpancar.
"Duduklah di sini. Aku akan ke toilet sebentar saja." kata Dhika sambil menunjuk ke arah toilet yang tidak jauh dari tempat duduk tersebut.
"Okey. Santai saja, tidak usah terburu-buru. Haha.." jawab Githa santai.
Sambil menunggu, Githa memainkan ponselnya. Dia melihat jam ponselnya dan sudah hampir jam delapan.
Tak lama Dhika datang menepuk bahunya "Ayo. Dua jam lagi mallnya akan tutup." ajak Dhika.
"Cepat sekali." balas Githa sambil berdiri dan mengikuti langkah Dhika.
"Belilah beberapa kemeja, rok dan celana untuk bekerja. Janga lupa tas, sepatu dan juga jam tangan. Dan beli keperluanmu yang lainnya juga." ucap Dhika sambil perlahan mencoba menggenggam tangan Githa lagi. Namun kali ini Githa menyadari dan langsung menghempaskan tangannya lalu memberi jarak.
***
Selera berpakaiannya bagus juga, berkelas. Warna-warna yang dia pilih sama seperti warna kesukaanku. batin Dhika.
Tak sampai satu jam Githa sudah selesai memilih pakaiannya. Dia menghampiri Dhika dan mengajaknya ke kasir. Saat mengantri di kasir Dhika memeriksa lagi satu per satu baju yang di pilih Githa.
"Ada yang kurang Git. Karena besok hari pertamamu, kau harus memakai kemeja warna putih. Ayo pilih lagi masih ada waktu." pinta Dhika.
"Iya aku sudah tau. Tadi siang Bayu sudah memberitahu semuanya dengan detail dan aku mengingat semuanya. Aku punya kok kemeja warna putih." balas Githa.
"Belilah satu lagi. Ayo aku temani." pinta Dhika sambil memegang pundak Githa dan mendorongnya pelan.
Githa menuruti saja. Ia memilih dengan cepat karena memburu waktu. Dan akhirnya dapat. "Yang ini sepertinya bagus. Tunggu sebentar ya aku mau mencobanya dulu." jawab Githa.
__ADS_1
Dhika mengiyakan dan mengikuti Githa yang menuju kamar ganti lalu menunggu di depan pintu.
Tak lama pintu terbuka "Dhik, gimana menurutmu? Bagus gak?" tanya Githa.
Mata Dhika terbelalak. Ia terus melihat ke bagian dada Githa.
Indah sekali. Nampak begitu bulat dan padat. Ah pikiran kotor apa ini! batin Dhika segera tersadar.
"Jawab donk Dhik! Gak bagus ya?" Githa bertanya lagi.
Dhika langsung mendorong Githa pelan dan menutup pintunya. "Ganti yang lebih tebal Git, itu terlalu tipis." jawab Dhika.
Tak lama terdengar suara teriakan Githa. Dia kaget saat berkaca melihat bra nya yang berwarna hitam tampak jelas terlihat karena baju yang ia pilih sangat tipis. Karena memburu waktu tadi dia tidak berkaca dulu malah langsung meminta pendapat Dhika.
"Git, kamu gak apa-apa kan? Aku akan pergi mengantri di kasir. Masih ada waktu, pilihlah yang lebih tebal." ucap Dhika lalu segera pergi ke kasir.
Githa tak menjawab. Dia sangat malu karena kejadian barusan. Tak lama dia pun keluar dan langsung menuju kasir menghampiri Dhika yang sedang mengantri. Dia memberikan kartu kredit yang di berikan Dhika tadi siang. "Kamu yang bayar ya. Aku gak ngerti gimana caranya membayar dengan kartu ini, hehe." ucap Githa berusaha santai dan berharap Dhika tidak membahas kejadian tadi.
"Eh, i-iya." jawab Dhika terbata karena masih terbayang kejadian tadi.
Selesai membayar mereka berjalan keluar menuju parkiran. Tak lama Dhika melihat Bella dan mamanya yang baru saja keluar dari food court. Dhika langsung menghentikan langkahnya dan menahan Githa lalu membalikkan badannya membelakangi Bella dan mamanya. Githa juga ikut berbalik bukan karena melihat Bella tapi karena kaget melihat tante Fatma alias mamanya Bella.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~~